Husnun D. Djuraid, antara Sejarah, Buku dan Nasib Penulis


Yunan Syaifullah *)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang


MENULIS sosok tentang Husnun D. Djuraid tidak mudah. Terlebih sosok ini telah menjadi tokoh. Menulis seorang yang terlanjur disebut tokoh memiliki kompleksitas sendiri. Harus pandai-pandai mencari sudut pandang yang tak bisa dilihat oleh media atau bahkan penulis lainnya. Ada banyak sumber yang bisa dan mampu menjelaskan bisa jadi lebih banyak mengenai sosok Husnun D. Djuraid. Sumber itu tak lantas harus dikunyah dan dikutip habis.
Tanpa sadar proses pencarian ide dan pengembangan inilah, ilmu dan pengalaman empiris seorang Husnun berjumpa dengan penulis sekian tahun silam saat buku yang ditulisnya meminta, bisa dikatakan sedikit memaksa kepada penulis untuk menyuntingnya. Permintaan itu terjadi dan justru berada di tempat yang tidak biasa sebagai layaknya ruang ide dan gagasan, yakni Stadion Gajayana. Dimana, kami berdua sering berjumpa dan diskusi banyak hal saat menonton sepak bola. Khususnya, saat Arema bertanding di kompetisi profesional.
Saat menerima tawaran itu, sesungguhnya penulis itu ragu. Mengingat, pengalaman sebagai penulis belum selama sosok Husnun D. Djuraid. Terlebih dirinya adalah seorang wartawan senior di salah satu media tertua di Jawa Timur. Saat itu, penulis sudah menyampaikan alasan itu kepada dirinya. Jawabnya, singkat. “Saya membutuhkan tangan dingin dan pikiran dari orang lain yang lintas profesi, agar bisa objektif.”  Penjelasan dirinya, membuat luluh penulis dan akhirnya melakukan saja permintaannya tanpa ada pertanyaan apapun berikutnya.
Tidak dalam waktu lama, akhirnya buku yang disunting penulis dapat diselesaikan. Lalu, buku itu oleh penulis diberi judul Dasar-Dasar Penulisan, yang diterbitkan UMM Press. Buku itu digunakan sebagai pegangan wajib bagi mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi FISIP UMM dan program studi Bahasa Indonesia FKIP UMM yang menempuh mata kuliah Dasar-Dasar Penulisan. Kebetulan, mata kuliah itu diampu oleh Husnun D. Djuraid di kampus UMM selama sekian tahun lamanya sebagai dosen tamu dan praktisi. Menariknya, buku itu menembus angka hampir 1000 eksemplar. Angka yang fantastis untuk daya edar buku kuliah.
Selepas buku itu, Husnun D. Djuraid masih rajin dan teratur menulis buku. Setiap buku yang diterbitkan selalu dikirimkan ke alamat rumah penulis. Hingga saat ini, penulis masih menyimpan dengan baik 5 buku karya Husnun D. Djuraid di ruang perpustakaan pribadi.
Mengenang Husnun D. Djuraid, seperti mengingatkan kembali tentang sosok Fernando Baez, penulis buku Penghancuran Buku, dari masa ke masa, seolah menjadi pintu yang membangkitkan gelisah dan pertanyaan bagi diri penulis. Mimpi lama yang terkubur sekian lama seolah bangkit kembali saat membaca pikiran Husnun D. Djuraid dan Baez tentang buku, sejarah dan nasib penulis.
Butuh waktu lama dan harus baca berulang-ulang untuk mencerna dan mencermati pikiran Baez dalam buku itu. Di saat mulai menemukan inti pikiran Baez, tiba-tiba pikiran lari dan melayang jauh, pada tahun 1990an terurai kembali.
Memori 1990an berkaitan dengan pergumulan ide dan pikiran yang tertanam pada diri aktivis. Tiapkali pergumulan dimulai, terlahir aneka ragam semangat berpikir kreatif. Diskusi, debat, aksi serta refleksi menjadi menu yang selalu dilalui. Sabanhari, seolah ada keinginan berburu buku, mencari kabar kegiatan diskusi, seminar dan sejenisnya untuk memenuhi dahaga ide dan wacana.
Karena itu, tiapkali ada pertemuan berupa diskusi atau apapun selalu tidak pernah disia-siakan untuk hadir dan menyimak. Suatu ketika dalam pertemuan antara para fungsionaris mahasiswa dan aktivis, Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang, Muhadjir Effendy, kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era pemerintahan Joko Widodo, mengemukakan bahwa sejarah yang bisa dibuat oleh para aktivis takkala dirinya mampu berkarya.
Karya yang memiliki sejarah adalah karya yang bisa dan mampu dipertanggung-jawabkan. Hal itu tidak lain adalah karya tulis.
Karena itu, menurut Muhadjir, sebaik-baiknya aktivis adalah aktivis yang memiliki kemampuan menulis. Seorang aktivis yang hanya memiliki kemampuan bicara tanpa ditunjang oleh kemampuan menulis, maka aktivis itu hanya menjadi aktivis yang biasa saja.
Saat aktif dalam penerbitan kampus, Koran Bestari pada tahun 1990an, intensitas untuk bertemu, bincang dan diskusi dengan lelaki ini makin tinggi. Terlebih, Muhadjir kala itu menjadi Pembantu Rektor III dan sekaligus sebagai pimpinan umum Koran Kampus Bestari. Kesempatan untuk ketemu yang makin tinggi inilah makin bias mengetahui lebih dekat kebiasaan lelaki itu. Salah satunya, yang selalu diperhatikan meski dengan diam-diam, yakni kebiasaan mengoleksi buku dan membaca buku.
Berangkat dari kebiasaan mengamati sosok Pembantu Rektor III dan berbagai koleksi bukunya itulah semangat untuk mencari berbagai informasi tentang buku dan kegiatan diskusi lainnya yang dipergunakan dalam menambah dahaga ide, wacana makin terus menguat. Kebiasaan itu lalu dilanjutkan dengan belajar sedikit demi sedikit melakukan ringkasan gagasan yang diperoleh dari  buku yang telah dibaca maupun hasil kegiatan diskusi yang diikuti.
Kebiasaan inilah yang mengantarkan pada kemampuan menulis pada suatu ide dan gagasan tertentu dibangun perlahan.
Jamaludin Al Afghani, pemikir Islam, mengemukakan bahwa salah satu tugas utama intelektual adalah keberanian untuk melakukan pembaruan pemikiran untuk menghindari kejumudan dan kebuntuan peradaban pemikiran.
Karena itu, seorang intelektual adalah sosok yang sebisanya mengalami kegelisahan agar bisa membangun pertanyaan dan pemikiran. Bagai lentera yang selalu bisa menyinari kegelapan untuk membawa jalan terang melalui sejumlah pertanyaan dan pemikiran.
Gagasan tentang lentera dalam diri seorang intelektual, seperti yang diutarakan Prof Malik Fadjar dalam berbagai kesempatan, khususnya saat bincang – bincang dengan sejumlah aktivis di kampus putih pada tahun 1990an, sering memberikan lontaran dan suntikan moral yakni dengan kalimat “Sebaik –baiknya orang adalah orang yang selalu gelisah. Karena dari kegeli-sahan itu muncul pertanyaan untuk menemukan jalan keluar.”
Kalimat itu begitu membekas hingga kini. Bisa jadi, kalimat itu yang menjadi kekuatan dalam membelokkan pilihan–pilihan aktivisme penulis terhadap ketertarikan di dunia intelektualisme.
Meski pilihan dan ketertarikan dalam dunia intelektualisme, jauh sebelumnya tidak terbayang dan terpikir sekalipun untuk lebih menekuni secara lebih jauh hingga hari ini. Bisa jadi, hanya soal waktu dan pergaulan dengan berbagai unsur dan kelompok yang akhirnya menenggelamkan penulis dan akhirnya memaksa diri penulis untuk belajar banyak hal di dunia intelektualisme. Lontaran ide dan spirit itu membekas begitu lama. Bahkan hingga saat ini.
Pikiran intelektualisme, religiusitas itulah yang ditinggalkan sosok Husnun D. Djuraid dengan cara dirinya melalui profesi yang ditekuni sebagai penulis yang bersahaja dan rendah diri.
Selamat jalan, Mas Husnun D. Djuraid. Sahabat yang selalu mengingatkan tentang kebaikan!