Jurnalis Harus Jujur


Ditakut-takuti hingga didemo. Menjadi pengalaman berkesan bagi wartawan senior Husnun N Djuraid. Wartawan senior Jawa Pos yang kini menjadi komisaris Malang Post ini membagikan ceritanya saat masih berjibaku di lapangan menjadi wartawan.
“Pernah menulis soal anggota dewan yang jadi calo tiket. Lha besoknya kantor di demo orang-orang banyak,” kenang Husnun sambil tertawa kecil menceritakan pengalaman bertahun-tahun silam saat masih menjadi Pimred Malang Post.
Ia menjelaskan saat itu Arema bertanding di Stadion Gajayana. Penontonnya ribuan melebihi stadion tetapi panitia tak banyak mendapat keuntungan. Saat ditelusuri itulah diketahui ada calo tiket. Bandarnya diduga anggota legislatif. Saat berita diturunkan maka massa datang, mereka tidak terima.
“Ya tapi semuanya akhirnya bisa diselesaikan dengan baiklah,” ungkap pria yang juga pengurus KONI Kota Malang ini.
Husnun punya banyak kisah sebagai wartawan senior. Termasuk sekitar 20 tahun silam, saat ia masih menjadi wartawan Jawa Pos di Semarang. Salah satu karya jurnalistiknya yang diingat terus yakni mengungkap hilangnya seorang pengusaha kaya di Semarang.
Ternyata kasus tersebut ada sangkut pautnya dengan keluarga Cendana pada saat itu. Setelah diselidiki olehnya, pengusaha ini memiliki masalah utang. “Waktu itu ya saya liput mulai dari hilangnya pengusaha itu. Sampai akhirnya saya dapat informasi dia bukan hilang tetapi ‘diambil’. Saya tulis terus sampai teman-teman lain bilang saya harus hati-hati saja. Tapi saya cuek saja dan tulis,” kenangnya.
Husnun terus menulis berita tersebut berminggu-minggu hingga akhirnya mendapatkan sebuah undangan. Undangan ini berasal dari perusahaan milik pengusaha yang hilang tersebut. Undangan itu berisi acara serah terima perusaahan dari pengusaha yang semula diamankan ke keluarga Cendana.
Pria yang juga dosen ini menceritakan hal menarik lainnya. Ia sempat satu bulan berada di Afrika Selatan. Saat itu ia meliput Piala Afrika. “Saya di sana sebulan. Tak punya teman. Kata orang hotel jangan keluar sendirian takut banyak kejahatan,” ceritanya. Pasalnya saat itu, politik apharteid (pemisahan berdasarkan warna kulit) baru dihapus dan kriminalitas di Afrika meningkat.
Akan tetapi Husnun yang memang pemberani ini tetap saja keluar sendirian. Ia tidak dapat membendung rasa penasarannya keliling di negara orang daripada hanya memikirkan ketakutan yang belum tentu adanya.
Hal ini pun terbukti karena selama di sana ia baik-baik saja. Sampai akhirnya di minggu kedua kawan pers lainnya dari Tabloid Bola datang meliput juga. “Pernah juga dulu saat meredaksi ada salah tulis. Lalu kita digeruduk satu sekolahan protes,” kenangnya.
Meski begitu Husnun menjelaskan pengalam itulah yang menjadikan seseorang semakin mengenal lingkungan, mengenal orang dan pekerjaannya. Di Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, ia berpesan jika seorang jurnalis harus jujur.
“Karena media selalu dibutuhkan. Insan pers dapat menjadi guidance bagi masyakarat. Masyarakat perlu dibimbing dengan kebenaran dan kejujuran,” pungkasnya.  (ica/van)

Berita Lainnya :