Ki Ageng Gribig, Kakek Senopati Sultan Agung


Gribig sebagai pintu masuknya Islam di Malang Raya yang menjadikan Makam Ki Ageng Gribig sebagai tujuan pertama Ekspedisi Panatagama. Terletak di ruas jalan Ki Ageng Gribig Kelurahan Madyopuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, tempat ini tidaklah sulit diakses. Tim ekspedisi bersama dengan Arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono mengulik informasi di lokasi itu.
Mengapa kemudian makam ini memiliki peran penting penyebaran Agama Islam di Malang Raya? Dwi Cahyono, menjelaskan awal perkembangan Islam di beberapa daerah termasuk di Malang diawali atas latar belakang politis pada zamannya. Yakni dengan tujuan ekspansi kekuasaan.
Dwi menegaskan, bahwa Gribig sendiri diyakini sebagai murid salah satu tokoh penting di Surabaya dan Gresik yang lebih dulu mengenal ajaran Islam, yaitu Syekh Manganti. Gribig pun diperkirakan merupakan santri yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam ke pedalaman Malang. Dwi menjelaskan jika Syekh Manganti merupakan paman dari Sunan Prapen yang di dalam legenda dikatakan sebagai Sunan Giri. Dwi menyebut ada Gribig Senior dan Yunior.
“Yang saya maksud senior makamnya bisa jadi satu di sini, atau juga ada di belakang komplek ini di Gang Sate (Makam Mbah Sembodjoe). Itu yang kali pertama membuka jalan Demak masuk untuk ekspansi. Dulu mau ekaspansi Kerajaan Sengguruh sebagai kantong terakhir kerajaan Hindu,” tegas Dwi.
Oleh Syekh Manganti, Gribig diminta membantu Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak Bintoro. Tugas Gribig adalah menjadi “intelejen” meruntuhkan Kerajaan Sengguruh yang merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di nusantara.
Informasi yang diperoleh Gribig disampaikan ke Kesultanan Demak. Mulai dari aktivitas pasukan Kerajaan Sengguruh, jumlah pasukan, serta perencanaannya. Tujuannya, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan. Di sini ia kemudian membuka pemukiman yang berada di wilayah yang saat ini berada di kawasan Madyopuro tersebut.
Jadi Dwi menegaskan, bahwa Gribig senior ini adalah peletak Islam di era awal. Sedangkan Gribig yunior, merupakan penerus penyebaran Islam di era perkembangan.
“Perkembangan ajaran Islam dimulai di era Ekspansi Kasultanan Mataram tepatnya di era Sultan Agung (Raja Ketiga Mataram berjaya di masa tahun 1600-an, red) ke wilayah yang dulu disebut Brang Wetan atau Bang Wetan yakni Jawa Timur,” papar Dwi.
Dalam narasi di Babad Kutho Bedah, ditampilkan beberapa tokoh penting utamanya yang bernama Panji Pulangjiwo dan istrinya yang terkenal heroik bernama Proboretno yang keduanya melakukan perlawanan akan ekspansi Kerajaan Mataram pada saat itu. Yang makamnya ada di Kepanjen saat ini.
“Kalau Gribig Yunior, itu juga utusan tapi eranya sudah berbeda. Ia masuk ke era Mataraman. Setelah Malang di ekspansi Mataram ditunjuklah Ki Ageng Gribig ini untuk menjaga. Sekaligus menyebarkan agama Islam,” paparnya.
Makam Gribig Yunior inilah yang kemudian menjadi kompleks Malam Ki Ageng Gribig yang saat ini ramai dikunjungi.

Berita Lainnya :