Libatkan Pakar, Kuak Islamisasi di Malang Raya


MALANG - Ekspedisi jurnalistik “Panatagama” Malang Post dibahas dalam “Ngaji Sejarah Edisi Ramadan” Mula Islamisasi Malang Raya di Museum Mpu Purwa, Sabtu (11/5). Ekspedisi yang menguak sejarah perkembangan Islam di Malang Raya dari berbagai sisi dibahas tuntas para pakarnya.
Dalam acara yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang ini,
Redaktur Pelaksana Malang Post, Bagus Ary Wicaksono menjelaskan kesan dan pengalaman unik dari ekspedisi mencari asal mula perkembangan Islam di Malang Raya.
“Ya mulai dari yang astral sampai omongan turun temurun ada hal-hal menarik yang membuat kami belajar atau menyadari sesuatu. Sebelumnya tidak pernah ada di literatur tulis,” kata pria yang akrab disapa Bagus ini.
Ia sempat menceritakan saat tim ekspedisi Malang Post berkunjung ke Makam Mbah Bodo di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Saat itu penjaga makam menceritakan salah satu pesan terakhir Mbah Bodo yang menarik bagi tim ekspedisi.
Dikatakan pesan terakhir dari sosok Mbah Bodo, ia memberikan pelajaran sederhana hidup mengangakat falsafah salam salat.
“Jadi katanya, dunia ini kalau mau melakukan sesuatu pakai salam salat saja mudahnya. Kalau mau selesai salat kan pasti menoleh kanan-kiri. Disini diajarkan jika mau menolong ataupun mempertahitkan sesama, tolonglah terlebih dahulu yang ada di kanan-kirimu. Sederhana sekali tapi kena buat saya,” papar Redpel Malang Post asal Blitar ini.
Ia pun menceritakan, eksepedisi Panatagama memiliki tim ahli seperti budayawan dan sejarawan kondang Malang, M Dwi Cahyono. Perjalanan tidak hanya di Kabupaten Malang, tetapi juga sampai di jejak Islami di Kota Malang, seperti Makam Ki Ageng Gribig dan juga sampai ke Kota Batu.
Ahli sejarah Universitas Negeri Malang Dr. M. Najib pun juga ikut menceritakan tentang darimanakah sebenarya jejak Islami pertama tumbuh di tanah Jawa, salah satunya ada di wilayah Malang.
Selain itu Pokdarwis Makam Ki Ageng Gribig M Devi Arif yang turut memberikan paparannya. Dijelaskannya, Makam Ki Ageng Gribig merupakan komplek makam yang ia yakini sebagai salah satu pilar perkembangan Islam di Malang.
“Ada banyak versi memang. Nama Gribig sendiri saya yakini sebuah pangkat atau sebutan gelar pemuka agama pada zamannya. Dan disini pun menjadi makam Gribig itu baik yang sebutannya Ki Ageng Gribig, Kiai dan Nyai Kurung Agung sampai Kiai dan Nyai Lembu Lemburo,” tandasnya.
Tidak hanya itu juga sejarawan Kota Malang M Dwi Cahyono pun juga memberikan waktunya menjelaskan sejarah dan penelitiannya tentang jejak perkembangan Islami di Malang melalui periodeisasi waktu. (ica/aim)

Berita Lainnya :