Mbah Aruman Mataram, Pengembang Islam Tlogomas


Kawasan Tlogomas Kota Malang yang memiliki sebuah kawasan kecil lainnya yang disebut Karuman ternyata menyimpan penggalan sejarah perkembangan Islam awal di Kota Malang. Hal ini berkaitan dengan salah satu tokoh yang disebut Mbah Aruman, yang makamnya di kawasan Situs Karuman, di Tlogomas Gang 8 Kota Malang.
Mbah Aruman disebut sebagai salah satu tokoh yang melakukan Islamisasi bagi penduduk di Dusun atau Desa kuno Karuman yang kini menjadi kawasan Tlogomas. Sejarawan Kota Malang M. Dwi Cahyono menjelaskan, sejak Hindu – Buddha, Desa Karuman merupakan desa berdikari yang dipengaruhi Hindu-Buddha.
“Referensinya Desa atau Dusun Karuman ini disebut dalam Kitab Pararaton. Disebut di sana Ken Arok memiliki ayah angkat yang sangat ia hormati berasal dari Karuman. Maka Ken Arok memberi anugerah status Sima pada Desa Karuman,” jelas Dwi.
Maka sejak saat itu Karuman dipandang bukan sebagai desa atau dusun biasa. Karena pada saat itu zaman Ken Arok, diperkirakan Desa Karuman berasal dari Masa Kerajaan Singosari. Indikasi lainnya adalah adanya penemuan tiga jenis artefak yang berasal dari Kerajaan Singosari.
Yakni Fragmen Arca Siwa, Fragmen Arca Durga dan fragmen reruntuhan siwa lagi. Jika Karuman sendiri merupakan kawasan dusun besar yang dipengaruhi Hindu-Buddha, bagaimana saat ini mayoritas penduduk beragama Islam?
Inilah yang dapat dikaitkan dengan sosok Mbah Aruman. Makam Mbah Aruman, ditemukan di kawasan Situs Karuman. Di mana makam ini menunjukkan ciri-ciri makam khas umat Islam.
“Tentu makam ini muncul belakangan. Tapi makamnya ini membujur dari utara ke selatan. Terdapat nisan dan jiratnya. Ini khas umat Islam,” jelasnya.
Kemudian, oleh warga sekitar Mbah Aruman merupakan sosok yang diyakini mengharumkan nama Karuman. Maka disebut sebagai Mbah Aruman. Akan tetapi, menurut Dwi, yang dimaksud “mengharumkan” ini bisa saja bukan istilah mempopulerkan nama Karuman akan tetapi sesuatu yang lain atau sosok yang “membuka” lahan.
Bisa jadi, mengharumkan disini adalah memperkenalkan hal lain atau hal baru. Misalkan, agama Islam. Di sinilah kemudian Dwi mencari tahu informasi lain.
“Jadi saya sempat mencari tahu ke juru makam yang sangat sepuh, tapi sekarang sudah meninggal. Beliau bilang Mbah Aruman ini adalah pendatang berasal dari Mataram,” cerita Dwi membagikan pengalamannya mencari tahu sosok Mbah Aruman.
Akan tetapi jika memang Mbah Aruman ini berasal dari Mataram, Dwi mempertanyakan dan masih mencari tahu dari era kesultanan Mataram manakah sosok Mbah Aruman ini hadir. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat dimunculkan adalah berkaitan dengan era Untung Suropati atau era Diponegoro.
Karena, lanjut dosen UM ini, jika memang berasal dari dua era ini kemungkinan besar Mbah Aruman merupakan eks dari laskar Untung Suropati atau Diponegoro ataupun bisa jadi sanak keturunan keduanya.
“Jadi jelas kalau memang benar, Mbah Aruman, berasal dari era perkembangan Islam awal,” paparnya.
Kemungkinan lain, kehadiran Mbah Aruman yang disebut berasal dari Mataram juga dipengaruhi oleh eksodus besar-besaran pada era Mataraman. Yang memang saat itu penduduknya sudah memeluk agama Islam.
Yang kemudian Mbah Aruman menetap di kawasan tersebut dan menjalankan kebiasaannya sebagai umat muslim. Bisa jadi Mbah Aruman lah yang memegang peran Islamisasi warga Karuman yang saat ini menjadi Kawasan Tlogomas tersebut.
“Kemudian pada perkembangannya ia menjadi tokoh yang dituakan atau dihormati karena memperkenalkan hal baru. Bisa jadi ajaran Islam itu. Lalu disebut Mbah Aruman karena berkaitan dengan kawasan itu, Karuman. Karena lidah orang jawa biasanya latah saja (pelafalannya,red) menyebut seorang yang dituakan agar lebih gampang dikeang maka jadi Mbah Karuman, kemudian jadi Aruman,” pungkasnya.(ica/ary)

Berita Terkait