Mbah Mangku Djati, Penyebar Islam Periode 1600-an


Syeh Maulana Rosidul Ibad merupakan salah satu tokoh di Malang Raya. Memiliki trah Majapahit, pria yang dikenal nama jawa R. M. Partowirjo ini tak sekadar menjadi salah satu tokoh babat alas. Tapi pria yang juga memiliki julukan Mbah Waliyullah atau Mbah Mangku Djati ini juga disebut-sebut sebagai tokoh penyebar agama Islam.
Paling tidak hal ini yang diceritakan oleh Tomo Budiman, juru kunci makam umum, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis. Mbah Tomo begitu Tomo Budiman akrab dipanggil menyebutkan, jika Mbah Mangku Djati menyebarkan Islam di Malang Raya pada tahun 1600 an. Dari mana Mbah Mangku Djati berasal, dan kemana saja dia melakukan penyebaran, Mbah Tomo mengaku tidak banyak tahu.
"Mbah Mangku Djati menyebarkan Islam pada tahun 1600 an, mungkin saja sebelum itu. Sedangkan Pangeran Diponegoro, menyebarkan Islam pada tahun 1700 an," tambahnya.
Selama menyebarkan agama Islam, Mbah Mangku Djati tidak sendirian, tapi dia didampingi oleh Waringin Djati. Dan kedua tokoh inipun di makamkan di tempat pemakaman yang sama. Mbah Tomo mengatakan, jika di makam Mbah Mangku Djati tak pernah sepi dari peziarah. Bahkan sejak dia menjadi juru kunci di pemakaman tersebut tahun 2004 hingga sekarang selalu melihat makam ini di kunjungi peziarah, untuk berdoa.
"Setiap hari minimal 10 orang datang ke sini. tapi jumlahnya akan banyak saat Malam Jumat legi,atau tanggal 1 Suro, dan malam tahun baru," katanya.
Orang yang datang  berziarah pun bukan hanya dari Malang. Tapi juga banyak dari mereka yang datang dari luar daerah.
Meskipun berada di TPU, namun makam Mbah Mangku Djati cukup mudah ditemukan. Itu karena makam Mbah Mangku Djati berada di dalam rumah.  Di dalam rumah tersebut, makam Mbah Mangku Djatim dikelilingi kain kelambu. Tapi demikian, orang yang datang, dan ingin berdoa di pusara tokoh agama ini diperbolehkan.

"Sebelumnya sudah dibangun rumah, kemudian dibongkar, dan tahun 2010 lalu kembali dibangun," kata Mbah Tomo.
Layaknya makam para tokoh pada umumnya, nisan Mbah Mangku Djati tak dibiarkan telanjang. Tapi ditutup kain warna putih. Kain itu selalu diganti oleh Tomo setiap dua minggu sekali.
Lantaran kerap mengganti kain penutup nisan, dan membawa pulang kainnya, Mbah Tomo pun tak jarang didatangi sosok Mbah Mangku Djati. Dia menyebutkan, Mbah Mangku Djati. Memiliki sosok tubuh tak terlalu tinggi. Dan dagunya ditumbuhi jenggot putih yang lebat.
"Dalam mimpi saya beliau menggunakan pakaian serba putih. Tidak sekadar datang, beliau juga kerap memberikan pesan," katanya. Tapi demikian, Mbah Tomo juga enggan menguraikan pesan apa yang disampaikan Mbah Mangku Djati. Alasannya, dia khawatir salah mengartikan," urainya. Karena jika informasi salah disampaikan, maka bencana akan diperoleh.
"Tapi sudahlah, intinya seperti itu, beliau adalah penyebar agama Islam," tambahnya.
Di area makam Mbah Mangku Djati sendiri tidak banyak properti yang ditemukan. Hanya saja di dinding terdapat dua plakat. Salah satu plakat keterangan identitas Mbah Mangku Djati. Sementara di sekitar makam juga dipasang karpet, yang menjadi alas para peziarah saat berdoa di area makam. Menurut Mbah Tomo, peziarah datang tidak hanya siang hari, tapi juga banyak yang datang di malam hari.(ira/ary)

Berita Terkait