Melihat Ritual Entas-Entas di Ngadas


MALANG - Japamantra dan rapalan doa memulai ritual Entas-Entas Suku Tengger di Desa Ngadas, Poncokusumo, Sabtu (4/5). Ini merupakan salah satu ritus yang paling sakral.  
Entas-Entas dipercaya masyarakat Tengger di Ngadas sebagai ritual penyempurnaan dan mengantar  arwah kerabat yang telah meninggal dunia. Tujuannya agar diterima Yang Maha Kuasa.
Ritual Entas-Entas kali ini, dipimpin Dukun Desa, Mbah Sutomo dan Mbah Senetram. Didampingi tiyang sepuh Sukarto dan legen (sebutan tokoh adat Tengger yang belum pernah ikut Entas-Entas), bernama Purwanto.
Ada 21 nama warga yang sudah meninggal, diikutkan dalam ritual Entas-Entas. Dengan iringan gending Ketawang yang diartikan mengantar arwah menuju awang-awang, rangkaian ritual tidak dibatasi waktu.
"Entas-Entas, tidak selalu harus 1000 hari atau 100 hari setelah meninggal. Ketika anggota keluarga sudah mampu melaksanakan upacara, bisa digelar," kata Dukun Desa suku Tengger Ngadas, Mbah Sutomo kepada Malang Post.
Dalam ritual Entas-Entas, rangkaiannya dimulai dengan ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan dan bawahan. Pada awal ritual, dukun desa merapal mantra didampingi sesepuh dan legen sembari menghadap hasil bumi seperti jambe, jeruk, pisang, ayam, kelapa, beras dan hasil bumi lainnya. Sementara, tuan rumah Winarto dan Riani beserta sanak keluarga, duduk di belakang area ritual, dikelilingi warga Tengger setempat.
Setelah doa, sesepuh desa membawa beras lalu membagikannya kepada tuan rumah serta sanak famili dari 21 arwah yang akan dientas. Legen juga mengikat tali ke pergelangan tangan kanan tuan rumah dan keluarga. Sementara, dukun desa menuju pawon atau dapur, untuk menyelamati bahan makanan dan alat masak.
Usai rangkaian awal selesai, prosesi dilanjutkan dengan pemanggilan arwah untuk singgah di petra. Yakni boneka yang terbuat dari berbagai bahan. "Boneka petra itu dibuat dari daun klotok, janur, andong, bunga senikir, putihan, menjari dan tanah layu," kata tiyang sepuh Sukarto. Petra dipercaya warga setempat sebagai medium sementara bersemayamnya atma atau arwah leluhur dan orang yang sudah meninggal sebelum diantarkan sesepuh ke Ndhanyangan, tempat sakral bagi suku Tengger di Ngadas.
Ndhanyangan, dipercaya warga Tengger Ngadas sebagai jembatan mengantarkan arwah di dalam petra, menuju nirwana. Sesepuh desa, sudah memegang nama 21 orang yang dientas atau masuk dalam daftar 'munggah'. Yakni, Mulaseh, Kairon, Sauri, Suoso, Poninten, Kemen, Bejo, Paimo, Wage, Joko Hadi Nursilo, Temon, Marsini, Satuyar, Jumani, Rusiah, Liwat, Buartini, Liwati, Liwati, Partini dan Liwati. Ada pula lima nama yang berada di daftar 'undangan'.
Dalam upacara Entas-Entas,  arwah  diwakili saksi, yang masih anggota keluarga, maupun sanak famili.  Saksi wanita memakai kemben, sementara saksi pria hanya pakai celana, duduk mengelilingi hasil bumi sesajian Entas-Entas. Hasil bumi serta ternak kambing yang sudah disembelih, diambil dari atap kediaman tuan rumah, lalu ditata secara rapi dan keliling. Mereka menghadap kepada pemangku adat yang bersiap menjalankan ritual.
"Mereka ditutupi kain putih, sewek mulyo yang panjang. Jika yang dientas wanita, maka yang duduk di depan petra juga harus wanita, begitu juga sebaliknya," kata Mbah Sutomo. Petra, ditempatkan di dalam kuali di depan para saksi upacara Entas-Entas. Mbah Sutomo, memegang cawan kuningan, merapal mantra dan doa, sembari membunyikan lonceng.

Berita Lainnya :