Miris Lihat Jenazah di Pinggir Jalan


PALU – Masyarakat Malang yang berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah masih bertahan di pengungsian dengan kondisi seadanya. Arek Malang di Palu, tetap bertahan di kamp pengungsian darurat yang terbuat dari terpal dan tenda dadakan. Mereka juga masih menunggu bantuan yang datang ke Palu, untuk menjaga keberlangsungan hidup di antara puing-puing reruntuhan.
Estu Ardi Wibowo, 21, warga Jalan Lembu, Kelurahan Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan, mengatakan belum ada kesempatan bagi warga Malang untuk saling berkomunikasi secara intens di Palu. “Kami belum terkoneksi dengan kemungkinan warga Malang lain di Palu. Sampai saat ini, masih 20-an yang terus komunikasi,” ujar Ethus, sapaan akrabnya kepada Malang Post, kemarin.
Pasalnya, komunitas suporter Aremania yang berada di Palu, masih terbatas dengan jumlah puluhan orang tersebut. Ethus meyakini ada warga Malang lainnya yang ada di Kota Palu maupun Donggala. Tapi, sampai saat ini pihaknya masih kesulitan mendeteksi keberadaan warga asal Malang.
Keterbatasan akses jalan dan sinyal komunikasi adalah alasannya. “Komunikasi dan akses jalan masih terbatas sekali,” tambahnya. Jalanan di kawasan Kota Palu, terbelah hingga satu meter, dengan kedalaman setengah meter. Patahan jalan yang seperti lubang memanjang ini, memutus jalur transportasi di Kota Palu.
Ethus mengirimkan video gambar dari Kota Palu lewat WhatsApp setelah dia berhasil menemukan sinyal. Dari kiriman video tersebut, Ethus bersama suporter Aremania lainnya, mengendarai motor sambil menunjukkan situasi terkini kawasan Kota Palu. Termasuk, menunjukkan kondisi patahan jalan yang hanya bisa disambungkan dengan sebuah papan.
Jalan yang patah-patah disambung dengan papan supaya sepeda motor bisa lewat. Sedangkan, mobil tidak akan bisa melintasi jalur seperti ini. Jalur jalan yang hancur lebur, terbentang di antara puing bangunan yang miring karena pondasi yang rontok, atau gedung yang sudah rata dengan tanah. Tiang-tiang listrik bergeletakan.
Di menit ke tiga dari video ini, Ethus merekam sebuah pemandangan getir di jalanan Kota Palu. Dua mayat terhampar di pinggir jalan dengan penutup kain. Dua jenazah ini diletakkan di depan rumah dan dikelilingi oleh warga. “Pemandangan yang memilukan, kami berduka sekali melihat kondisi yang seperti itu,” kata Ethus.
Sampai saat ini, seluruh warga Malang yang merantau di Palu, masih belum ada kesempatan untuk pulang kampung. Karena, kondisi transportasi di Kota Palu yang masih terbatas dan sangat langka. Sehingga, warga Malang di Palu memilih berkumpul dan bertahan bersama-sama, sembari mencari makanan dan minuman setiap hari.
“Kami tentu berharap bantuan ke Kota Palu bisa semakin banyak, makanan, minuman, obat-obatan dan terpal sangat vital di sini,” tambahnya lagi. Sementara itu, Polres Malang Kota menggelar salat ghaib di masjid dalam untuk mendoakan masyarakat Palu dan Donggala yang menjadi korban bencana.
“Salat ghaib digelar di masjid Polres Makota, untuk mendoakan warga yang menjadi korban bencana,” tutur Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni, kemarin.(fin/ary)

Berita Lainnya :