Nisan Istimewa di Komplek Makam Ki Ageng Gribig


Ada hal yang menarik perhatian Tim Ekspedisi Panatagama Malang Post bersama Sejarawan M. Dwi Cahyono di Komplek Makam Ki Ageng Gribig. Yakni keindahan bentuk nisan di makam Gribig. Terutama nisan milik Bupati Malang Pertama Raden Tumenggung Notodiningrat I atau Raden Adipati Panji Wilasmoro Kusumo. Ia memerintah mulai tahun 1819 sampai 1839.
Setidaknya terdapat empat nisan yang memiliki ragam hias ukir yang unik. Pertama pada nisan makam Bupati Malang pertama. Jika diperhatikan nisan pada makam ini memiliki dua sumbu, di bagian kepala juga di bagian kaki.
Pola nisan seperti ini sudah sangat jarang ditemukan. Di kedua sumbu nisan ini pun masing-masing nisannya pun berukir dan terbuat dari Kayu Jati. Kayu Jati dikatakan Dwi juga merupakan bahan lumrah yang digunakan sebagai penanda nisan di jaman dulu untuk menandakan pemakaman orang penting.
“Selain karena dari Kayu Jati, kalau dilihat dari ukirannya pun juga tidak biasa. Benar-benar menandakan orang ini penting,” tegasnya.
Bentuk nisan Bupati Malang I ini berukuran lebih besar daripada nisan pada makam-makam di Komplek Makam Ki Ageng Gribig lainnya. Nisan berbentuk lancip dengan bentuk vertikal, yang biasanya menandakan hubungan manusia dengan penciptanya.
Kemudian ditambahkan pula pola seperti penyangga dibawahnya. Pola lancip tadi pun juga dapat dikatakan sebagai sebuah antefix yang bisa ada di candi-candi. Kemudian untuk pola ukirnya sendiri pun juga menunjukkan sebuah informasi.
“Jadi di nisan Bupati Malang pertama unsur-unsur bunga teratai sangat terlihat. Diujung lancipnya ada seperti bunga teratari yang kuncup. Teratai pada jamannya dianggap sebagai tanaman suci. Kemudian ujung bunga ini dibuat seperti mahkota,” jelas pria yang juga dosen sejarah di Universitas Negeri Malang ini.
Dikatakannya, ragam ukir di nisan Makam Bupati Malang I ini sangat kaya. Hal ini juga menandakan betapa pentingnya orang yang dimakamkan di sana. Semakin raya ragamnya, maka semakin menarik perhatian siapapun yang melihat. Karena memang dibuat seperti itu untuk mengingat betapa penting tokoh tersebut.
Sementara itu pola lain juga ditemukan di komplek Makam Bupati II, yakni sebuah nisan yang juga memiliki pola ukir yang kaya. Akan tetapi sedikit berbeda pola ukirnya.
“Nah kalau yang di Makam Bupati II, ini menandakan informasi jika yang dimakamkan di sana adalah seorang perempuan. Yang tentunya tokoh penting juga, mungkin seorang ibu, istri atau siapapun,” tegasnya.
Hal ini dikatakan Dwi, karena perbedaan ukir nisan ini ada yang membentuk pola seperti alat kelamin perempuan. Berbeda dengan nisan makam Bupati I, yang semua pola berbentuk lancip dan tegak ke atas.
Nisan yang berada di Makam Bupati II lebih “feminin”. Nisan tersebut memiliki pola seperti kuncup bunga yang hendak berkembang menyerupai alat vital perempuan. Kemudian di sekelilingnya juga diberikan pola bunga-bunga.
“Juga polanya seperti kurung kurawal, lebih melengkung banyak dari pada makam tokoh laki-laki yang lurus dan tegak,” jelas Dwi.
Ia menjelaskan nisan dengan pola ukir yang kaya dan beragam ini memiliki ukuran lebih besar dari kebanyakan nisan di komplek tersebut. Dan terbuat dari 3 bagian. Pertama bagian dasar nisan, lalu bagian tengah seperti pembatas yang memiliki pola antefix, dan ketiga pola terakhir yakni kemuncak atau ujung atasnya.
Selain dua nisan dengan pola ukir paling jelas terlihat, terdapat juga beberapa makam yang memiliki ukir yang lebih sederhana pada nisannya. Salah satunya yang berada di luar komplek makam mantan bupati, yakni Nisan Makam tokoh yang disebut Untung Suropati. Berada di sebelah komplek makam utama Ki Ageng Gribig dan Nyai Ki Ageng Gribig.
Nisan ini memiliki pola ukir lebih sederhana, karena tidak memiliki tiga bagian. Pada nisan ini, yang juga terbuat dari kayu, memiliki ukuran sedang seperti nisan pada umumnya. Akan tetapi memiliki pola ukir hampir sama dengan yang ada di nisan Bupati Malang pertama, yakni pola lancip tegak vertikal.
“Tapi tidak ada pola ragam hias bunga-bunga. Hanya saja seperti segitiga ke atas dan diberi pola lebih sederhana saja,” tegasnya.(ica/ary)

Berita Terkait