Raden Panji Umaro, Mbah Banten Ulamanya


Ada cerita lisan menarik antara Raden Panji Pulangjiwo dan Masjid Besar Salafiyah, sebagai masjid tertua di Kepanjen. jika masih ada nama Panji Pulangjiwo, masanya tentu tetap di era Sultan Agung 1613 – 1645. Sesuai catatan sejarah, setahun setelah berkuasa, Sultan Agung langsung mengutus penaklukan di brang wetan termasuk Malang pada 1614.
Sebelumnya juru kunci Makam Raden Panji Pulangjiwo, yakin bahwa masjid tersebut didirikan oleh Raden Panji. Sebaliknya, Takmir Masjid meyakini bahwa pembangunan masjid itu dimulai ketika era Belanda (bisa VOC atau bahkan Inggris). Namun, sejauh ini sesuai fakta sejarah VOC baru berdiri tahun 1602 dan hingga 1611 Inggris masih bercokol di Jepara dan sekitarnya.
Raden Panji sendiri disebut berhubungan dengan masjid itu, dalam kapasitasnya sebagai Umaro (pemimpin pemerintahan). Menurut Ketua Takmir, H. Zainul Arifin, Masjid Salafiyah ini, ada sebelum zaman Belanda. Masjid tersebut dibangun oleh seorang tokoh ulama asal Banten, yakni Mbah Sayudin.
"Bangunan Masjid Salafiyah ini, sebelum direnovasi sangat kuno. Bangunannya mirip Masjid yang ada di Kudus. Pembangunannya hampir bersamaan dengan Masjid Jami di Kota Malang," ungkap H. Zainul Arifin.
Dugaan tim ekspedisi, pertama, yang dimaksud dengan pembangunan bersamaan Masjid Jami Malang, mungkin maksudnya adalah renovasi. Kedua terkait kedatangan tokoh Banten ke Malang, bisa saja terjadi selepas Banten diserbu VOC pada 30 Mei 1619.
H. Zainul Arifin hanya menyebut bahwa Mbah Sayudin, adalah seorang ulama yang pergi merantau dari daerahnya. Kemudian membangun Masjid Salafiyah bersama dengan saudaranya. Pembangunan Masjid Salafiyah, dulu dilakukan dengan cara kuno dan sederhana.
"Dinding Masjid pada waktu itu, hanya tumpukan batu bata yang ditambal dengan tanah liat. Sebab saat itu, masih tidak ada semen. Meskipun dari tanah liat, namun bangunan dindingnya sangat kokoh," terangnya.
Pernah pada suatu hari, ketika Belanda menjajah, mimbar tempat imam dilempar bom oleh tentara Belanda. Namun bangunan tidak hancur dan roboh, karena bom tidak berfungsi atau mati.
"Dulu orang dari berbagai daerah seperti Gondanglegi, kalau mau salat Subuh ya ke Masjid Salafiyah ini. Mereka jalan kaki dengan membawa obor," ucapnya.
Zainul juga mengatakan, bahwa keberadaan Masjid Salafiyah ini, memang sangat kental dengan Raden Panji Pulangjiwo. Saat mengajarkan agama Islam pada pengikutnya, Raden Panji Pulangjiwo menggunakan Masjid Salafiyah tersebut. Hanya seperti apa teknik dan cara penyebaran Islam, tidak ada saksi hidup yang bisa menceritakan.
"Raden Panji Pulangjiwo ini adalah seorang Umaro. Sedangkan Makam Mbah Sayudin sendiri, berada di pemakaman umum Jalan Kauman Kepanjen," bebernya.
Ditambahkannya, bahwa Raden Panji Pulangjiwo, adalah sosok tokoh Umaro yang berhati baik. Pendiam dan sangat sabar. Karenanya Raden Panji dulunya sangat disegani, dan kini makamnya sangat dikeramatkan sama seperti makam Mbah Sayudin.
Sementara itu, Kisah Raden Panji Pulangjiwo ini juga amat dahsyat. Tentu cerita masih berupa tradisi lisan dari juru kunci makam Suwarno (64 tahun). Raden Panji datang ke Malang (Kepanjen, red) pada masa Kerajaan Sengguruh, atau yang  dikenal dengan nama Kadipaten Malang. Kedatangannya ke Malang ada dua versi, yakni sebagai pedagang serta sebagai pengungsi. Mengungsi karena adanya peperangan antar saudara yang terjadi di Madura.
"Raden Panji Pulangjiwo, tidak mau adanya keributan. Dia pergi ke Malang untuk mencari situasi yang aman dan menenangkan diri," ujar Suwarno.
Setelah Malang dirasa aman, Raden Panji lantas mengajak semua teman-temannya untuk hijrah ke Malang. "Raden Panji ini orangnya tidak suka ada pertengkaran. Hidupnya ingin selalu damai," tuturnya.
Menurut Mbah No, Raden Panji Pulangjiwo, akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang memiliki kecantikan, yakni Putri Proboretno. Dia adalah putri dari Kadipaten Malang. Raden Panji tertarik dan ingin mempersuntingnya.
Putri Proboretno, menyatakan mau. Asalkan Raden Panji bisa mengalahkan Sumolewo, yang diakui sebagai calon suaminya. Pertarungan antara Raden Panji Pulangjiwo dengan Sumolewo pun terjadi. Sumolewo, kalah dan mati. Jenazahnya lantas di makamkan di daerah Japanan, Surabaya.
Setelah mengalahkan Sumolewo, Putri Proboretno, tidak langsung menepati janjinya. Tetapi masih beralasan akan Tapa Brata dulu sebuah gua di Buring (berada Kecamatan Kedungkandang, red). Tak lama kemudian, akhirnya Raden Panji Pulangjiwo bisa menjadikan Putri Proboretno sebagai istrinya.