Ribuan Motif Batik Tersebar di Malang Raya


MALANG - 2 OKTOBER merupakan Hari Batik Nasional. Ramai-ramai berbusana batik pada peringatan UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi pada 2009 itu. Malang Raya merupakan kawasan  kaya motif batik. Di Kabupaten Malang misalnya terdapat ribuan motif batik. Begitu juga Kota Malang dan Kota Batu punya ciri khas masing-masing.
Dunia batik tak sesempit lembaran kain. Setiap motif dan pemilihan warna punya kedalaman filosofi. Ciri dan karakter sosial di setiap wilayah jadi inspirasi lalu digambarkan melalui goresan motif.
Kabupaten Malang tercatat kaya motif batik. Saat ini terdata 90 motif batik resmi yang sudah dipatenkan. Bahkan bisa bertambah lebih banyak lagi. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Malang, Made Dewi Anggraeni mengatakan,  pihaknya memang mencoba memaksimalkan potensi masyarakat.  Diawali pelatihan membatik yang diikuti perwakilan tiap kecamatan, muncullah sejumlah motif tersebut.
“Saat pelatihan pertama, ada 135 motif yang kami daftarkan untuk dipatenkan sebagai motif khas Kabupaten Malang. Sudah 90 yang diterima dan kini akan bertambah lagi,” ujarnya.
Menurut dia, medio Agustus lalu, 1.258 motif diciptakan oleh peserta pelatihan membatik. Setelah itu, mereka dipersilahkan mewujudkan motif tersebut dalam desain dan bakal dipatenkan pula. “Saat ini sudah masuk 310 motif. Semua bagus-bagus, sesuai dengan karakter atau apa yang menonjol di wilayah mereka,” beber Made kepada Malang Post.
Misalnya, dari wilayah Pakisaji, yang memiliki motif batik Pakis Agung. Motifnya diberi nama Pakis Agung. Batik dengan dasar warna gelap, bermotifkan floral. Desain batik Pakis Agung dipadukan dengan pemilihan warna terang seperti oranye dan putih, berukuran setengah lingkaran, yang menutupi motif daun.
Ada pula motif Selamat Pagi Indonesia dari Kepanjen. Dengan corak yang ramai dan didominasi motif floral, terlihat beberapa bunga matahari mengelilingi satu matahari besar di tengah. “Ini berarti Selamat Pagi, Indonesia. Ide mereka sangat bagus, hasilnya juga bagus,” terangnya.
Di wilayah Kecamatan Turen terdapat beberapa motif. Di kelurahan atau desa tertentu, membuat motif pohon tebu. Di tempat lainnya, membuat motif Bunga Ambon. Motif tersebut terinspirasi, karena di wilayahnya terdapat pabrik kue yang memproduksi Kue Ambon.
“Motif Bunga Ambon dari Sedayu Turen. Dari sana juga ada yang membuat motif Daun Bambu,” tambahnya.
Made mengatakan, setelah mematenkan motif tersebut, dia berharap masyarakat di wilayah itu bisa memaksimalkan produksi. Sebab, Kabupaten Malang memiliki misi, setiap wilayah bisa menjadi desa wisata. Salah satunya dengan adanya sentra batik.
Kini harapan besarnya yakni batik dari Kabupaten Malang mendunia. Awalnya mungkin dipamerkan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, lalu ke tingkat nasional. Biasanya, ketika sudah disertakan dalam pameran tingkat nasional, maka yang memburunya tidak hanya dari Indonesia.
“Kalau untuk saat ini, memang belum sejauh itu. Mungkin saat festival di Pantai Ungapan lalu beberapa motif saja yang kami pamerkan. Tetapi, dari sana sudah bisa menunjukkan, produksi asli Kabupaten Malang sangat bagus,” katanya.
Salah satunya Sanggar Batik Seng, di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen. Dirintis sejak tahun 2014 lalu, sanggar ini telah menciptakan puluhan motif batik. Bahkan, dari puluhan itu sembilan di antaranya telah mendapatkan hak paten.
Evi Wahyu Astutik penanggung jawab sekaligus pengelola Sanggar Batik Seng mengatakan,
sanggar batik dirintis saat melihat wali murid MI Bilingual Al Ikhlash, tempatnya mengajar. Saat itu para wali murid terlihat menganggur.  Seketika itu ide membuat usaha batik ini muncul.
Seiring waktu, usaha batik ini semakin laris manis. Bahkan, sanggar ini kerap mendapatkan pesanan dari instansi pemerintahan, maupun perusahaan.

Berita Lainnya :