Suku Hokkian Masuk Indonesia Sejak Ratusan Tahun Lalu


MALANG - Sejak ratusan atau ribuan tahun lalu, bangsa Tionghoa memasuki wilayah Indonesia. Siapa sangka, keberadaan etnis Tionghoa tersebut terdiri dari berbagai macam suku. Salah satunya adalah suku Hokkian, yang banyak orang mengatakan sebagian besar  spesialis menjual onderdil kendaraan dan tekstil.
Ketua Suku Hokkian, Bonsu Anton Triyono mengungkapkan, keberadaan suku Hokkian, sampai saat ini jumlahnya sudah cukup banyak di Malang. “Suku ini sudah ada sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Saat ini, jumlahnya ribuan dan masih ada di Malang,” terang dia kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, kemungkinan besar, etnis Tionghoa secara umum memasuki wilayah Malang Raya sekitar abad ke 15. Hal tersebut ditandai dengan adanya Kampung Marguan yang terletak di kawasan Gunung Kawi. Kemudian, keberadaan etnis Tionghoa tersebut menyebar di seluruh wilayah Malang Raya.
 Sekitar tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kuasa di wilayah Pecinan. Awalnya, mereka berencana memindahkan pasar ke kawasan Jalan Kahuripan, yang saat ini menjadi pasar bunga. Namun, warga Tionghoa di Pecinan menolak. Sehingga mereka membantu dana pembangunan pasar dengan syarat tempat tidak berpindah.
Sekitar tahun 1920, Pasar Besar mulai dibangun di daerah Pecinan yang memakan waktu empat tahun. Akhirnya, pada tahun 1924, pasar resmi dibuka dan menjadi pasar induk pertama milik pemerintah Belanda. Pasar tersebut terdiri dari 20 stan yang terdiri dari toko bahan kelontong, sayur dan buah, daging dan ikan, serta toko pakaian.
Sampai saat ini, kawasan Pecinan tersebut semakin meluas dan semakin berkembang. Para warga Tionghoa yang tinggal pada kawasan tersebut masih aktif berdagang dan melakukan berbagai macam profesi. “Masih banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal di pecinan. Mereka masih aktif berdagang dan melakukan segala profesi,” tuturnya.
Ketika datang ke Malang Raya, suku Hokkian terkenal dengan keahliannya dalam berjualan onderdil kendaraan dan tekstil. Namun, seiring berkembangnya waktu, sudah mulai melebur dan melakoni profesi lain. “Namanya juga perubahan zaman, kami tidak mempermasalahkan. Tuhan menciptakan suku bangsa yang ribuan. Hal tersebut patut kita syukuri,” ungkap dia.
Pada kesempatan tersebut, Bonsu Anton juga menyampaikan, dalam untuk merayakan tradisi Tahun Baru Imlek, pihaknya meminta seluruh masyarakat untuk hidup damai dan tentram hingga akhir zaman. “Banggalah menjadi warga NKRI, jangan pernah membedakan suku dan etnis, jangan pernah dipermasalahkan. Jadikan tradisi budaya dan kultur sebagai bentuk kebersatuan. Sehingga bisa rukun dan sentosa,” tandas dia. (tea/udi)