Sumur Maut 11 Pejuang di Madyopuro


Hari Pahlawan pada Sabtu (10/11/2018)i, Malang Post menyajikan kisah sumur maut di Madyopuro. Di dalamnya, jasad 11 pejuang kemerdekaan asal Malang dibuang oleh Belanda. Mereka terkubur bersama warga sipil asli Madyopuro dan anggota laskar pejuang mempertahankan kedaulatan bangsanya.
Perjuangan mereka berakhir di sebuah sumur dan kuburan masal. Lokasinya dikenal sebagai SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Malang Post mengunjungi lokasi tempat monumen sumur bersejarah, tempat pejuang Madyopuro dengan keji ditumpuk dan dikubur di sana. Sumur tersebut persis berada di belakang sekolah ini. Setelah melewati ruangan kelas, kemudian halaman parkir belakang sekolah, kamar mandi, taman belakang sekolah, baru monumen itu terlihat.
Bentuknya, berupa separuh bibir sumur. Dicat bagus dan dihias dengan tumpukan batu. Monumen ini sangat sederhana atau bahkan tidak terlihat seperti bangunan monumen yang memiliki nilai sejarah tinggi.  Penanda monumen adalah dua plakat tanda peresmian monumen.
Monumen sumur ini kali pertama diresmikan oleh Wali Kota Malang Soesamto pada 22 Agustus 1996. Plakat kedua adalah penanda peresmian renovasi monumen pada 18 Februari 2001 oleh Eddy Rumpoko mantan Wali Kota Batu yang pada saat itu Ketua PD GM FKPPI Jawa Timur.
Perasaan Malang Post bergetar ketika melihat monumen ini, sebab ini bukanlah sekadar monumen belaka. Akan tetapi tempat peristirahatan terakhir 11 pejuang kemerdekaan Indonesia pada September 1947 silam zaman agresi militer Belanda.
Ke 11 pejuang ini gugur mempertahankan Madyopuro dari serangan Belanda dan jenazahnya kemudian dimasukkan dalam lubang sumur yang sudah terbengkalai sebelumnya itu. Beberapa mengatakan kerangka pejuang-pejuang ini masih berada di dalam sumur itu sampai sekarang.
Dalam plakat yang berada tepat di tengah monumen diketahui jika sumur ini menjadi saksi bisu, di dalamnya telah terbantai 11 orang pejuang kemerdekaan RI oleh kekejaman serdadu Belanda. Beberapa nama yang diketahui terpampang dalam plakat.
Nama-nama mereka adalah Dulmanan, Ponimin, Suwadi, Samaun, dan 7 orang lainnya tidak dapat dikenali namanya lagi.
Guru Kelas 4 SDN Madyopuro 1 Yuli Istatik menjelaskan jika dirinya mengetahui, lokasi sekolahnya mengajar merupakan tempat bersejarah. Terlebih sumur yang berada di sekolah ini merupakan tempat terbantainya pejuang kemerdekaan.
“Tapi memang jarang yang tahu. Pemimpin daerah saja sejak Zaman Pak Peni (Peni Suparto mantan Wali Kota Malang,red) saja yang terakhir nyambangi ke sini,” papar Yuli kepada Malang Post saat ditanya.
Ia mengakui pihak sekolah sebelumnya hendak membuatkan tempat khusus untuk penghormatan akan sumur bersejarah tersebut. Dulunya sempat ada rencana membongkar satu kelas agar dijadikan sebuah tempat Gazebo yang menghubungkan dengan monumen sumur agar dapat terlihat jelas tidak seperti kondisi saat ini.
Akan tetapi recanana ini tidak kunjung terwujud karena masalah biaya. Maka monumen sumur bersejarah ini kondisinya tetap seperti yang Malang Post lihat kemarin.
Tidak hanya sumur maut ini saja, di depan sekolah SDN Madyopuro 1 juga dibuat sebuah monumen dengan lambang tiga buah bambu runcing berdiri tegak. Monumen yang bertuliskan kata-kata “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami” ini juga memiliki sejarah.
Karena halaman depan sekolah SDN Madyopuro merupakan tempat pembantaian dan kuburan massal juga. Jadi selain menjadikan sumur di belakang sekolah sebagai kuburan pejuang, serdadu Belanda juga menggunakan halaman sekolah untuk kuburan masal.
Di monumen bambu runcing ini tertera nama-nama pejuang yang gugur di halaman sekolah. Tidak hanya itu terdapat juga plakat peresmian tugu peringatan yang dibuat pada 3 April 1996 oleh Wali Kota Malang pada saat itu, Soesamto. (ica/ary)

Berita Lainnya :