Tenangkan Tahanan, Paling Berat Hadapi Psikopat

 
MALANG POST - Rr Ayu Sri Widyarini melakoni profesi tak biasa di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru. Ayu adalah satu-satunya psikolog bagi para tahanan maupun warga binaan yang saat ini berjumlah 2.400 orang. Suka duka menghadapi seluk beluk para pelaku kriminal adalah makanan hariannya.
“Saya bekerja di LP Lowokwaru mulai tahun 2004, awalnya masuk sebagai S1 Psikologi UMM, lalu ambil magister di Universitas Airlangga tahun 2004-2006. Setelah lulus, saya ditempatkan di klinik psikologis bagi tahanan maupun warga binaan,” kata Ayu diwawancarai Malang Post di LP Lowokwaru.
Selama kurang lebih 11 tahun, ibu dari Rheza Lexandra Shaquille Lakeysa dan Ramaditya Dimitri Shaquille Lakeysa ini bergelut dengan permasalahan psikologis pelaku kriminal. Tahanan, yakni mereka yang belum divonis pengadilan, seringkali mengalami gangguan psikosomatis  yakni sakit fisik tapi disebabkan karena faktor psikologis.
“Biasanya ada yang sakit pusing, sakit jantung, maag, tapi gak sembuh dengan obat. Itu berarti ada faktor psikosomatis, sakit fisik tapi karena gangguan emosional maupun kognitif. Setelah dua tiga kali minum obat tapi tak sembuh, pasti dirujuk ke saya oleh klinik lapas,” sambung suami dari M Syamsudin Nurhidayanto itu.
Permasalahan yang dihadapi oleh tahanan biasanya adalah adaptasi dengan situasi di LP. Mereka yang sebelumnya bebas, harus rela dikekang. Hal ini menimbulkan stres. Sementara, Ayu menyebut faktor stres karena masalah keluarga juga sering terjadi pada tahanan maupun warga binaan yang sudah divonis.
“Dulu saat psikolog masih jarang, kita harus jemput bola. Dengan waktu berjalan, sekitar tahun 2010 sampai sekarang, tahanan maupun warga binaan sudah bisa menerima dan tahu apa profesi psikolog. Sekarang bahkan saya harus menolak-nolak dan mengatur jadwal konsul dahulu,” papar alumnus SMAN 1 Sidoarjo ini.
Kini tiap bulannya Ayu harus melakukan screening tahanan baru serta konsultasi warga binaan minimal 70 orang. Dalam satu hari, dia harus melaksanakan sesi konsultasi minimal 5 orang. Dia menyebut, screening dilakukan untuk mendeteksi apakah ada gangguan jiwa dan depresi.
“Kita ada assessment untuk potensi psikologi, apakah dia membawa gangguan psikologinya dari luar LP, atau disordernya muncul setelah tinggal di LP,” tambahnya.
Kendati sudah berpengalaman menangani sesi konsultasi psikologi tahanan maupun warga binaan, Ayu bukannya tak pernah mengalami situasi ‘menakutkan’. Dia mengakui pernah dimodusi oleh warga binaan yang mengaku sakit tertentu.
Walaupun harusnya dirawat oleh klinik medis, warga binaan tersebut ngotot ingin diperiksa oleh Ayu. Warga binaan tersebut juga mengucapkan secara verbal keinginannya untuk ‘modus’ kepada Ayu.
“Pernah seperti itu, dia niatnya bukan konsultasi tapi ada dorongan lain. Dan itu diungkapkan secara verbal. Dia mengaku sakit tertentu tapi gak mau ditangani perawat tapi saya,” jelas Ayu mengenang peristiwa tidak mengenakkan. 
Wanita 37 tahun ini juga pernah menghadapi kriminal dengan kecenderungan psikopat. Dia mengatakan, semua pelaku kriminal (non narkoba) bisa direhabilitasi dan bertobat. Tapi, jika pelaku kriminal ini kembali melakukan kejahatan setelah rehab, maka Ayu menyebut ada kecenderungan gangguan kepribadian alias psikopat. Menurut anak kedua dari tiga bersaudara ini, awalnya dia takut menangani warga binaan residivis semacam ini.
“Awalnya takut, tapi akhirnya pola pikir saya berubah, niat saya adalah membantu. Pernah hadapi warga binaan yang jadi residivis, lima kali keluar masuk penjara, itu sudah pasti ada gangguan jiwa, cenderung psikopat. Kalau begini tak bisa diatasi obat, tapi harus terapi,” sambung Ayu. 
Lalu bagaimana dengan tahanan atau warga binaan narkoba? Menurut Ayu, warga binaan yang terlibat narkoba, juga menghadapi situasi yang sangat berat bila ingin tobat. Pasalnya, terapi untuk rehab warga binaan narkoba, bergantung pada faktor lingkungan.
Para warga binaan narkoba, harus diberi tempat khusus untuk rehab selama di LP, sehingga kesempatan untuk mengulangi kecanduannya bisa ditekan. Ayu memang sendirian dalam menjalankan tugas psikolog di LP Lowokwaru. 
“Tapi saya punya kaki tangan, yakni warga binaan yang sopan, yang melancarkan kerja harian saya. Konsultasi dan laporan psikologis tetap saya sendiri yang tangani. Mereka bertugas memanggil tahanan atau warga binaan yang akan konsultasi,” tambahnya.
Saat berada di tempat umum, Ayu juga sering secara tak sengaja berinteraksi dengan mantan penghuni LP.
“Jumlah mereka kan banyak ya, jadi gak bisa hapal satu-satu. Tapi kadang di MOG, di pasar atau di tempat parkir, saya disapa. Kadang juga dikasih murah saat beli, kadang juga tak ditarik parkir, haha,” seloroh Ayu yang menikah pada 2007 lalu.(fin/van)

Berita Lainnya :