Tentara Garda Terdepan Kemanusiaan

 
SELAIN menjaga kedaulatan negara, TNI selalu menjadi garda terdepan penanganan bencana. Operasi kemanusiaan menangani dampak dan korban gempa bumi dan tsunami di Poso dan Donggala merupakan salah satu buktinya. HUT ke 73 TNI makin kobarkan semangat patriotisme untuk kemanusiaan dan keutuhan NKRI. 
Deru pesawat Hercules memecah suasana Lanud Abd Saleh sehari setelah bencana melululantak Palu dan Donggala. Pesawat angkut TNI AU itu menerbangkan pasukan dari satuan jajaran Divisi Infanteri 2 Kostrad Singosari menuju Makassar lalu mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu, Sabtu (29/9) setelah sore sebelumnya diterjang bencana. 
”Jumat (28/9) kejadian gempa dan tsunami, sehari kemudian prajurit sudah berada di lokasi. Ini karena mereka selalu siap ketika dibutuhkan. Terlebih dalam kegiatan kemanusiaan membantu korban bencana,” ungkap Panglima Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad Singosari, Mayjen TNI Dr. Marga Taufiq, S.H., M.H, kepada Malang Post. 
Ada dua batalyon kesehatan atau sekitar 120 prajurit, yang diberangkat ke Palu, Sulawesi Tengah. Yakni dari Batalyon Kesehatan 2 Karangploso serta Bogor. Begitu tiba di lokasi, prajurit langsung mendirikan instalasi rumah sakit lapangan. 
Keberadaan rumah sakit lapangan ini, untuk membantu korban gempa Palu dan Donggala yang terluka. Rumah sakit lapangan didirikan karena banyaknya korban luka pascabencana gempa. Apalagi beberapa rumah sakit tidak berfungsi normal. Selain overload, banyak pegawai dan perawatnya menjadi korban.”Prioritas mendirikan rumah sakit lapangan 
di daerah yang sangat kritis. Sehingga korban bisa segera tertangani. Prajurit kesehatan yang berangkat, seluruhnya adalah tenaga medis yang terlatih dan ahli dalam kesehatan. Juga ada dokter dan dokter spesialis,” jelas Marga Taufik.
Selain Batalyon Kesehatan, Kostrad juga mengirim pasukan khusus sehari pascabencana. Ada sekitar tiga batalyon prajurit diberangkatkan dari Makassar. Tugas pasukan khusus ini, selain mendirikan tenda pengungsian, juga melakukan pengamanan objek vital, seperti lokasi distribusi logistik dan bahan bakar.
”Juga membantu proses pencarian serta evakuasi korban bencana. Mereka bergabung dengan petugas dari kepolsian serta Basarnas,” tuturnya.
Lantas sampai kapan tugas para prajurit dalam kegiatan kemanusiaan? Marga Taufik menegaskan, mereka bertugas sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sampai kondisi pasca gempa sudah kembali normal.
”Sedangkan untuk penambahan personel, masih melihat kondisi perkembangan di lapangan. Karena dari tim yang diberangkatkan,  ada pimpinan yang mendampingi untuk selalu melaporkan setiap perkembangan,” urainya.
Selain gempa Palu dan Donggala, Divif 2 Kostrad Singosari, sebelumnya juga mengirim tenaga kesehatan ke bencana di Lombok, NTB. Bahkan, untuk membantu proses pemulihan kondisi di Lombok, sampai saat ini masih ada prajurit yang bertugas di sana.
”Jumlahnya tidak banyak, sekitar 50 personel. Itupun dilakukukan secara bergantian. Selain itu di Lombok juga ada sekitar 150 personel dari Batalyon Zeni Tempur 5 Kepanjen yang tugas untuk memulihkan pascagempa,” paparnya. (agp/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :