Tradisi Hadramaut Melekat di Masyarakat


MEREKA punya peran besar menyebarkan Islam di Nusantara. Itulah kaum Hadramut.  Datang dari Yaman lalu menyebar ke seluruh penjuru. Termasuk di Malang Raya yang dimulai dari wilayah Lawang.
"650 tahun lalu, di Yaman sedang terjadi konflik. Kemudian mereka datang ke Indonesia. Yang datang hanya laki-laki saja, tanpa membawa istri. Tapi sebelum datang ke Nusantara, mereka lebih dulu mampir ke Gujarat, India," kata Habib Muhammad Anis kepada Tim Ekspedisi Panatagama  Malang Post, Imam Wahyu.
Di Gujarat, kata Habib Anis, mereka kulakan dagangan. Kemudian dijual di Indonesia."Ada yang bilang penyebar agama Islam di Indonesia itu dari Gujarat. Itu sejarah yang salah. Yang betul adalah, kaum Hadramaut yang pergi dari negaranya, kemudian ke Indonesia tapi mampir dulu di Gujarat," tambah Habib Anis, keturunan Hadramaut.
Habib yang tinggal di Lawang ini mengatakan, kaum Hadramaut datang ke bumi Nusantara melalui berbagai pelabuhan. Mereka tak hanya berdagang, tapi juga siar Islam. Saat datang, tidak ada pertentangan. Sehingga siar agama dilakukan dengan cara sangat damai.
Di awal kedatangan mereka, lanjut HabibAnis, kaum Hadramaut tidak menetap di satu tempat. Sebaliknya mereka menyebar. Ada yang di Palu, ada yang di Aceh, ada yang di Palembang, dan berbagai tempat lain. Termasuk datang ke Surabaya.
Setelah dari Surabaya, kaum Hadramaut ini kemudian memperluas wilayah siar hingga ke Malang. "Kenapa Malang yang dipilih, karena di sini siar agama Islam berjalan dengan damai. Suasana Malang Raya yang kondusif, dan tidak ada konflik. Cuaca yang sejuk juga menjadi alasan datang ke Malang," tambahnya.
Masuk Malang Raya dikatakan Habib Anis dari utara. Yaitu di Lawang. Namun demikian, Anis mengaku tidak tahu alasan kaum Hadramaut memulai siar agama Islam di Malang Raya melalui Lawang. Tapi dugaannya karena kondisi geografis, Lawang memiliki suasana yang sejuk dan kondisi keamanan.
Habib Anis menceritakan kakeknya. Dimana awalnya kakenya  dan rekan-rekannya menetap di Tulungagung. Tapi karena kondisi di Tulungagung saat itu tidak kondusif, mereka mengungsi. "Ada yang ke Surabaya, ada yang ke Bondowoso, Bangil dan lainnya. Ada juga yang ke Lawang," katanya.
Penyebaran Islam oleh kaum Hadramaut masih meninggalkan tradisi hingga sekarang. Salah satunya tradisi selamatan, atau tradisi Maulid Nabi. Menurut Habib Anis, tradisi selamatan merupakan tradisi yang diajarkan oleh kaum Hadramaut saat mereka memulai siar agama Islam. Termasuk melaksanakan haul dan tahlil, dikatakan Habib Anis adalah tradisi yang ada di Hadramaut, kemudian diajarkan di Indonesia.
Selama melakukan siar di Malang Raya tidak rintangan yang dialami kaum Hadramaut. Semuanya berjalan lancar. Itu berbeda dengan penyebaran agama Islam di daerah-daerah lain. Salah satunya disebutkan Habib Anis di Sulawesi. Di sana terjadi konflik yang dialami  kaum Handramaut yang melakukan siar Islam.
Seiring dengan penyebaran agama Islam, habib di Malang pun berkembang pesat. Mereka kemudian menyebar di Malang Raya. Termasuk di Kota Malang.
Habib Anis mengatakan, jika kaum Hadramaut merupakan orang istimewa. Mereka tidak hanya Keturunan Rasul yang tinggal di Yaman. Jumlah kaum Hadramaut sekitar 124 ribu. Namun hanya 10 ribu saja yang dimakamkan di Madinah. Sedangkan 114 ribu lainnya menyebar di seluruh dunia, tak terkecuali di Nusantara.
"Mereka yang tersebar ini adalah pendakwah. Itu sebabnya setelah keluar dari Yaman, mereka berdakwa, mensiarkan Islam, cara masuknya pun beragam. Mulai dari berdagang, bertani dan lainnya," ungkapnya.
Peran Hadramaut dalam penyebaran agama Islam dibenarkan Tim Ahli Ekspedisi Panatagama, M Dwi Cahyono. Sekitar tahun 1700- an, mereka sudah menyebar di Nusantara melakukan dakwah. keberadaannya pun berus berkembang. Termasuk di wilayah Malang.
"Kaum Hadramaut di Nusantara ini datang dengan cara berdagang. Mereka menetap di sini, kemudian melakukan siar agama," ungkapnya. Sampai dengan sekarang kaum Hadramaut ini terus berkembang.(ira/van)