FENG SHUI Memilih Tanah (Bagian 1)

Sebelum seorang ahli Feng Shui melakukan perhitungan tentang baik buruknya arah dan kedudukan lahan, maka seorang ahli Feng Shui akan menilai obyek tanah yang dicermati. Penilaian obyek tanah tersebut mencakup beberapa faktor, antara lain, yaitu:

1.      Menganalisis nilai topografi atau tinggi rendahnya permukaan tanah terhadap bangunan yang akan didirikan. Tidak semua tempat yang tinggi membawa keberuntungan dalam kehidupan.

2.      Mencermati faktor eksterior, seperti: bentuk sungai, jalan raya, atau sudut-sudut tajam yang terdapat di lingkungan sekitar, bahkan termasuk mengukur jarak aman obyek tersebut apabila harus mendekati lereng atau tebing.

3.      Mengetahui kualitas tanah yang akan dipilih, termasuk jenis tanah dan kepadatan tanah.

Membahas tentang penilaian kualitas tanah, orang yang akan membeli rumah tinggal sering kali menjumput tanah sebelum memutuskan penawaran, untuk kemudian menanyakannya kepada orang “pintar” yang dikenalnya. Tindakan ini untuk mengetahui kualitas tanah yang diminatinya. Misalnya, untuk mengetahui apakah tanah tersebut cocok untuk ditempati, bagaimana pengaruhnya terhadap rezeki, dan sebagainya.

Orang “pintar” biasanya menganalisis sejumput tanah tersebut melalui genggaman tangan untuk merasakan nilai getaran yang dimiliki tanah tesebut. Atau, bisa juga orang “pintar” tersebut mengamati dengan ketajaman mata batin untuk menilai aura yang tersirat dari tanah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat sisi baik atau sisi buruk energi tanah dari rumah yang dimaksud. Nilai “Dingin” diartikan dapat membawa ketenteraman hidup dalam berkeluarga. Sedangkan nilai “Panas” dapat membawa pertengkaran dalam keluarga atau menyebabkan hambatan dalam rejeki.

Cara tersebut merupakan bagian dari komunitas budaya yang masih bertahan sampai saat ini. Tidak jarang pakar Feng Shui juga menggunakan salah satu metode tersebut, misalnya merasakan getaran ”Qi” tanah atau merasakan “Qi” udara di sekitar tanah yang dianalisis. Namun, sebenarnya untuk menilai kualitas tanah, yang lebih penting dalam ilmu Feng Shui adalah melihat jenis tanah yang dimaksud secara seksama. Hal ini hampir sama dengan ahli geologi saat melakukan studi kelayakan terhadap lahan untuk pembangunan real estate.

Pengamatan tanah dilakukan dengan tujuan agar supaya kita bisa mengetahui kualitas yang terkandung beserta klasifikasi sifatnya, serta pengaruh magnetik yang terjadi, baik terhadap nilai bangunan atau terhadap orang yang menempatinya. Dengan demikian, penilaian akan lebih rinci. Walaupun arah hadap dan lokasi bangunan sudah baik, tetapi jika tidak memikirkan kualitas tanah yang terkandung, maka akan merugikan penghuni rumah atau bangunan tersebut, misalnya akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keretakan bangunan, patahnya pondasi bangunan, dan sebagainya.

Ada beberapa kriteria, sifat dan pengaruh tanah yang patut dipertimbangkan sebelum Anda membangun rumah, yaitu :

Tanah Berbatu

Rumah atau bangunan yang dibangun di atas tanah yang berbatu, misalnya rumah yang dibangun di atas karang, merupakan pilihan Feng Shui yang buruk. Orang yang tinggal di tanah berbatu akan sering mendapatkan tekanan batin yang cukup berat, sehingga karirnya akan selalu mendapatkan masalah atau hambatan. Biaya pembuatan rumah juga akan sering membengkak, karena pada waktu penggalian pondasi akan terbentur batu yang keras.

Tanah Bekas Sawah

Saat ini, tidak sedikit para pengembang membangun perumahan di area bekas persawahan. Area ini sengaja dipilih karena menjanjikan keuntungan yang lebih. Namun, dalam ilmu Feng Shui, membangun rumah di bekas lahan persawahan kurang memberikan keberuntungan. Area persawahan dianggap membawa energi negatif, seperti keringnya rejeki. Secara logika, anggapan Feng Shui ini dianggap ada benarnya, karena pada saat pembangunan rumah atau bangunan perlu dilakukan pengeringan terlebih dahulu hingga betul-betul kering, bahkan perlu ditimbun dengan tanah hingga menjadi kering dan padat.

(BERSAMBUNG)

Berita Lainnya :