Anak Kita dan Sopir Online

Oleh Ana Rokhmatussa’diyah,
Dosen Fakultas Hukum Unisma,  Penulis Buku,
Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang dan ketua Club Socialita Malang


Memrihatinkan  dan tidak beradab  adalah kata pas untuk mendeskripsikan kekejaman yang dilakukan oleh dua anak  terhadap sopir taksi online. Dua siswa kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 5 Semarang, IBR (15) dan DIR (15), nekat membunuh sopir taksi online Gocar untuk mengambil mobilnya pada hari  Sabtu (20/1/2018). Kedua anak itu adalah warga Jalan Lemah Gempal, Barusari, Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah dan Kembang Arum, Semarang Barat, Semarang itu diringkus polisi pada Senin (22/1/2018). Mereka ditangkap setelah mayat korban, Deni Setiawan, ditemukan di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang, Semarang, Sabtu (20/1/2018).

Kasus itu menampar wajah kita. Meski beberapa kali terjadi kasus kekejaman yang dilakukan oleh anak kepada sesama teman seusianya, tetapi ketika tingkat kekejamannya  berkualifikasi memberatkan seperti nekad melakukan pembunuhan, logis jika kita mempertanyakannya, mengapa anak-anak kita makin berani memproduksi ketidakadaban atau melakukan kejahatan yang bertipologi istimewa (exstra ordinary crime).
Ketika kita mempertanyakan tingkat atau “dosis” kekejaman yang dilakukan anak-anak  itu, lantas bagaimana kita sendiri sebagai orang tua, elemen pemerintahan, atau pilar-pilar pendidikan, apakah kita tidak ikut bertanggunjawab atas segala kesalahan (kebiadaban) yang diperbuatnya?
Ada pesan dari Franklin D. Roosevelt yang berbunyi: We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future.”  yang artinya kita tidak bisa selalu membangun masa depan untuk generasi muda kita, tetapi kita dapat membangun generasi muda kita untuk masa depan
Pernyataan Roosevelt itu penting untuk dijadikan sebagai naseihat atau pesan mulia dalam rangka membimbing ata membentuk generasi muda. Para anak bangsa ini dituntutnya untuk menjadi sumberdaya strategis yang berguna bagi masa depan. Salah satu cara untuk membentuknya ini adalah tidak meninggalkan anak sendirian dan liberal dala mempelajari atau mencontoh perkembangan sekarang.
Dewasa ini, kita tidak kesulitan membaca, bahwa anak-anak sekarang terbilang pemberani melakukan kejahatan. Barangkali orang tua atau keluarganya tidak pernah memperkirakan sama sekali kalau anaknya yang masih di sekolah dasar atau masih belasan tahun  atau bahkan belum, sudah berani melakukan kejahatan dengan tipe serius atau elanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kategori istimewa.
Terperosoknya anak-anak jadi “serigala” tu, tidaklah semata harus menyalahkannya, meski mereka mengerti model kekerasan atau pemaksaan hubungan dengan lawan jenis, berasal dari kawan-kawaannya. Akar kriminogen yang membuatnya tergelincir dalam praktik kriminalisasi, bukanlah semata akibat kawan yang mengajari, memperkenalkan, dan memaksanya, tetapi juga akibat kegagalan keluarga dalam membangun atau menciptakan atmosfir yang membahagiakan dan memprogresifitaskan kepribadiannya yang berbasis nilai-nilai kejujuran, kebenaran, keadaban, dan pemartabatan diri.

Kalau atmosfir yang menjadi ”pintu masuk” kekerasan atau pola berperilaku secara disnormatifitas seperti pola melanggar norma agama dan hukum ditoleransi secara vulgar dan liberal, maka memang bukan tidak mungkin kalau di kemudian hari, permata kita ini dimungkinkan akan semakin terbentuk menjadi generasi (elemen bangsa) yang tidak semata mengakrabkan dirinya menjadi korban, melainkan dirinya bisa jadi dirinya terbentuk menjadi generasi predator yang tidak mau ketinggalan untuk memproduk dan menyemarakkan berbagai bentuk kekerasan di masyarakat.
Mereka itu terbawa dalam atmosfir berbagai perubahan budaya akibat serapan informasi yang terus menerus menekan, yang mengajaknya mengabaikan dan meninggalkan tatanan etis, agama dan norma yuridis.
Mereka kesulitan memberikan perlawanan akiabt dalam kesehariannya, mereka tidak terdidik atau terbentuk menjadi anak-anak bangsa yang berani menghadapi berbagai model tantangan yang mengujinya.
Dalam ranah itu, akhirnya mereka menjadi subyek yang rentan. Kemana-mana tidak siap menjadi subyek yang tangguh dalam menjawab aneka ragam problem atau “penyakit” perubahan budaya dan atmosfir miliunya, sebaliknya rentan dijerumuskan oleh pengaruh yang menawarkan kesenangan dan kepuasan bercorak instan.
Kasus anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah yang nekad membunuh sopir Grap, hanyalah salah satu sampel, bahwa di negeri ini sangat banyak anak-anak kita yang potensial memproduksi banyak kekejian akibat dalam kehidupan ksehariannya, mereka jarang mendapan “asupan” edukasi yang beranfaat.
Dalam penjelasan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah diamandemen dengan UU Nomor 35 Tahun 2014, masyarakat, keluarga, dan negara ini diingatkan, bahwa anak merupakan amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi.  Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi  serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.
Perlindungan yang dimaksudkan secara yuridis itu setidaknya mengindikasikan, bahwa anak membutuhkan jaminan ekologi sosial yang progresif dan humanistik untuk melindunginya, termasuk mengembangkannya ke arah konstruktif dan bermental dan nasionalistik.
Dalam norma-normaa hukum tersebut juga sudah diingatkan, bahwa sebagai karunia Tuhan, kehadiran anak tidak boleh disia-siakan, tidak boleh ditelantarkan, atau tidak boleh dibiarkan membentuk visi dan aksi-aksi kultural dan gaya hidupnya secara liberalistic, individualistik, dan ekeklusifistik.
Meninggalkan mereka (anak-anak) menjadi pendisain atau pembentuk dirinya sendiri, sementara kita (sebagai orang tua) lebih menyibukkan dan menghabiskan waktu untuk  berburu uang atau membentuk klas social borjuistik-kapitalistik, maka mereka akan dibentuk oleh ekologi sosial pergaulannya menjadi penyimpang dan pembangkang, bukan menjadi elemen yang gigih dalam membentuk masyarakatya
 

Berita Lainnya :