Bahasa, Budaya dan Media Sosial

Dr. Daroe Iswatiningsih. M.Si
Kepala Lembaga Kebudayaan Univ. Muhammadiyah Malang
Surel: iswatiningsihdaroe@gmail.com
Kontak 081252755858


Berbicara tentang bahasa sepertinya tidak ada sesuatu yang baru. Hal ini mengingat, sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu manusia telah berbahasa. Berbahasa pada hakikatnya mengomunikasikan sesuatu, yakni pesan, maksud, tujuan yang bersumber dari pikiran, perasaan, dan kemauan seseorang. Dengan berbahasa manusia membangun interaksi dan komunikasi dengan sesama.
Dalam hubungan bahasa dan budaya ini, bahwa bahasa merupakan representasi dari budaya suatu masyarakat. Representasi di sini adalah bagaimana penggunaan bahasa dalam memaknai sesuatu yang digambarkan, baik dalam bentuk peristiwa, simbol, perilaku, atau bahasa itu sendiri. Pada masa dulu dalam masyarakat Jawa terdapat ungkapan yang muncul “mangan ora mangan asal ngumpul”. Kebudayaan pada hakikatnya melekat pada diri manusia dan mengatur interaksi manusia dalam masyarakat.

Sebaliknya, dalam pandangan Edwar Sapir dan Worf menganggap bahwa bahasalah yang mempengaruhi budaya. Orang yang mengikuti hipotesis Sapir-Whorf tidak banyak. Pertama, karena sejak semula orang meragukan bahwa manusia mempunyai perbedaan yang sejauh itu. Kedua, diketahui kemudian bahwa Whorf telah melakukan beberapa kesalahan teknis dalam kajian. Menurut Koentjaraningrat, buruknya kemampuan berbahasa Indonesia sebagian besar orang Indonesia, termasuk kaum intelektualnya, adalah karena adanya sifat-sifat negatif yang melekat pada mental pada sebagian besar orang Indonesia. Sifat-sifat negatif itu adalah suka meremehkan mutu, mental menerabas, tuna harga diri, menjauhi disiplin, enggan bertanggung jawab, dan suka latah atau ikut-ikutan.

Sikap Berbahasa

Menurut Koentjaraningrat, sikap mental menerabas tercermin dalam perilaku berbahasa berupa adanya keinginan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, tetapi tanpa keinginan untuk belajar. Terlebih lagi jika mengingat bahwa bagi sebagian besar orang Indonesia, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua, bukan bahasa pertama. Untuk menguasai bahasa pertama saja kita harus belajar dari lingkungan kita: apabila untuk menguasai bahasa kedua yang harus dipelajari dari orang lain.
Sikap tuna harga diri pada masyarakat Indonesia ditunjukkan dengan sikap tidak mau menghargai milik sendiri, tetapi sangat menghargai diri orang lain, orang asing. Sikap ini tercermin dalam perilaku berbahasa, karena ingin selalu menghargai orang asing, maka menjadi selalu menggunakan bahasa asing dan menomorduakan bahasa sendiri.
Adapun sikap menjauhi disiplin tercermin dalam perilaku berbahasa yang tidak mau atau malas mengikuti aturan atau kaidah bahasa. Selain dalam bentuk struktur kalimat, dalam penggunaan kata bentukan pun juga demikian. Masih banyak ditemukan penulisan ‘di’ sebagai kata depan dan imbuhan yang dikacaukan; Di larang menginjak tanaman yang seharusnya Dilarang menginjak tanaman dan Di larang parkir didepan pintu pagar yang seharusnya Dilarang parkir di depan pintu pagar.
Sikap mental tidak mau bertanggung jawab pada masayarakat Indonesia, menurut Koentjaraningrat juga tercermin dalam berbahasa. Misalnya dalam pernyataan  “Uang iuran kebersihan lingkungan pada warga terpaksa dinaikkan karena sudah lama tidak naik”; bukan mencerminan perilaku berbahasa yang memerhatikan penalaran bahasa yang benar.
Terakhir, sifat negatif yang melekat pada mental orang Idonesia  dalam berbahasa yakni latah atau ikut-ikutan. Hal ini tercermin dalam berbahasa yang selalu mengikuti atau menirukan saja ucapan orang lain (biasanya ucapan pejabat atau pemimpin) yang sebenarnya secara gramatikal tidak benar. Umpamanya karena adanya gerakan yang bersemboyankan “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” maka diikuti ucapan itu.