Bekerja, Ibadah, Ikhlas, Berkah dan Bahagia


Memasuki  Ramadan ada banyak hal menarik untuk didiskusikan. Dan salah satunya adalah masalah: niat bekerja, ibadah, keikhlasan, berkah dan bahagia. Faktor ungen dalam beragam kegiatan tersebut dan diataranya adalah memantapkan keyakinan terhadap Ilahi. Kebesaran akan segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh ummat tanpa pandang bulu. Pemberian karunia berupa nikmat sehat, nikmat bugar, nikmat kaya, nikmat  berkecukupan sebagai tujuan akhir berupa kebahagiaan. Nikmat yang diberikan untuk mereka yang beriman maupun yang ingkar. Karunia yang diberikan karena ummat-Nya mau bekerja keras siang dan malam demi mencari nafkah duniawi.
Tetapi bagi orang yang beriman, bahwa bekerja siang dan malam itu sebagai bekal untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta. Anggapan semacam ini memang ada benarnya, tetapi masih "debatebel". Karena pekerjaaan atau setiap bentuk aktivitas yang kita lakukan, pada hakikatnya bisa langsung bernilai ibadah bila kita selalu meniatkan untuk beribadah dan menggapai ridha-Nya. Namun dengan catatan, selama jenis pekerjaan tersebut tidak berbenturan dengan ketentuan syariat.
Artinya, apa pun bentuk profesi yang kita tekuni, selama itu diperbolehkan oleh syariat dan hukum agama, maka dapat bernilai ibadah jika kita meniatkannya sebagai amal ibadah. Misalnya, profesi kita berjualan makanan dan minuman yang dihalalkan dalam ajaran syariat, maka hendaknya dalam menekuni profesi tersebut diniatkan untuk beribadah meraih ridha-Nya. Selain menjaga kualitas dan halalnya makanan dan minuman itu, niatkan juga untuk membantu sesama manusia yang sedang membutuhkan makanan dan minuman.
Ketika pekerjaan dan niat ibadah itu disatukan, maka pada saat kita sedang bekerja (hingga rasa lelah menyerang sekujur tubuh) maka atas izin-Nya insyaallah kita mendapat dua hal sekaligus, yakni: uang hasil dan pekerjaan yang telah kita jalankan, dan pahala karena niat ibadah tersebut. Bahkan, rasa lelah akibat pekerjaan yang dilakukannya pun dapat bernilai pahala di sisi-Nya.
Tentunya dengan catatan, selama bekerja kita selalu patuh tunduk tidak meninggalkan perintah-Nya dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi setiap hal yang dilarang oleh-Nya. Misalnya, di sela-sela bekerja ketika datang waktu shalat lima waktu, kita tetap istiqomah untuk tetap menunaikan ibadah yang didalamnya akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dunia - akhirat.

Berita Lainnya :