Berdamai Dengan Informasi Digital

Oleh Dewi Ratna Mutu Manikam, S.E.
Ketua RW 01 Kel. Rampal Celaket Kec. Klojen Kota Malang

 
Dekapan teknologi informasi digital dalam kehidupan kita tak bisa dihindari, begitu massif hingga terbit  kekwatiran bahwa generasi milenial adalah anak jaman yang jauh dari media cetak atau buku, namun akrab dengan informasi cepat saji dari berita-berita online.

Keprihatinan sebagai orang tua juga kebetulan pengayom warga terhadap hal tersebut, ada mimpi untuk menjadikan buku atau paling tidak media-media cetak sebagai penyeimbang riuhnya informasi instan. Meski asa serta spirit tersebut tidak mudah, mengingat industri media memasuki masa-masa yang sulit.
Dalam era digital, media kenyataannya memang dihadapkan pada pilihan tak mudah. Opsinya kadang terbatas dan pelik, mau dan mampu k mengikuti ritme era digital atau siapsiap terlibas. Memang lonceng kematian bagi media cetak setidaknya telah berdentang beberapa tahun berselang, bagaimana tidak perubahan format dari media hardcopy atau cetak telah bermetamorfosis dalam bentuk epaper atau digital. Bahkan tidak sedikit yang kehabisan nafas hingga harus menelan pil pahit berhenti terbit.

Kenyataannya memang saat ini jumlah informasi yang ada di sekitar kita meningkat berpuluh hingga beratus kali lipat dibandingkan masa sebelumnya. Hari ini saja di dunia ada sekitar 2 miliar orang yang menjadi "warga negara" Facebook. Dari jumlah tersebut negeri ini menyumbang 115 juta sebagai penguna jejaring sosial tersebut. Bahkan peningkatan pertumbuhannya meroket hingga mencapai 40%.
Karena pada Maret 2016  hanya 82 juta pengguna. Bahkan pada bulan Juni 2014 baru 69 juta penguna Facebook di tanah air. Instagram juga mengalami hal yang sama. Bahkan pertumbuhan pengguna Instagram di Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Pasifik. Setidaknya jumlah pemakai aktif  di Indonesia mencapai 45 juta setiap bulannya (APJII, Agustus 2017).

Memang hamparan data tersebut seolah sebuah senjakala bagi media cetak. Era paperless society yang diramalkan oleh Frederick Wilfrid Lancester pada 1978 seolah benar-benar mewujud. Namun bersandar pada argumentasi Flanagin dan Metzger (2000) dalam “Perceptions of Internet Information Credibility”, mereka menjelaskan bahwa media konvensional (cetak) menjalani proses verifikasi serta melakukan cek dan ricek terlebih dahulu sebelum sampai kepada publik. Situs berita di internet (media online) tidak selalu melakukan langkah-langkah tersebut. bahkan, karena mudah diedit bahkan dihapus kapan saja, berita media online bisa disajikan terkadang menginjak keakurasian sebuah informasi.
Kepercayaan yang terbangun tersebut berbanding lurus dengan fakta industri periklanan media cetak yang masih bugar. Data dari Nielsen Media menjadi pembuktian bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan. Dilihat dari sisi belanja iklan, tidak kurang Rp 21 triliun yang berhasil masuk pundi-pundi iklan Koran dari kurun waktu tahun 2013 ke tahun 2017, kategori hotel dan restoran masih banyak beriklan di media cetak dengan porsi 97 %, diikuti kategori kesehatan dan pengobatan serta kategori toko atau toko spesialis masing-masing memiliki porsi iklan yang tinggi di media cetak dengan 95 % serta kategori institusi pendidikan formal 89%.
Paras elok media cetak yang lebih terpercaya tentu menjadi semangat. Bara kobaran spirit serta alamrm terhadap “air bah” informasi sempat diabadikan dalam buku “Overload: Finding the Truth in Today’s Deluge of News" karya Bob Schieffer, yang terbit pada ujung tahun kemarin. Penulis adalah adalah wartawan kawakan yang bekerja pada bidang penerbitan dan penyiaran lebih dari 60 tahun lebih. Buku menarik yang diterbitkan oleh Penerbit : Rowman & Littlefield Publishers tersebut adalah potret nyata jagad informasi saat ini, yang tidak saja deras namun sudah membanjiri, sehingga kita diambang keterpurukan jika tidak dapat memilih antara fakta, fake bahkan hoax.
Semangat lain juga dipompa oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Jenni L. Presnell dari Universitas Miami dan Sara E. Morris dari Universitas Kansas, Amerika Serikat. Makalahnya The Historical Newspaper Crisis: Discoverability, Access, Preservation, and the Future of the Ne ws Record yang dipaparkan dalam kegiatan Konferensi Internasional Berita Media 2017 di Islandia, menemukan fakta, bahwa para ilmuan dan pustakawan memiliki tingkat kepercayaan terhadap surat kabar dibanding media digital (Asri Ismail, 2018).
Hal itu disebabkan oleh rendahnya hak cipta yang dimiliki oleh media berbasis digital. Berbeda dengan koran, mampu melindungi kekayaan intelektual seseorang akan karyanya yang telah diterbitkan.
Nila atau efek buruk internet bahkan telah lama digunturkan, salah satunya oleh Nicholas Carr pada beberapa tahun yang lampau. Beliau menerbitkan buku “The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains”. Sebuah buku yang langsung menohok sekaligus jelaga dunia maya bagi peradaban. Disana dia gambarkan bagaimana internet mengubah cara manusia berpikir, bertindak, dan hidup. Carr memfokuskan pada efek buruk internet ketika hiperteks yang tampil di internet kerap membuat otak manusia terfragmentasi, mudah buyar konsentrasinya, melihat sesuatu tidak secara utuh, tidak memiliki kedalaman, dan pendeknya ingatan manusia akibat membaca lewat internet (dalam Ignatius Harianto, September 2017).
Oleh sebab itu layar harapan bagi media cetak tetap harus dikibarkan. Dan upaya untuk mendekatkan buku atau media cetak pada masyarakat dengan perpustakaan keliling atau pojok-pojok literasi di setiap sudut-sudut perkampungan adalah bibit yang harus terus disemai, agar generasi anak-anak kita mempunyai penyeimbang terhadap informasi online yang tersaji dengan mudah lewat gawai-gawai canggih ditangan mereka.
Karena dengan pemahaman yang benar dari sumber informasi yang tepat  akan menghindarkan kita dari perilaku yang mudah menyematkanujaran kebencian di media sosial yang kian marak. Sebab  menyebarkan berita hoaks, melakukan "cyber bullying"menunjukkan rendahnya pemahaman tentang informasiyang sebenarnya.Dengan kemauan dan kemampuan untuk memahami informasi dengan akurat maka masyarakat dapat memanfaatkan informasi digital secara bijak.

Berita Lainnya :