Bijak Gunakan Smartphone dengan Kindle

Margareth Alfania Fidela Dhiru
(Mahasiswa London School of Public Relations, Jakarta)


Tujuh tahun lalu, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas merupakan masa yang paling indah bagi saya walaupun tanpa kehadiran smartphone. Saya sering menghabiskan waktu di Perpustakaan Umum kota Malang untuk membaca buku atau sekadar bertukar pikiran dengan teman. Yang saya lihat saat ini sungguh berbeda. Seringkali saya melihat remaja masa kini cenderung acuh dengan lingkungan sekitar dan lebih mementingkan smartphone yang mereka miliki. Adik saya misalnya, dia lebih senang menggunakan smartphone dan mencari channel hiburan yang menurut saya tidak mendidik. Dia tidak pernah rewel membeli buku, melainkan rewel meminta kuota data internet. Kuota tersebut tidak digunakan untuk membaca info-info menarik tetapi justru digunakan untuk bermain game online, memposting foto di media sosial, melihat foto-foto artis atau melihat video hiburan yang kurang mendidik. Kebiasaan tersebut membuat minat membaca adik saya kian menurun dan susah untuk berpikir kritis sehingga prestasinya di sekolah semakin menurun pula.

Dari pengalaman ini, disatu sisi saya menyadari bahwa para pelajar remaja saat ini tidak mungkin dipisahkan dari smartphone karena tuntutan zaman mengharuskan demikian tetapi pada sisi lain memprihatinkan sebab berdampak pada minat membaca dan sikap kritis mereka. Capaian hasil belajar mereka tidak maksimal bahkan cenderung menurun. Tentu tidak bijak apabila menuduh teknologi, sebagai penyebab tunggal merosotnya prestasi belajar para pelajar atau secaraekstrim mengkambinghitamkan smartphone sebagai pendorong utama bergesernya minat membaca buku dan pelemah berpikir kritis remaja masa kini. Menurut hemat penulis, perlu ditemukan solusi yang lebih tepat di mana melalui teknologi minat membaca dan sikap kritis para pelajar lebih ditingkatkan. Salah satu solusi yang saya anggap mumpuni adalah kindle.

Di era modern yang tidak memungkinkan kita untuk menghindari kemajuan teknologi ini, sudah selayaknya kita mendukung remaja untuk menjadikan teknologi sebagai sarana membaca yang baik. Salah satu caranya adalah menggunakan media pembaca buku elektronik atau e-book reader. E-book reader yang terkenal adalah milik situs buku internasional Amazon, bernama Kindle. Kindle adalah alat pembaca buku elektronik yang memiliki teknologi layar E-Ink. Hal ini membuat layar Kindle terasa nyaman bagi pembaca, sebab layar ini terdiri dari 16 tingkat warna abu-abu. Tahukah anda bahwa layar ini berbeda dari layar yang dimiliki handphone? Layar handphone memiliki sinar biru yang menyebabkan mata cepat lelah dan perih. Sedangkan layar Kindle memiliki partikel tinta tertentu dan font-nya dirancang untuk membuat mata kita nyamanlayaknya membaca buku. Selain itu, teks yang kita baca melalui Kindle memudahkan kita untuk membaca di luar ruangan atau dalam keadaan gelap sekalipun. Ditambah lagi, harga buku yang dijual melalui situs resmi Kindle cenderung lebih murah dibanding versi buku fisik atau hardcopy-nya serta menyediakan fitur samplebuku. Sample buku ini memastikan pembaca untuk terlebih dahulu menyukai konten buku sebelum membelinya. Tidak hanya untuk membeli buku kemudian membacanya, Kindle juga berguna untuk membaca dokumen pribadi. Caranya cukup mengirimkan e-mail berisikan dokumen yang ingin dibaca ke alamat Kindle. Untuk mengetahui alamat Kindle, silahkan membuka akun Amazon yang sudah terlebih dahulu dibuat untuk verifikasi penggunaan Kindle. Buku yang dijual melalui Kindle adalah buku-buku yang berbobot dan membuat pembacanya berpikir kritis, ditambah lagi buku-buku tersebut selalu disajikan dalam Bahasa Inggris. Namun tidak perlu khawatir, sebab Kindle juga menyediakan fitur penerjemah dan Wikipedia yang dapat diakses menggunakan fitur Wi-Fi. Jadi, tidak perlu lagi menggunakan kebiasaan lama membaca buku fisik atauhard-copy kemudian sibuk menerjemahkan melalui kamus. Keunggulan bentuk fisik Kindle adalah tipis dan ringan sehingga mudah dibawa. Walaupun murah, tetapi bentuk fisiknya tidak terkesan murahan.
Kindle tidak terlepas dari beberapa hambatan walaupun tidak cukup signifikan. Harga kindle yang masih cenderung mahal bagi masyarakat seringkali menjadi pertimbangan yang cukup besar. Harganya berkisar antara $80-120 atau sekitar Rp 1-2 juta. Namun, kita harus berpikir secara kritis karena melalui fitur pembaca dokumen pribadi yang dimiliki Kindle, dapat kita gunakan untuk menyimpan softcopy di laptop/handphonekemudian mengirimkannya melalui alamat kindle sehingga kegiatan membaca dapat lebih nyaman dilakukan serta menghemat pengeluaran untuk membeli buku fisik atau hardcopy. Bisa dibilang “borosnya di awal saja, kok”. Dikarenakan masyarakat Indonesia belum paham betul kegunaan kindle sehingga permintaan produksi masih cenderung rendah. Padahal, di luar negeri harga kindle hanya sekitar 600 ribu.
Kindle dapat dibeli melalui situs jual beli online ataupun menitip kepada teman, saudara atau orang tua yang sedang tinggal di luar negeri. Cara menggunakannya cukup mudah, hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang tertera di layar dan menekan setiap perintah dengan jari, sebab layar kindle adalah layar full-touchscreen. Akan ada beberapa perintah seperti membuat alamat kindle, pengaturan zona waktu, pengaturan font dan kontras cahaya yang dibutuhkan. Jika ingin membaca buku dilakukan dengan menggeser atau mengetuk layar bagian kiri atau kanan, layaknya menggunakan handphone touchscreen. Jika ingin mengatur kontras dan membeli buku online dapat dilakukan dengan cara menggeser layar bagian atas ke arah bawah kemudian akan muncul pilihan perintah yang diinginkan. Saya rasa cukup mudah bagi remaja masa kini untuk mengaplikasikan Kindle mengingat pada umumnya mereka memiliki media elektronik dengan fitur touchscreen.
Kindle menjadi mediayang dapat menjadi bukti bahwa tidak selamanya kemajuan teknologi berimbas negatif pada remaja. Kindle membantu meningkatkan minat membaca dan berpikir kritis. Dengan desain yang ringan, fitur canggih dan tentunya buku-buku yang mengajak para remaja berpikir sangat kritis akan berdampak positif bagi remaja serta menimbulkan ide-ide baru untuk kemajuan diri dan bangsa. Saya mengharapkan remaja masa kini jauh lebih termotivasi dengan adanya kemajuan teknologi dan tidak mudah mengikuti arus negatif teknologi, tetapi justru menemukan sesuatu yang positif untuk terus berinovasi melalui tingginya minat membaca dan berpikir kritis.(*)

Berita Terkait