Bisakah Kasus Novel Diungkap?

Oleh  Badrul Munir

Dosen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang


Lebih dari 100 hari pengungkapkan pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan belum berhasil ditemukan oleh pihak berwajib. Publik pun bertanya ada apa dengan kasus ini, mengapa polisi begitu sulit menangkap pelaku dan mengungkap motifnya.
Sebenarnya publik sangat berharap pelaku segera tertangkap,  mengingat keberhasilan kepolisian dalam menangani dan menangkap pelaku kasus besar secara cepat dan tuntas  seperti kasus teror yang begitu rumit bisa diurai secara mendetail. Apalagi  kasus penyiraman  ini terjadi di Jakarta, dan Novel sedang menyelidik kasus mega korupsi E KTP dan reklamasi pantai Jakarta, publik pun berfikir tentunya tidak terlalu sulit mengungkap dan menangkap aktor dibelakang kasus ini.

Namun k epolisian sampai saat ini belum menunjukan hasil yang memuaskan, dan hanya
bisa membuat sketsa wajah terduga pelaku. Karena terlalu lama dan bertele-tele maka Presiden Jokowi memanggil Kapolri untuk meminta laporan progresifitas penanganan kasus ini.  
Publik berharap Presiden membentuk tim gabungan pencari fakta atau tim lainnya yang menyakinkan publik bahwa kasus ini segera terungkap, namun hasil pertemuan didapatkan presiden Jokowi masih membari kesempatan kepada Polri untuk mengungkap secepatnya, karena semakin lama kasus ini maka kepercayaan masyarakat kepada pemerintahan Jokowi bisa menurun.
Apalagi pemerintah basu saja mendapat ujian besar dengan kasus penistaan agama yang mendera Gubernur Jakarta Ahok yang didukung oleh pemerintah dimana sebagian publik menuduh aparat penegak hukum tidak adil dan cenderung melindungi Ahok sehingga muncul aksi demonstrasi seperti aksi 212 dan lainnya
KPK adalah lembaga negara anak kandung reformasi selain Mahkamah Konstitusi (MK), keberadaan KPK pada awalnya sangat didamba oleh hampir seluruh rakyat Indonesia yang sudah muak dengan kasus korupsi yang terjadi di jaman orde baru. Ibarat bayi yang didamba,  kelahirannya begitu disambut suka cita, apalagi sejak berdirinya KPK berhasil membabat koruptor kelas kakap yang sebelumnya tidak terjamah oleh penegak hukum lainnya. Hal lain adalah ratusan trilyun uang negara yang berhasil diselamatkan merupakan suatu prestasi yang belum pernah ditorehkan oleh penegak hukum lainnya dalam sejarah republik ini.
Sistem imun KPK

Ibarat sistem ketahahan tubuh (sistem imun) di awal lahirnya KPK sangat sempurna, begitu sempurnanya maka setiap kali ada yang memusuhi KPK, diibaratkan  penyakit yang akan segera dieradikasi oleh sistem imun tersebut
Dalam Ilmu kedokteran sistem imun tubuh manusia dibagi menjadi dua kelompok besar  yakni  sistem imun nonspesifik dan spesifik, sistem imun nonspesifik  untuk menahan segala jenis agen yang menyerang tubuh tanpa membedakan jenis penyerangnnya,   sistem ini diperankan oleh kulit, mukosa,  silia,sel makrofag  dan lainnya, sedang sistem imun spesifik suatu sistem imun yang menghalau agen penyakit secara spesifik dengan respon yang spesifik, ini diperankan oleh sel darah putih yang bernama limfosit.  Kedua sistem ini bekerja sama secara simultan untuk menghalau semua agen penyakit (bakteri, virus, parasit,jamur dan lainya)  yang hendak menyerang tubuh kita.
Bila diaplikasikan dalam KPK kedua sistem ini berjalan baik.  Sistem imun nonspesifik KPK  dilakukan oleh payung hukum yang begitu kuat memberi perankepada KPK untuk memberantas korupsi, besarnya dukungan rakyat bisa kita masukan ke dalam sistem ini, termasuk dukungan pemerintah sejak kelahiran KPK dengan memberi anggaran yang besar dalam menjalankan tugasnya.
Sistem imun spesifik dilakukan oleh lembaga KPK sendiri, komisioner KPK dan penyidik KPK adalah pribadi-pribadi  yang mempunyai integritas, kapabilitas dan loyalitas yang sangat tinggi dalam pemberantasan korupsi, ini berbeda dengan penegak hukum lainnya yang dicitrakan oleh sebagian masyarakat belum mempunyai integritas sebaik KPK.
Maka untuk melemahkan KPK maka para koruptor dan kelompoknya akan membidik kedua sistem ini, lihatlah betapa gigihnya para oknum anggota legislatif berusaha untuk mengamandemen UU KPK dari periode ke periode. Langkah Pansus KPK di parlemen juga kental dengan suasana pelemahan semangat anti korupsi walaupun dibantah oleh penggagas pansus ini.
Pelemahan dengan menyerang sistem imun spesifik juga terus dilakukan, kita sangat ingat betapa sebuah kekuatan besar melemahkan KPK dengan cara mengkriminalisasi komisioner KPK dari periode ke periode. Kasus  mundurnya  Abraham Samad dan Agus Wijayanto  dari komisioner KPK periode lalu  karena kasus kriminalisasi menyadarkan kita betapa kekuatan dibelakang koruptor begitu nyata.
Lamanya pengungkapan aksi penyerangan terhadap Novel Baswedan  ini setidaknya menjadi salah satu merupakan bukti nyata bahwa negara pun masih kedodoran dalam melawan  korupsi. Namun kita masih percaya pemerintah dan pihak berwajib akan bisa mengungkap kasus ini, namun bila terlalu lama apalagi tidak bisa terungkap maka tidak salah bila publik menduga ada konpirasi jahat tingkat tinggi  di dekat penguasa sehingga  kasus ini masih gelap.
Kita masih ingat rumit dan gelapnya kasus pembuhunan aktifis HAM (almarhum)  Munir yang belum terungkap walaupun presiden telah berganti dari SBY ke Jokowi. Dan sampai saat ini masih banyak sisi gelap yang belum terungkap termasuk aktor intelektual yang ada dibelakangnya.
Bila kasus ini tidak terungkap maka berarti pelemahan sistem imun KPK telah berhasil dilakukan dan jangan berharap korupsi akan bisa diberantas  di negeri ini,  karena memang oknum  pemangku kekuasaan saat ini hidupnya tidak begitu jauh dari kebiasaan korupsi yang sedang diberantas oleh KPK ini.
Bila kasus ini gagal diungkap dan pansus KPK di DPR terus menekan kinerja KPK maka jangan berharap kita mempunyai lembaga anti rasuah yang bisa dibanggakan dan menyelamatkan kerusakan bangsa dari korupsi di negeri ini.

Berita Lainnya :