Debat Capres Bukan Reality Show

Oleh : SUGENG WINARNO
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM


Debat Capres putaran pertama akan digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 17 Januari 2019 mendatang. Pro kontra terkait bocoran kisi-kisi pertanyaan yang akan dibahas mengemuka. KPU berharap debat berjalan terarah dan jelas dalam penyampaian visi misi masing-masing kandidat. Beberapa pihak juga mengingatkan agar debat Capres tidak serupa dengan acara reality show di televisi yang penuh dengan rekayasa.
Debat Capres diadakan sebagai bagian dari kegiatan kampanye politik. Melalui debat, masyarakat akan dapat menilai beberapa kemampuan sang kandidat. Debat politik juga merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu,

yang menyebutkan kampanye merupakan kegiatan peserta pemilu meyakinkan pemilih menawarkan visi, misi, dan program dan/atau citra diri peserta pemilu.
Debat Capres yang menghadirkan pasangan kandidat nomor urut 1 yakni pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan disiarkan beberapa media elektronik. Debat putaran pertama akan disiarkan oleh Kompas TV, TVRI, RTV, dan RRI. Debat akan dipandu jurnalis senior TVRI yakni Imam Priyono, dan mantan jurnalis SCTV, Ira Kusno.
Tema debat perdana akan mengusung isu hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, dan terorisme. Melalui sejumlah isu ini diharapkan masyarakat calon pemilih mengerti bagaimana para kandidat memiliki visi misi, program, dan penanganan terhadap beberapa persoalan sesuai tema dalam debat publik putaran awal ini. Diprediksi beberapa kalangan debat akan berlangsung seru karena tema yang dibahas sangat menarik.

Kultur Demokrasi
Debat Capres merupakan kultur (budaya) demokrasi. Dalam berdemokrasi, melalui adu argumen menjadi penting untuk melihat kapasitas seseorang. Debat juga digunakan untuk memperlihatkan bahwa perbedaan pendapat itu sah dan dilindungi oleh hukum. Budaya untuk saling menghargai perbedaan pendapat dan dapat menyampaikan pendapat dengan etis merupakan kultur demokrasi yang harus terus di bangun.
Sebagai kultur demokrasi, maka debat harus dilakukan dengan mengedepankan kejujuran dan menjunjung kesopanan dan etika dalam pelaksanaanya. Debat bukan sekedar adu argumen dengan semangat saling menjatuhkan dan mencari-cari sisi kelemahan lawan. Debat juga bukan debat kusir yang tak ada juntrungannya. Debat juga bukan seperti show hiburan yang hanya untuk mengundang decak kagum dan gelak tawa bagi siapa saja yang melihat.

Menyaksikan debat politik bukanlah seperti menyaksikan pertunjukkan badut. Dalam show badut,  sang pemain badut dituntut untuk act out sedemikian rupa, yang penting orang yang menyaksikan terhibur. Segala cara bisa ditempuh sang badut walaupun harus berakting tidak jujur dengan mengelabui pemirsanya. Penonton badut memang tidak menuntut pemain badut jujur, tapi yang penting menghibur.
Dalam debat Capres tentu tak elok kalau dikemas seperti pertunjukkan badut. Melalui debat Capres merupakan sarana bagi sang kandidat yang sedang ikut berkompetisi Capres menyampaikan pokok-pokok gagasannya. Debat juga harus diposisikan sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat. Debat politik harus membuat masyarakat cerdas dan melek politik, bukan menjadikan masyarakat justru muak pada politik.
Debat Capres juga bukan seperti parade pidato yang sarat dengan retorika politik omong kosong belaka. Narasi yang disampaikan dalam debat harus merujuk data akurat. Karena pijakan data abal-abal hanya akan menjadikan debat sebagai sarana debat kusir yang membingungkan masyarakat. Debat tanpa data hanya akan jadi ajang klaim-klaim subyektif yang tidak berdasar pada kondisi obyektif yang sesungguhnya terjadi di masyarakat.
Kualitas debat Capres bisa digunakan untuk melihat kultur berdemokrasi. Kedewasaan dalam berpolitik dari masing-masing pasangan calon bisa teruji melalui acara debat ini. Walaupun dalam banyak riset, debat politik memang tidak sangat signifikan memengaruhi sikap calon pemilih. Mungkin debat akan berkontribusi pada sejumlah calon pemilih yang masih belum menentukan pilihannya atau pemilih yang masih berniat berpindah-pindah pilihan (swing votters).

Berita Lainnya :