Fundamentalisme Kemanusiaan

 
Saat Thomas Hobbes menyampaikan teorinya tentang salah satu kecenderungan manusia yang kini sangat populer dengan istilah “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya), barangkali kebenaran teorinya ini baru bisa kita saksikan dan rasakan dewasa ini.
Manusia menjadi serigala tak ubahnya manusia itu berganti wajah, beralih rupa, atau berubah sikap dan perilakunya, yang sebelumnya berhabitus kemanusiaan, namun karena “sesuatu” dan “lain hal”, akhurnnya manusia ini mendisain dirinya dengan sikap dan perilaku antagonistik dengan kemanusiaannya.
Disain baru dirinya itu bercorak “serigala” atau berkebinatangan, yang diantaranya ditunjukkan dengan menerkam, menusuk, membantai, mengebom, atau mendestrusi kehidupan sesamannya. 
Dalam ranah itu, kehadiran seseorang atau sekelompok manusia lain menjadi obyek. Dimatanya, mereka bisa dan bahkan harus dilukai atau dikorbankan kapan dan dimana saja sesukanya.
Sikap dan perilaku kebinatangan (kebiadaban) yang ditampilkan manusia itu adalah untuk membenarkan kalau dirinya telah berhasil memberikan (memaksakan) hajat atau kepentingan, apapun caranya. 
Sikap dan perilaku manusia demikian itu membuatnya hanya berfikir soal hasil dan bukan pada proses. Yang terpenting bagaimana yang diyakini dan diinginkannya berhasil direalisasikan. Ideologi dan agama tertinggi merupakan wujud apa yang diperbuatnya, dan bukan pada apa yang dirasakan (diderita) orang lain.
Sikap dan perilaku teroris, yang diwujudkannya dengan cara menikam (menusuk), mengebom, memenggal kepala (seperti yang suka dilakukan oleh ISIS), atau membunuh seseorang atau sekelompok orang, identik dengan opsi yang keluar dari fundamentalisme kemanusiaan.
Cara-cara yang dilakukan oleh teroris itu tak ubahnya dengan watak serigala yang menempatkan sesamanya sebagai obyek yang dimangsa. Modus perilaku demikian inilah yang membuatnya tidak layak mendalilkan dirinya sebagai subyek yang berkomitmen pada hajat kemanusiaan.
“Bagian terbaik dari seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain” demikian pernyataan William Wordsworth  yang sejatinya mengajak setiap manusia di bumi ini untuk berlomba berbuat baik pada sesama manusia.
Wordsworth  memang menunjukkan, bahwa ada jenis perbuatan yang membuat seseorang layak mendapatkan prediket terbaik atau menjadi bagian terbaik dalam konstruksi kehidupannya, manakala ia mampu menghasilkan perbuatan terbaik pada sesama yang sesama ini tidak perlu mengetahui kalau dirinya yang berbuat baik dan mengasihinya. 
Itu jelas doktrin Wordsworth  berdimensi kemanusiaan. Manusia ditunjukkan caranya berbuat baik tanpa pamrih, tanpa tendensi, atau tanpa menuntut imbalan (kompensasi). Dalam doktrinya, manusia terbaik merupakan sosok pengabdi dalam kerelaan atau mmberikan yang terbaik untuk hajat kemanusiaan tanpa ada publikasi.
Pikiran seperti itu identik dengan menempatkan perbuatan terbaik manusia dalam bentuk mengasihi, melindungi, atau menyayangi manusia lain sebagai fundamentalisme kemanusiaan.  Manusia baru benar-benar dikatakan layak memasuki ranah kebermaknaan hidup bersama manusia lain bilamana peran yang ditunjukkannya bersifat “memberikan” yang terbaik.

Berita Lainnya :