Gara-Gara Dilan



    “Jangan Rindu, Berat. Kamu Nggak akan Kuat. Biar Aku Saja.”
Siapa yang tak ingat dengan gombalannya Dilan? Dari meme-meme receh yang viral di dunia maya sampai yang statusnya mahasiswa di dunia nyatapun kena imbasnya. Apa-apa sedikit berat, apa-apa sedikit berat. Mantra rindu ramuan Dilan sukses masuk ke alam bawah sadar para pemuda. Setiap hari diucap, setiap hari diulang.
Lebih jauh lagi mantra-mantra tadi dipelesetkan dengan guyonan “Jangan SBMPTN berat, mending ternak lele bareng aku aja.”,“Jangan ngerjain skripsi berat. Biar aku saja.” dan guyonan-guyonan lain yang intisarinya sesuatu yang berat biar dikerjakan oleh seorang Dilan saja.
Gayung bersambut, pihak Kepolisian juga membuat meme senada dengan headline “DI (ti) LAN (g)” untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mengikuti jejak Dilan yang melanggar aturan berkendara. Dari tidak mengenakan helm (melanggar pasal 291 UU No 22 Tahun 2009) dan ketidaklengkapan kendaraan motor Dilan tanpa kaca spion (melanggar pasal 48 ayat 2 UU No 22 tahun 2009). Apa kabar jikalau ada masyarakat yang melanggar peraturan nanti mengeluarkan dalil “Lah Dilan yang tidak membawa helm saja tidak ditilang Pak, kok saya ditilang?”
Antusiasme pemuda dengan film ini terbukti, menginjak hari ke sembilan penonton Dilan 1991 mencapai 4.185.000 orang (sumber: Max Pictures). Pemuda, yang semestinya menjadi garda terdepan untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi, nihil wujudnya. Bukankah negeri kita sedang tidak baik-baik saja? Utang negara yang kian menumpuk, krisis moral, kemiskinan, korupsi, hukum yang bisa dijual beli, minat baca rendah, kualitas pendidikan di bawah rata-rata dan sekelumit kasus lain yang tidak ada habisnya. Saat ini pemudanya malah leyeh-leyeh, menye-menye dan disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting.
Anehnya mereka para intelektual tidak pernah merasa bermasalah dengan konten-konten yang disuguhkan dalam Film Dilan 1991. Bahkan ikut menikmati dan mengamini isi film tersebut. Padahal konten yang dikemas dengan apik ini sama sekali tidak menyuguhkan edukasi yang baik di kalangan pemuda yang tengah krisis moral dewasa ini. Sebab isi kontennya sebagian besar adalah tawuran, mbolos sekolah, cita-cita remeh yang tak berujung. Kalau kiblatnya pemuda Indonesia seperti ini gambarannya, ke depan mau jadi apa?