Ideologi dan Posisi Perempuan dalam Esensi Kebijakan


Perempuan pada umumnya selalu dinilai sebagai the other sex yang sangat mempengaruhi representasi sosial tentang status dan peran perempuan. Pembatasan perempuan yang muncul telah banyak menunjukkan bahwa perempuan sering disebut sebagai “Warga kelas dua” jika dibandingkan dengan status laki-laki. Jika pembagian kedua kelompok (Perempuan dan Laki-Laki) digunakan untuk menunjukkan pemisahan dan stratifikasi di antara dua jenis kelamin, yang satu memiliki status lebih rendah, dan satunya memiliki status lebih tinggi.
Sebagai mestinya, status lebih tinggi adalah yang sangat pengaruh dalam kebijakan. Tetapi, justru ini terbalik, tugas perempuan lebih besar dan tidak akan dapat dilakukan oleh laki-laki, salah satu contoh, agama sudah mengakui betapa seorang perempuan terutama seorang ibu harus dihormati, hal ini seperti yang telah dijelaskan dalam hadists riwayat Bukhari nomor 5971, hadits tersebut menjelaskan ibu harus dihormati, karena tugas ibu lebih berat daripada ayah seorang laki-laki. Ada tiga hal yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki, yakni mengandung, melahirkan, dan menyusui. Meski begitu, dalam esensi kebudayaan pada masyarakat Jawa, tugas seorang perempuan adalah melayani laki-laki ketika sudah resmi menjadi pasangan suami-istri secara hukum maupun agama.
Berbagai bentuk diskursus terlihat bahwa posisi dan peran perempuan sebagai istri dan ibu memang sangat dominan. Dalam ideologi familialisme, yang direproduksi dalam berbagai diskursus telah menjadi kekuatan yang sangat besar dalam menegaskan bahwa perempuan sebagai domestik mereka. Dalam berbagai kebijakan, perempuan sangat berperan penting dalam rumah tangga. Sebenarnya, keberadaan Hari Kartini salah satunya sebagai simbol protes atas kewenangan laki-laki pada perempuan. Meski perempuan telah dipandang lebih rendah pada status sosial, namun perempuan juga memiliki cita-cita. Baik cita-cita untuk karir, cita-cita dalam rumah tangga, maupun cita-cita yang lain. Perempuan juga pantas memperjuangkan apa yang ingin diraih dan dimerdekakan. Selama pilihan perempuan tersebut tidak melanggar norma dan mengakibatkan aib keluarga, maka pilihan tersebut harus diraih.

Posisi perempuan di Jawa yang telah dijelaskan dalam Serat Centhini, bahwa perempuan tidak seutuhnya bersikap lugu dan pasif dalam masalah seksualitas, tetapi seorang perempuan juga memiliki kebebasan yang sama untuk mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal, seorang perempuan selalu digambarkan pasrah dan terima kepada laki-laki. Secara lingkup keagamaan dan kebudayaan masyarakat Jawa, memang perempuan harus berbakti pada laki-laki, terutama pada suaminya. Jika agama sudah menegaskan surga istri terletak pada pembuktian bakti pada suami, sedangkan pada masyarakat Jawa sudah menegaskan pada acara unduh pengantin atau upacara pengantin, hal ini dibuktikan pada bagian pecah telur di bagian kaki seorang suami dan harus membersihkannya, bagian tersebut menggambarkan simbol bahwa perempuan harus berbakti pada suami.
Menurut Friedan pada kajian feminisme telah menjelaskan, bahwa perempuan super itu tidak lebih terobsesi dari ibu yang tinggal di rumah. Artinya, perempuan harus berhenti untuk mencoba melakukan semua. Perempuan super itu tidak mengabaikan cinta demi pekerjaan atau sebaliknya. Tetapi berbeda dengan sudut pandang Kartini, perempuan berdarah Indonesia, perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas untuk melakukan semua yang harus diwujudkan. Dalam suratnya yang telah dikirimkan pada Nyonya Abendanon, Kartini menjelaskan ternyata peran perempuan sangat berarti dalam sejarah Indonesia. Dalam suratnya, Kartini juga mengungkapkan bahwa ruang gerak  dan akses terhadap pengetahuan perempuan sangat terbatas, tetapi masih dilakukan dalam kondisi yang semangat dan mampu untuk mengekspresikan dengan baik. Ideologi sebagai perempuan harapan Kartini adalah cerdas, di mana seorang perempuan haruslah cerdas dan mandiri. Kartini menyampaikan tentang emansipasi Perempuan. Perempuan juga berhak untuk mencapai harapannya.
Kartini telah banyak mendeskripsikan posisi, peran, dan emansipasi perempuan. Melalui surat-surat kepada bangsanya pada tahun 1899-1904, Kartini mengungkapkan pendirian yang melandasi pilihan sikapnya. Sikap yang mengekspresikan keyakinannya bahwa emansipasi perempuan yang selama itu diperjuangkannya pasti akan terjadi, hanya saja kejadiannya memang tidak harus berlangsung cepat. Berkat surat-surat Kartini untuk bangsanya, Kartini telah dikenal sebagai “feminis pertama” di Indonesia. Patutnya, semua perempuan harus membuktikan pandangannya yang mengungkapkan tentang emansipasi perempuan.
Pandangan Kartini bahwa setiap perempuan harus menjadi “perempuan modern” yang bersifat berani, mandiri, yang mampu menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang, gembira, penuh semangat dan optimis dalam mencapai cita-cita dan harapannya. Perempuan berjiwa Kartini adalah perempuan yang mampu bekerja tidak hanya kepentingan dan kebahagiaannya sendiri, melainkan perempuan yang bekerja untuk masyarakat luas, dan berdedikasi demi kebahagiaan sesama manusia. Perempuan harus memiliki jiwa dan semangat yang menyala-nyala demi memprioritaskan cita-cita yang baik, dan memerdekakan pikiran yang ideal demi tercapainya suatu harapan. Tanpa memaksa apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, perempuan tetap halal untuk berjuang secara mandiri demi dirinya sendiri maupun demi orang lain.
Meskipun harapan Kartini tentang emansipasi perempuan tidak tercapai secepat mungkin, tetapi kini cita-cita Kartini yang berharap perempuan harus modern telah mulai tampak terlihat, salah satu contoh di Indonesia ialah sekarang banyak pemimpin perempuan, banyak pekerja perempuan. Kini perempuan tidak lagi hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi perempuan sekarang bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus berkakrir cemerlang. Kini perempuan tugasnya tidak hanya untuk memasak, berdandan, mengandung, melahirkan, menyusui, dan melayani laki-laki, tetapi posisi perempuan sekarang dapat menjadi pemimpin, dan dapat menjadi partner laki-laki untuk berjuang mencari nafkah. Perempuan modern adalah perempuan yang dapat berjuang melakukan apa saja sesuai tugas kebijakan maupun sesuai dengan pilihannya.

Oleh : Bungah Wijayanti
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – UMM

Berita Lainnya :