ISIS Tidak Melemah

Oleh Sunardi, Ketua Program Kenotariatan Pascasarjana Universitas Islam Malang 
dan Penulis Buku Terorisme
 
Dari pemberitaan, kekuatan kelompok ISIS di Filipina memang dipastikan terus melemah setelah militer Filipina berhasil menyita sejumlah senjata dan peralatan tempur lainnya. Hasil sitaan tersebut memang diperlihatkan ke public, namun benarkah dengan beberapa langkah yang dilakukan militer ini ISIS memang melemah?
Lebih baik tidak ada klaim ISIS melemah, pasalnya ini akan membuat daya baca kita bisa ikut melemah. Apalagi indikasi sebaliknya menunujukkan, bahwa serangan terorisme semakin marak di belahan dunia, termasuk yang menimpa Indonesia. Penusukan anggota Brimob dan Ledakan bom di Kampung Melayu Jakarta beberapa waktu lalu misalnya juga diklaim sebagai tindakan yang dilakukan kelompok teroris ISIS (Islamic State of Iraq and Sham) 
Sebagai contoh lagi, serangan teroris (ISIS) di Paris di awal tahun 2017 memang tidak sampai menggemparkan dunia seperti serangan tahun 2015, akan tetapi ini tetap harus dibaca sebagai ancaman sangat serius, bukan hanya untuk Paris, tetapi juga Negara manapun di muka bumi, termasuk Indonesia.
Gara-gara teror yang sering mengguncang Paris, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha mengingatkan, pascaserangan teror, Kementerian Luar Negeri telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI yang berada di Prancis untuk menghindari tempat  atau pusat keramaian.
Serangan itu diklaim ISIS dengan korban satu orang polisi tewas dan dua orang terluka, artinya ISIS menyatakan bertaggungjawab atas serangannya. Klaim yang disampaikan ISIS ini layak dijadikan sebagai obyek bacaan, bahwa ISIS terus berusaha meyakinkan dunia, bahwa dirinya merupakan organisasi teroris yang paling menakutkan.
Upaya meyakinkan dunia itu menjadi modul lain dari kampanye yang dilakukan ISIS supaya negara manapun, apa itu yang sekuler atau berlabel “agama” tertentu,  selalu memperhitungkan, bahwa ISIS mampu memproduksi horor local hingga global.
Hal itu menunjukan, bahwa ISIS akan melanjutkan kampanyenya untuk dunia dengan cara memproduksi episode pengeboman atau memboomingkan radikalisme masif dengan cara mengulanginya di tempat yang sama atau di tempat berbeda di sejumlah negara manapun yang menjadi targetnya.
Apa yang niscaya dilakukan ISIS itu sejatinya tidak berbeda dengan karakter utama teroris. Masyarakat tentu belum lupa misalnya dengan tragedi Bom Bali I yang kemudian diikuti dengan tragedi bom Bali 2, yang secara historis kasus ini dapat terbaca, bahwa misi dan strategi terorisme adalah memproduksi horor di tengah masyarakat secara berkelanjutan untuk membuktikan eksistensinya.
Publikasi  kekejian yang ditabur ISIS memang tergolong akseleratif. Publikasinya yang bersifat terori memang bukan hanya telah menyerang dahsyat negara ini, tetapi juga sudah meng-global, sehingga apa yang dilakukannya di Paris, Indonesia, dan lainnya adalah bagian dari strateginya untuk memberikan tekanan pada dunia kalau dirinya mempunyai “negara-negara” kecil dimanapun yang disukai dan diperlakukannya secara liberalitas.. 
Penempatan Indonesia oleh ISIS  sebagai bagian dari “desa dunia” (globalisasi) yang harus dijadikan medan pertempuran, dan bukan hanya negara-negara Eropa, membuktikan, bahwa doktrin dalam “kanpanye” ISIS bisa dibaca oleh warga bangsa di muka bumi kalau ISIS sejatinya sebagai organisasi  yang berkeinginan kuat menghegemoni negara-negara lain dengan beragam pola horor.
Kekejaman atau barbarianisme yang pernah ditebar di Jakarta (kasus Thamrin), juga mengindikasikan kalau ISIS layak ditempatkan sebagai kelompok teroris yang terus “memprogresifitaskan” pola horornya, atau  ISIS dapat dikategorikan sebagai kumpulan manusia bertangan-tangan kotor (the dirty hands) yang telah menempatkan masyarakat, bangsa, atau komnnitas lain yang berbeda dengan dirinya sebagai musuh yang harus dibuat takut dengan berbagai cara.
Aamaaq News Agency dalam aplikasi Telegram seperti dilansir dari Reuters. juga menyebutkan, bahwa militan ISIS adalah orang-orang dibalik serangan bersenjata dan bom pada Kamis (14/1/2016) pagi di Jakarta..
Pemberitaan itu seolah menguatkan, bahwa terorisme dari kelompok ISIS merupakan kelompok teroris yang dewasa ini dikenal paling cepat dalam melakukan publikasi atas aksi-aksinya. ISIS distigmanya sebagai organisasi teroris yang berkecenderungan akan terus melakukan aksi-aksinya guna menunjukkan pada masyarakat internasional kalau gerakannya menciptakan masyarakat barhaluan baru atau bisa menciptakan “negara-nagara” kecil bukanlah main-main.
Pemberitaan dari Reuters saat Paris dibom atau dijadikan ajang peperangan oleh teroris juga sama.  ISIS berhasil “menyeret” media dengan mengakuinya kalau dirinya kelompok Islam garis keras yang cukup sukses menciptakan horor. Karena media bisa terus digunakan sebagai instrmen “kampanyenya ini, akhirnya ISIS menunjukkan sikap terbukanya sekalian melalui media sosial kalau apa yang terjadi di Paris merupakan bagian dari “karya” perjuangan atau realisasi jihad untuk menggalang kekuatan dari Negara-negara Islam.
Meski begitu, dari beberapa kali ulah ISIS yang menabur kekejaman dimana-mana, tidak setiap bangsa atau negara mau diajak secara terbuka melawan ISIS. Produktifitas horor yang dilakukan ISIS telah terbukti ampuh dalam menghambat atau bahkan membuat gagap siapapun dan negara manapun yang bermaksud melawan dirinya.
Uni Emirat Arab (UEA) misalnya pernah mendadak menarik serangan udara yang tergabung dalam koalisi militer internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) untuk menyerang posisi pertahanan militan ISIS, 
Keputusan itu diambil karena UEA takut dengan keselamatan warganya paska reaksi ISIS yang membunuh dengan cara sangat keji terhadap pilot militer asal Yordania paska Amman memutuskan berkoalisi dengan AS.
Memang di satu sisi, barangkali tidak salah jika UEA menarik serangan udaranya, namun di sisi lain jika berpijak pada kasus kekejian ISIS yang dari waktu ke waktu semakin mengerikan, maka semestinya UEA justru harus melancarkan perlawanan secara militan, totalitas, dan berkelanjutan. 
Perlawanan itulah yang memang seharusnya ditunjukkan oleh UEA sebagai jawaban atas “kampanye” barbarian yang ditabur oleh ISIS. Bangsa manapun di muka bumi ini tidak boleh kecil militansi dalam melawan segala bentuk organisasi semacam ISIS yang mengampanyekan doktrin bertajuk “penghalalan” pembunuhan atau pembantaian masyarakat dan bangsa beretnis, berbudaya, dan beragama apapaun.
Perlawanan dari seluruh warga bangsa dunia akan menjadi jawaban atas kebiadaban atau “kebinatangan” di ranah global yang “dikampanyekan” ISIS. Kita tidak mungkin membiarkan praktik sadisme ISIS seperti penembakan sandera yang diikuti publikasi, bom bunuh diri, pemenanggalan kepala, dan pembakaran hidup, serta “perang kota” gaya baru.
Selain itu, secara husus ketika ISIS terus menunjukkan “produktifitasnya” dalam menggalang kekuatan dan menyebarkan horor dimana-mana, maka sudah seharusnya pihak inteljen, baik dari Polri maupun TNI, untuk memprogreisifitaskan kinerja terbaiknya, diantaranya dengan selalu membaca berbagai doktrin dan organisasi baru yang berkembang di tengah masyarakat yang diniscayakan berelasi dengan ISIS. 
Pihak inteljen tidak boleh pasip. Inteljen harus aktif menyelami realitas kehidupan di tengah masyarakat atau rajin mencari informasi yang berkembang yang berkaitan dengan dinamika informasi kontemporer tentang akselerasi ISIS  dan “madzhab-madzhab” barunya, di samping terus menggelorakan akselerasi militansi nasionalisme ke setiap elemen bangsa ini.
 

Berita Lainnya :