Jalan Kita Masih Panjang

 
Kami menyerahkan segenap raga dengan serela-relanya kepada tanah air dan bangsa... juga kami adalah berusaha ikut mengembalikan hak tanah air dan bangsa atau peri kehidupan yang merdeka. Tiga ratus tahun, ya walau seribu tahun pun, tidaklah bisa menghilangkan hak negeri Indonesia dan rakyat Indonesia atas kemerdekaan itu. (Soekarno, Indonesia Menggugat: 1930).
72 tahun sudah Indonesia memperingati kemerdekaannya. Tetapi, meski sudah 72 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti: benarkah secara substansial kita sudah benar-benar merdeka? masih sering kita dengar. Jika kita menjawabnya dengan “sudah”, maka jawaban ini akan menjadi problematik ketika kita membenturkannya dengan kenyataan empirik.
Maka, seseorang akan mencari “jalan tengah” untuk menjawab pertanyaan filosofis seperti itu. Misalkan, yang sering kita dengar adalah, “kita memang sudah merdeka dari imperialisme bentuk kuno yang dicirikan dengan invasi militer dan penjajahan, tetapi kita belum merdeka dari kemiskinan dan keterbelakangan, kita masih belum merdeka dari para koruptor yang menggarong uang rakyat, dan lain-lain”.
Jalan lahir negara-bangsa tidak seragam. Ada yang lahir melalui perjuangan kaum pekerja seperti di Rusia, melalui basis tani yang dipersenjatai seperti di China dan Vietnam, ataupun "borjuasi keci"' di perkotaan yang berasosiasi dengan perlawanan tani di perdesaan dan pegunungan seperti di Meksiko dan Kuba.
Di luar itu, pemberontakan the white settler atas motherland-nya seperti di Amerika Serikat menjadi model kelahiran banyak negara di benua Amerika dan Australia. Di Perancis, revolusi atas kemonarkian kuno melahirkan dua kekuatan yang menghuni kawan gunung api yang sama. Ada sans culotte, kelompok yang menuntut distribusi kekayaan bagi semua, ada bourg atauburgeis yang menuntut hak kepemilikan pribadi. Indonesia menempuh jalan sejarah tak sama. Sebelum abad ke-20, perlawanan bersenjata digerakkan elite feodal dengan sifat primordial. Diponegoro di Jawa, Imam Bonjol di Sumatera Barat, Hasanuddin di Makassar, Pattimura di Maluku, dan banyak lagi, rontok satu per satu. Semua gagal merentas upaya dekolonisasi. Dekolonisasi sebagai proses transformasi terbitnya kesadaran kebangsaan baru dimulai sejak pangkal abad ke-20 dan berlangsung sengit di sepanjang tiga dekade pertama abad itu. (Agus Hernawan, Kompas edisi 17 Juli 2017).
oleh karenanya, benarlah apa yang dikatakan oleh Ernest Renan, bahwa suatu bangsa terbentuk karena dua hal, yakni bersama-sama menjalani suatu riwayat, untuk itu maka akan menciptakan perasaan senasib dan sepenanggungan, serta mempunyai keinginan hidup menjadi satu.
 
Mewujudkan Amanah Konstitusi
Sebetulnya apa yang menjadi ukuran suatu bangsa itu merdeka lahir batin? Jawaban dari pertanyaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, sejauh mana sebuah bangsa itu mampu mewujudkan amanah konstitusi. Dalam konteks Indonesia, amanah konstitusi itu tertuang jelas  dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang terdiri dari: Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; Kedua, memajukan kesejahteraan umum; Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa; Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Berita Lainnya :