Jejak Teror di Bumi Angrok



Tak butuh waktu lama seusai kerusuhan Mako Brimob oleh 155 narapidana terorisme (napiter) yang menewaskan 5 polisi (8/5), aksi keji bom gereja dan Mapolres di Surabaya (13/5), serta aksi penabrakan di Mapolda Riau, pihak kepolisian bersegera memburu para terduga pelaku teror. Di Jawa Timur, hingga Rabu (16/5), Tim Densus 88 Anti-Teror menangkap hingga 18 terduga teroris yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Malang.  Tim Densus 88 bahkan menembak mati warga Singorari (MP, 17/5).  Terlepas dari peristiwa salah tangkap di Sawojajar, Malang, harus diakui bahwa Malang merupakan titik penting dalam simpul gerakan teror di Jawa Timur. Topografi Kabupaten Malang yang berbukit, memiliki gunung-gunung, hutan, serta area terpencil, dan Kota Malang yang banyak pendatang baru serta kaum muda, menjadikan Malang Raya kondusif untuk dijadikan titik penting persembunyian, aktifitas, dan penyebaran ideologi radikal.      
 
ISIS/Daesh di Malang
Arti penting Malang bisa dicermati dari pemilihan wilayah ini sebagai pusat aktifisme proponen utama pelaku teror dan simpatisannya.  Deklarasi ba’iat kepada Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) atau Darul Islam (Daesh) pada 20 Juli 2014 dilakukan di Dau, Kabupaten Malang, untuk menyambut pendirian khilafah ISIS 29 Juni 2014. Sempat berpindah dari beberapa titik di Kota Malang, deklarasi sumpah setia pada khalifah ISIS, Abdurrahman Al Baghdadi, dan sosialisasi Ansharul Khilafah, akhirnya dihelat di sebuah masjid terpencil Sulaiman Alhunaishil di Dusun Sempu yang dihadiri seratusan simpatisan dari penjuru Jawa Timur.    
ISIS di Indonesia makin menggencarkan sepak terjangnya paskadeklarasi khilafah, termasuk mengunggah video propaganda Salim Mubarak Attamimi alias Abu Jandal Al Andunisy di Youtube Desember 2014 yang menantang Panglima TNI sekaligus mengajak warga Indonesia untuk berperang ke Suriah. Komandan lapangan Daesh Indonesia—bersama Bahrun Nai’im dan Bahrum Syah—yang telah terbunuh tahun 2016 di Mosul, Irak, ini adalah warga Kasin, Malang dan sukses mengajak beberapa kerabatnya, termasuk beberapa keluarga (ayah, ibu, dan anak-anaknya) asal Lawang, untuk berhijrah dan ikut berperang di Suriah dan Irak. 
Bersama Bahrun Na’im, Abu Jandal merupakan pemimpin utama faksi Jama’ah Ansharul Khilafah (JAK) dengan Aman Abdurrahman sebagai koordinator puncaknya. JAK memegang kendali gerakan dan diskursus Daesh di Indonesia. Dua faksi kepemimpinan lainnya ialah faksi intelektual Daesh Indonesia dengan Abdurrahim—alumnus Ngruki—sebagai koordinatornya, dan Katibah Nusantara (KN) yang dipimpin oleh Bahrumsyah (Sholeh, 2016).
Sementara Jama’ah Ansharud Daulah (JAD), yang sering disebut-sebut polisi, adalah organisasi tanpa struktur pasti yang mewadahi para simpatisan ISIS di Indonesia dengan Aman Abdurrahman  sebagai pemimpinnya.  Kelompok ini berusaha merangkul kelompok pro-ISIS lain, Majelis Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah, yang telah tertembak mati di Poso tahun 2016.  Gurita pengaruh ISIS di Indonesia ini menandakan bahwa negeri ini tidaklah kebal dari fenomena dan instabilitas di Timur Tengah.    
Warga Malang juga termasuk yang menyumbang petempur Daesh dari Indonesia. Bakesbangpol Jatim (2017) menyatakan tiga belas deportan Daesh dari Turki yang masih radikal, empat petempur merupakan warga Malang, selain dari Banyuwangi, Kediri, Sidoarjo, Lamongan, dan Magetan. Kapolres Malang melaui MP (17/5) menyatakan alumni Suriah di Malang kini berjumlah 10 orang.  Sebelumnya, dalam tahun 2016-2017, Tim Densus 88 juga telah menangkap delapan warga Malang anggota ISIS.  Kapolres Malang (2017) mengungkap bahwa kedelapan anggota ISIS ini berasal dari Dau, Karangploso, Singosari, Turen, Sumbermanjing, dan Kedung Kandang.  Pihak kepolisian menyebut area Singosari, Karangploso, Dau dan kini Lawang, sebagai titik merah persebaran ideologi dan pendukung ISIS.

Berita Lainnya :