Kartini Simbol Emansipasi

Oleh Miftakhul Jannah
Guru Bahasa Indonesia  SMP Islam Sabilillah Malang


Hari Kartini, muncul dalam sejarah Indonesia berkat perjuangan R.A. Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita. Pada zaman dulu memang posisi wanita kurang dipandang, terutama dalam dunia pekerjaan. Wanita dianggap sosok yang lemah dan hanya mampu berdiam diri di rumah, memasak, menyapu, mengurus anak, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya yang tak pernah cukup jika hanya dikerjakan satu jam. Tentunya jam kerja seorang wanita sebagai ibu rumah tangga tidak ada liburnya dan tak terbatas waktunya. Pekerjaan wanita sebagai ibu rumah tangga dilakukan seumur hidupnya bahkan ketika mereka sakit masih mencoba kuat melakukan semua tugasnya tanpa keluh kesah.

Sejak keberhasilan R.A. Kartini memperjuangkan nasib wanita, wanita mampu dipandang sama dengan pria dalam segala bidang, terutama dunia pekerjaan. Banyak pemimpin perusahaan dipegang oleh seorang wanita, bahkan Republik Indonesia juga pernah dipimpin seorang wanita. Selain itu, fakta saat ini menunjukkan bahwa banyak wanita yang menjajaki dunia karir dan sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Tentunya hal itu tidak mudah dilakukan. Setiap wanita yang mengerjakan peran ganda, yakni antara wanita karir dan ibu rumah tangga pasti memiliki keinginan untuk menjadi ibu yang sempurna tetapi juga ingin sukses dalam dunia karirnya. Sungguh rumit bukan? Tak jarang mereka kesulitan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, lebih-lebih jika sudah memiliki anak.
Bagi wanita yang merangkap peran ganda tersebut akhirnya mencari solusi untuk memudahkan tugasnya. Ketika dia bekerja, dia menitipkan buah hatinya pada jasa penitipan atau kepada ibunya (nenek). Pasti ada perasaan bersalah dan dilema ketika seorang ibu harus meninggalkan buah hati kepada orang lain. Kegundahan itu berusaha mereka tepiskan dengan dalih mereka bekerja untuk kesejahteraan buah hati di masa depan. Lalu, sepulang kerja sang ibu harus memasak dan menyiapkan seluruh kebutuhan keluarga. Kemudian mereka masih harus mengajak buah hati bercanda ataupun mendampinginya belajar. Padahal dalam hati mereka ingin bisa beristirahat ketika sesampainya di rumah.
Tentunya, hal itu adalah sebuah pilihan dan konsekuensi yang harus dijalani seorang wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Karena sehebat-hebatnya wanita dalam karirnya tidak akan berharga jika keluarganya tak harmonis atau tak terurus dengan baik. Oleh karena itu, perlu keseimbangan diantara keduanya.

Pada kenyataannya, anak yang tidak didampingi sosok ibu akan merasa kesepian dan kurang kasih sayang. Namun, ada juga anak yang tetap bisa berprestasi tanpa pendampingan ibunya setiap hari. Intinya, ibu pekerja maupun rumah tangga sama-sama bisa mendidik anaknya dengan baik apabila mengetahui cara bijak dalam mendidik anaknya.

Berita Lainnya :