Kaum Milenial dan Kuasa Politik

Oleh  Ahan Syahrul Arifin
Alumni Universitas Muhammadiyah Malang


Mesin-mesin partai mulai dihidupkan, denyut tahun politik makin terasa. Baliho, spanduk, banner, beragam alat peraga kampanye makin menghiasi suksesi. Suasana riuh rendah postingan, komentar, berita hoax terhampar di sosial media. FB, IG, Twitter, Youtube diserbu iklan kampanye. Semua sedang mengejar opini publik dan melakukan pencitraan yang tujuan utamanya mendapatkan simpati, sehingga dipilih pada 17 April 2019 mendatang.
Kontestasi pemilu serentak tahun ini merupakan perhelatan demokrasi langsung yang pertama kali akan dihela dalam sejarah bangsa Indonesia. Pemilu serentak mencakup pemilihan presiden dan cawapresnya yang diikuti dengan pemilihan anggota DPD-RI, DPR-RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pada hari H pemungutan suara, setiap pemilih akan mendapatkan 5 kertas suara dengan berbagai warna-nya.

KPU menetapkan 7.988 Caleg DPR-RI yang akan memperebutkan 575 kursi, 807 orang memperebutkan 136 kursi DPD-RI, memutuskan 2.207 kursi provinsi, dan 17.610 kursi tingkat kabupaten/kota seluruh Indonesia. Untuk Kota Malang, KPUD menetapkan sebanyak 529 Caleg untuk memperebutkan 45 kursi di DPRD Kota Malang.
Ditengah deru kompetisi politik ini, pemilih dengan kategori muda akan sangat dominan menentukan arah dan hasil pemilu. Pasalnya, tak kurang dari 50 persen pemilih dalam pemilu mendatang berlatarbelakang usia di bawah 35 tahun. Struktur penduduk ini tenar disebut kelompok milenial atau Gen-Y, generasi yang lahir awal 1980-an hingga pertengahan 1990an. Dengan asumsi ini, tentunya, faksi politik manapun yang sukses menggalang, menggaet dan merebut suara pemilih milenial dipastikan dapat memenangkan konstestasi lima tahunan ini.
Namun, bukan tantangan yang mudah untuk mendapatkan dukungan dari kalangan ini. Stigma politik yang kotor dan penuh intrik, membuat halangan bagi kaum milenial untuk aktif berkontribusi dalam dunia politik secara nyata. Belum lagi dengan karakter anak-anak milienal yang mudah bosan, enggak ribet, mau praktisnya saja. Dunia politik yang terkesan “hitam” makin menjauhkan kelompok milenial dari substansi politik yang hakiki.
Padahal dengan jumlah yang sangat dominan peranan mereka melakukan gerakan-gerakan perubahan dalam kancah politik praktis sangat strategis. Dalam konteks inilah, pemahaman terhadap dunia politik, dimana merupakan ruang-ruang strategis dalam pengambilan kebijakan publik mesti dipahami secara utuh oleh generasi muda.

Berita Lainnya :