Kedai Kopi dan Pembangunan Ekonomi

 
Belakangan ini kedai kopi sudah semakin subur bak jamur di musim penghujan. Agen-agen ekonomi saling bersaing untuk menyulap lahan-lahan kosong dan persawahan menjadi kedai kopi yang cozy(menyenangkan). Menyulap lokasi yang sebelumnya tidak punya daya prediksi menghasilkan pundi-pundi materi, kini riuh rendah oleh penggemar kopi.
Memang, tidak semua yang datang ke kedai kopi adalah penikmat atauselevel pecinta kopi. Mereka yang berkunjung ke kedai kopi, saya yakin,mayoritas bukan karena nikmatnya kopi, melainkan sebab nikmatnya suasana sosial yang menyembul di setiap sudutnya. Nuansa damai, harmoni, dan kesetaraanbegitu kuat mengikat konsumen yang hadir.
Obrolan yang menyembul disetiap sudut kedai sangat beragam. Mulai obrolan kelas teri hingga obrolan kelas kakap, macam obrolan politik dan agama. Bahkan tidak jarang kesepakatan politik justru dibuat dalam kedai kopi. Kesepakatan transaksi ekonomi skala besar pun, pastinya sering diselesaikan dalam kedai kopi. 
Kedai kopi yang tumbuh subur, berkelindan dengan data konsumsi kopi domestik. International Coffee Organization (ICO) menyebut, sejak tahun 2000 hingga 2016, jumlah konsumsi kopi terus terkerek naik dari 1,68 juta bags (bungkus) @60 kg menjadi 4,6 juta bags @60 kg. Artinyaterjadi kenaikan sebesar 174 persen. Sebuah kenaikan yang sangat signifikan.
Namun begitu, kenaikan jumlah konsumsi kopi harus bertabrakan dengan kondisi produksi kopi nasional. Sejak tahun 2012 tercatat produksi kopi terus merosot jauh. Dari tahun 2012,angka produksi domestik mencapai 691.163 ton, di tahun 2013 turun sedikit menjadi 675.881 ton dan akhirnya anjlok di tahun 2016 mencapai 639.305 ton.
Penurunan produksi kopi menurut beberapa pihak disebabkan penurunan produktivitas. Tentu masih harus dicari apa sebab memburuknya produktivitas. Bisa jadi faktor hulurisasi yang kurang baik, misalnya pembenihan, ketersediaan pupuk, atau kejenuhan lahan yang perlu reorientasi. Atau memang karena faktor sosial-ekonomi, misalnya permainan politik harga oleh para pemburu rente. 
 
Berbagai faktor kunci dibalik penyebab merosotnya produksi kopi harus ditemukan dengan segera. Sebab, selain kedai kopi yang semakin menjamur subur, juga karena posisi tawar Indonesia sebagai pengekspor kopi yang cukup strategis, berada pada urutan keempat dunia dengan volume ekspor tersebar setelah Brazil, Vietnam, dan Columbia. 
Pemerintah harus terus bergerak dengan cepat untuk menggenjot produksi kopi. Bisa jadi, kedepan, kopi akan menjadi komoditas ekspor utama Indonesia yang kini hanya bergantung pada Batu Bara dan Sawit. Jika kopi bisa menjadi keunggulan komparatif Indonesia dan terus meningkat nilai dan volume ekspornya, jelas akan memberikan efek berganda yang sangat banyak, mulai dari peningkatan cadangan devisa, terbukannya lapangan pekerjaan, hingga penurunan angka kemiskinan. 

Berita Lainnya :