Ketika Puisi Sedang Nakal-nakalnya

 
Sudah dua pekan lebih Indonesia sibuk membahas puisi. Sejak Sukmawati Soekarnoputri mendeklamasikan Ibu Indonesia, pengusaha layar kaca lalu sibuk memanggil para pakar plus komentator. Puisi itu berhasil viral, sampai ke Mabes Polri, sampai ke MUI, dan tentu sampai juga di benak para admin media sosial penghasil berita personal. Menuai kontroversi berkepanjangan, mulai dari yang paham sastra sampai yang kurang paham sastra. Tiba-tiba semua bertanya, “ada apa dengan puisi?”
 
Perilaku Puisi
Sebenarnya puisi yang ditaksir sebagai barang ekspresi berbuah tanda tanya bukanlah hal baru. Fadli Zon pernah membuat Sajak Peluit Kartu Kuning, SBY punya antologi puisi, Jimmy Carter di tahun 1995 pun demikian, dan sebagainya dan seterusnya. 
Puisi diketahui lebih banyak lahir dari para sastrawan, ilmuwan sastra, sampai yang mengaku dirinya sastrawan. Puisi, dari negeri manapun itu, menjadi entitas penting bagi kemanusiaan, bahkan ketika kekuasaan dibungkam oleh keserakahan. Dari Homeros sampai Shakespeare, dari Chairil Anwar sampai Aan Mansyur. Intinya, puisi bukan sekadar susunan bait berirama, untuk mengangkat ataupun menjatuhkan sesuatu, tetapi juga realita dan idealita yang diungkapkan melalui pemadatan kata-kata.
Puisi Ibu Indonesia dianggap melahirkan perdebatan karena menggunakan pola perbandingan dua entitas; agama dan budaya. Diksi “sari konde” dibandingkan dengan “cadar”, lalu “suara kidung” dibandingkan dengan “alunan azan”. Keputusan Sukmawati menggunakan strategi anomali memang tergolong berani, karena diksi tersebut masing-masing mewakili ideologi dan fanatisme. Alhasil, anomali dalam puisi dianggap menyentuh indikator penistaan terhadap agama, sebagaimana yang dirujuk pada Pasal 156 KUHP atau dalam Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965.
Penjelas pasal tersebut menyatakan bahwa penistaan agama terjadi jika menyatakan perasaan atau perbuatan yang bersifat permusuhan atau penodaan terhadap suatu agama. Jika ditelisik lebih lanjut, di antara “sari konde” dan “cadar”, ada frasa “lebih cantik”. Di antara “suara kidung” dan “alunan azan”, ada frasa “lebih merdu”. Lebih cantik dan lebih merdu merupakan ungkapan honorifik (penghargaan). Artinya, tidak serta merta menyatakan bahwa konstituen kedua (agama) itu buruk dan jelek. 
Tentu Ibu Indonesia tidak lahir begitu saja. Setidaknya, Sukmawati memiliki beberapa preferensi sebelum menciptakan Ibu Indonesia. Pertama, Sukmawati memiliki preferensi universal. Artinya, prinsip universalisme Indonesia cenderung ditanamkan dalam puisi. Kedua, Sukmawati menggambarkan sebuah realitas. Frasa “alunan azan” dan “suara kidung” menunjukkan pola aktivitas manusia yang bersifat relatif. Ketiga, Sukmawati memiliki preferensi subjektif. Puisi tersebut diciptakan berdasarkan asumsi dan kecenderungan pribadi.

Berita Lainnya :