“KOBONG” Glaw in The Dark: Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing

Oleh: Risnawati dan Robby Cahyadi
 
Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku yang ada di Suku Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua bahasa Jawa. Suku Osing banyak mendiami di Kecamatan Glagah, Licin, Songgon, Kabat, Rogojampi, Giri, Kalipuro, serta sebagian kecil di kecamatan lain dan Kabupaten Banyuwangi juga terkenal dengan Tari Gandrung yang selalu menjadi maskot kebanggaannya.
Pada zaman sekarang, penggunaan bahasa Osing sangat kurang. Warga Banyuwangi yang masih memakai bahasa Osing pernah diteliti hanya sekitar 53 persen yang merupakan penutur aktif Bahasa Osing. Itupun yang masih lestari di desa Kemiren di Kecamatan Glagah, Licin, Songgon, Kabat, Rogojampi, Giri, dan Kalipuro. (Elvin, hendrata : 2015) 
Bahasa Osing bisa dikatakan bahasa asli dari Banyuwangi, karena bahasa Osing berasal dari suku Osing yang asli dari Banyuwangi. Begitu banyak pengaruh dari luar yang menyebabkan bahasa Osing mulai mudar dari penuturnya, terutama di daerah asalnya. Mereka mulai meninggalkan bahasa nenek moyangnya. Bahasa yang telah berumur ratusan tahun. Dampak terbesar apabila bahasa Osing punah akan hilangnya kultur dan budaya yang telah melekat sejak lama. Karena bahasa Osing itu sendiri sudah menjadi bahasa ciri khas kota Banyuwangi sebelum bahasa Jawa. Jadi bahasa Osing juga bisa disebut dengan bahasa Jawa kuno dan juga berakibat akan hilangnya penduduk asli Banyuwangi kemudian akan mulai banyak penduduk pendatang di kota Banyuwangi.  
Produk “KOBONG” GLOW IN THE DARK: kaos beranimasi muatan bahasa Osing, dimana kaos ini nanti selain unik, desain tulisan dan gambar juga bisa menyala ketika di malam hari. Dan tak lupa kaos ini didesain dengan adanya bahasa Osing yang dibuat dengan model kata-kata yang mempunyai makna dan bisa cepat dipahami oleh pembaca atau pembeli. Sedangkan dari segi bahasanya sudah dikuatkan dengan adanya kamus bahasa osing. Dimana kamus ini hanya tercetak secara limited edition karena tidak semua orang bisa mendapatkannya. 
Tetapi dengan kecanggihan di era moderen ini, kamus bahasa Osing sudah bisa didownload di internet.  Kaos ini  bisa menjadi salah satu alternatif cara untuk melestarikan dan menghidupkan bahasa Osing terutama di Banyuwangi. Sehingga kami (Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati) mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Muhammadiyah Malang membuat terobosan dengan melestarikan bahasa dan budaya Osing dengan menarik dan modern. 
Menarik dengan tulisan, kemudian dari segi modern terdapat pada gambar budaya yang kita animasikan menjadi unik dan menarik. Pada pembuatan kaos ini, terdapat 30 desain kaos, yaitu terdiri dari 15 desain premium dan 15 desain monokrom. 
Pada gambar atau icon yang digunakan dalam produk kami yaitu, Icon Gandrung dengan 4 macam variasi, Barong Using dengan 3 macam variasi, setelah itu Udeng, kemudian budaya adat Kebo-keboan, dan Gedhongan kemiren. Setelah pada budaya tadi, kami juga menyediakan beberapa icon kuliner dari kota the sunrise of java atau kota Banyuwangi. Yaitu, identik dengan Nasi tempong, Durian merah, Ayam pedas rantinem, Pecel pitik, dan yang paling khas yaitu Rujak soto.(*) 
 

Berita Lainnya :