Kultur Masif Kekerasan Terhadap Anak

 
Menurut Profesor Henk Schulte Nordholt, dalam sejarah Indonesia, intensitas kekerasan meningkat pada saat negara memperkuat kekuasaan  atau  saat ekonomi sedang suram. Itu menunjukkan, ketika negara lebih peduli pada kemapanan dirinya, maka akan banyak kealpaan terhadap kewajiban yang seharusnya dilaksanakan.  Saat negara lebih sibuk mengurus dirinya atau “berjibaku”dengan problem ekonomi dan politik, maka berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat merupakan “biaya” yang harus dibayarnya.
Berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat bukan semata akibat kesalahan pelaku atau seseorang yang menjadi korbannya, tetapi tak lepas dari kondisi Negara  yang “terkuras” enerjinya akibat terfokus mengurus para oportunis ekonomi dan politik. 
Saat elemen negara  belum mampu menceraikan dirinya dari mental petualangan  dalam berebut dan mempertahankan kekuasaan, atau lebih disibukkan mencari dan membagi dividen struktural (keuntungan kedudukan), maka kekerasan yang marak dan bermekaran di tengah masyarakat, adalah wujud riil kejahatan (kealpaan) yang diperbuat negara.
Faktanya, di negeri ini, anak-anak dari keluarga miskin sedang menjalani kehidupan di zona rentan ketidakberdayaan (empowerless). Mereka sering dan mudah “bercengkerama”, atau ber-akrab-akrab dengan kekerasan (violence). Berbagai modus kekerasan telah menjadi ”sahabat” dan bahasa keseharian kehidupannya.  
Merujuk pada data layanan pengaduan masyarakat melalui  Hotline Service dalam bentuk pengaduan langsung, telephone, surat menyurat maupun elektronik, kepada Komnas Anak  yang setiap bulannya tidak kurang dari 200 (dua ratus) pengaduan pelanggaran terhadap hak anak, adalah logis jika gugatan utama ditujukan pada sikap alpa negara dalam  menunjukkan advokasinya pada anak.
Dalam laporan pengaduan ke Hotline Service Komnas Anak tersebut, pelanggaran terhadap hak anak  ini tidak semata-mata pada tingkat kuantitas jumlah saja yang meningkat, namun terlihat semakin komplek dan beragamnya modus pelanggaran hak anak itu sendiri.
Data itu menunjukkan, bahwa anak-anak kini sedang dijerumuskan dalam lingkaran setan yang menghancurkan masa depannya akibat  direlasikan dengan konstruksi kultural dan sindikasi yang menasbihkan kekerasan sebagai drama pembenaran mendapatkan keuntungan materialistik maupun status sosial, baik di lingkungan keluarga maupun  di lingkaran komunitasnya. 
Mereka itu “dimiskankan” dari dan oleh perlakuan-perlakuan yang memanusiakan dan menjunjung tinnggi nilai-nilai  keadaban. Mereka ini dijadikan obyek perilaku ketidak-adaban dan kebinatangan atau instrumen pembenaran dan penguatan “industri ketidakmanusiawian” oleh seseorang, sindikasi,  atau sekelompok orang yang kehilangan nurani kemanusiaannya. 
”Industri ketidakmanusiawiaan” itu muncul dan berkembang ketika negara kehilangan keberdayaan dan kecerdasan peran strategisnya secara empirik. Kegagalan atau kelumpuhan negara dalam mengatur dan melindungi warga, khususnya terhadap anak-anak, mengakibatkan perlakuan ilegal secara individual, kolektif, dan  sistematis mengalami peningkatan dan penguatan. 
Anak-anak yang menjalani kehidupan di ranah empirik negara itu tak ubahnya kurcaci yang dirampas kebahagiaan dan pertuinbuhan psikologisnya.  Mereka ini gampang diperlakukan sebagai bagian dari ”dosa” yang mengakibatkan kemiskinan keluarga atau orang tuanya terus berlanjut.  

Berita Lainnya :