Literasi Politik Citra Diri

 
Gunawan Muhammad (2008) pernah mengatakan bahwa kehidupan politik telah berubah menjadi lapak dan gerai, kios dan show room. Sebuah masa yang menempatkan hasil jajak pendapat umum jadi ukuran yang lebih penting ketimbang kebenaran. Penampilan yang atraktif lebih efektif daripada gagasan sosial yang menggugah. Inilah era politik yang menuntut semua kontestan mengelola citra, menampilkan kesan baik di mata masyarakat.
Dunia politik layaknya panggung hiburan. Keduanya menuntut konvergensi. Keduanya sama-sama perlu popularitas, prestise, dan cara-cara strategis guna menjaga citra diri. Pada situasi seperti ini, sering perilaku politik kehilangan substansinya. Para kandidat yang sedang berlaga dalam kontestasi Pilkada, Pileg, atau Pilpres sering terjebak dalam laku politik citra diri. Bukan esensi dan substansi yang dijunjung, namun hanya sebatas pencitraan.
 
Politik Permainan Citra
Kondisi ini semakin diperburuk karena masyarakat (publik) lebih dipandang sebagai pasar (public as a market) sedangkan aktor politik ditempatkan sebagai produk (politician as a product). Layaknya sebuah produk sebuah perusahaan, maka ia harus dikemas menarik karena kemasan (packaging) bisa menjadi faktor dominan dalam mendulang sukses penjualan. Demikian halnya dengan politik, para kontestan harus dikemas sedemikian rupa agar menarik minat khalayak untuk memilih.
Dalam upaya pencitraan ini, tidak jarang segala cara dilakukan. Sering terjadi ketimpangan yang kentara antara kenyataan (realitas) yang dicitrakan dengan realitas yang sebenarnya. Yang sering muncul justru realitas yang bukan sesungguhnya bahkan cenderung realitas yang berlebihan. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai realitas hiper (hyperreality). 
Merujuk pada Teori Image Building yang menyebutkan bahwa, citra akan terlihat atau terbentuk melalui proses penerimaan secara fisik (panca indra), masuk ke saringan perhatian (attention filter), dan menghasilkan pesan yang dapat dilihat dan dimengerti (perseived message), yang kemudian berubah menjadi persepsi dan akhirnya membentuk citra (M. Wayne De Lozier, 1976).
Politik permainan citra ini semakin dipermudah dan diuntungkan dengan munculnya media sosial (medsos). Melalui media yang popularitasnya sangat tinggi ini dijadikan ajang tebar pesona. Citra dikelola sedemikian rupa agar tumbuh kesan simpatik, merakyat, peduli wong cilik, membela yang papa, pro rakyat, cinta yang muda, peduli kota, care pada kemacetan, banjir, kemiskinan, kesempatan kerja, kesehatan, pendidikan, dan sejumlah masalah pelik lainnya. 
Dalam urusan mengelola citra, medsos memang punya banyak keunggulan. Lewat beragam platform medsos seperti Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, Line, WhatsApp, dan Website memang perkasa dalam menyulap kesan. Lewat tampilan berbagai wujud teks berupa foto, video, audio, grafis, animasi, meme, kata-kata, dan karikatur, citra tertentu bisa dititipkan. 
Melalui olah visual lewat sudut pengambilan gambar (angle) tertentu dan olah foto lewat beragam software fotografi, wajah yang biasa bisa tampil luar biasa. Raut muka yang aslinya sulit tersenyum bisa tampak sumeh. Foto dipasangi kopyah, jilbab, foto didesain dengan background tokoh-tokoh besar negeri ini,  dan foto ditempel di tengah kerumunan rakyat jelata, sering menjadi andalan sang kandidat dalam upaya tebar pesona. 
 
Tidak Menyentuh Esensi
Sejumlah media arus utama (mainstream media) seperti koran, majalah, radio dan televisi juga tidak sepi dari politik citra diri ini. Lewat sebuah pemberitaan juga dimungkinkan ada pesan terselubung seperti yang dikehendaki tim sukses pasangan tertentu. Media bisa melakukan pembingkaian (framing) tertentu terhadap sebuah peristiwa. Media tertentu juga telah memberi porsi yang berlebih pada sosok tertentu karena pemilik medianya sekaligus merangkap sebagai politisi yang sedang ikut berkompetisi.
Iklan politik yang bermunculan ternyata juga tidak mengusung pesan yang esensi. Tidak sedikit iklan politik dibuat dengan menampilkan publik figur seperti artis dan selebritis. Para kontestan politik berebut sosok bintang film, penyanyi, selebgram, dan vlogger, karena mereka punya kekuatan memengaruhi massa. Bisa jadi tidak ada yang salah dengan cara-cara ini, asalkan pesan iklan yang diusung menyentuh esensi bukan sekedar hanya mengukuhkan upaya tebar pesona semata.
Gun Gun Heryanto (2010) menyebut bahwa inilah era komunikasi politik dalam industri citra. Industri citra adalah industri di bidang komunikasi yang fokus urusannya terkait dengan citra. Sebut saja industri media massa, konsultan komunikasi, agen publisitas, industri advertising dan lain-lain. Komunikasi politik di era industri citra memang sangat dinamis dalam hal pengemasan personal maupun organisasional.
Politik citra diri esesinya mengandung unsur ketidakjujuran. Walau demikian, seperti dikemukakan McGinnis (l970) masyarakat pemilih sesungguhnya lebih melihat kandidat bukan berdasarkan realitas yang asli melainkan dari sebuah proses kimiawi antara pemilih dan citra sang kandidat (gambaran imajiner). Inilah yang menjadikan model politik citra diri ini tidak jarang mengecewakan karena ekspektasi pemilih jauh berbeda dengan kenyataan ketika sang politisi kelak menjabat.
Dalam Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 mendatang, ada gelagat politik citra diri yang kian menguat, sementara literasi terhadap politik citra ini justru melemah. Tidak jarang masyarakat terlena dengan permainan kesan yang disuguhkan oleh para aktor politik. Untuk itu masyarakat harus melek politik citra diri ini. Masyarakat harus terus dididik dan belajar agar menjadi masyarakat yang melek politik (political literate).
Pengarusutamaan literasi politik citra diri ini menjadi sangat urgen mengingat politik citra diri ini semakin hari semakin menghadirkan hiperrealitas. Dalam upaya menguatkan masyarakat ini butuh kesadaran, kemauan, pengetahuan, dan goodwill semua pihak terutama partai politik agar terwujud kehidupan politik yang lebih memberdayakan masyarakat. Mari bersama wujudkan masyarakat yang political literate. (*)
Oleh SUGENG WINARNO, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Berita Lainnya :

loading...