Melawan Masifikasi Kemarahan

Oleh: Abdul Wahid
Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
dan pengurus AP-HTN/HAN



Fakta yang sering terbaca, bahwa di tengah masyarakat praktik pengeksploitasi dan pengebiri hak hak orang teraniaya masih gampang ditemui. Mereka dijadikan korban oleh praktik kerakusan seseorang atau sekelompok orang. Ironisnya, kerakusan ini terkadang berbajukan kepentingan agama, sosial, dan umat, padahal realitasnya dominan kepentingan pribadi, golongan, atau interes eksklusif lainnya.
Akibat praktik dehumanisasi atau ”pembodohan” itu, kemudian sering sekali memunculkan letupan atau bahkan ledakan kemarahan dari yang seseorang atau kelompok teraniaya. Inilah yang kemudian distigmatisasikan dengan kemarahan akar rumput.

Bentuk kemarahan  itu terwujud diantaranya dengan cara menggelar protes atau aksi-aksi radikal atau bahkan tindak kriminal. Salah satu kelompok yang menjadi representasi praktik pengebirian adalah orang-orang miskin. Mereka tidak akan menjadi miskin kalau tidak karena korban ketidakadilan sosial atau masifikasi praktik dehumanusasi.  
Alamsyah Ratuperwiranegara memang pernah mengingatkan, bahwa ada dua musuh utama yang harus diwaspadai, yakni kemiskinan dan kebodohan, namun peringatan ini perlu diperluas, dengan jargon kalau musuh yang paling utama sejatinya seseorang atau sekelompok orang yang memproduksi kemiskinan, memiskinkan, atau membiarkan kemiskinan dalam keberlanjutannya.
Kalau ada suatu komunitas miskin dan tertindas yang terpaksa menggelar kekerasan (perlawanan sosial), maka dalam kondisi multi krisis yang menghegemoninya haruslah disikapi dengan kearifan, mengingat sangat niscaya bahwa yang dilakukannya itu demi panggilan isi perut, ekspresi rasa frustasi dan regresi, menggugat krisis kepercayaan amanat dan berjuang mengembali­kan hak-haknya yang tergusur atau dipermainkan.
Dapat saja terjadi bahwa ketidakberdayaan seseorang atau suatu komu­nitas yang menjadi korban ketidak-adilan dan ketidak-manusiawian praksis sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya secara reflektif dan eksplosif menunjukkan kemarahannya dengan mengunggulkan protes (perlawanan) yang amat radika­listik dan barbarianisti, karena mereka sudah tidak bisa menahan desakan emosi dalam dirinya akibat ditindas secara berlarut-larut dan berlapis.
Sosiolog Hurton dan Hunt  pernah membenarkan, “akar dari semua gerakan atau aksi massa itu sesungguhnya berasal dari ketidakpuasan”. Hernando de Soto menguatkan, “rasa tidak puas yang timbul dapat dengan mudah mencetuskan mence­tuskan kekerasan dan tindakan ilegal yang sulit dikendali­kan”
Kalau paska pemilu ini dapat dijumpai ada beberapa orang atau kelompok yang marah, maka sejatinya mereka bukan marah pada siapa yang kelak akan menjadi presiden atau para senatornya, tetapi apakah pilar-pilar negara itu nantinya bisa menemukan jalan pencerahan atau penyejahteraan dalam kehidupannya.

Jika yang terbaca marah itu ada sejumlah diantaranya dari golongan akar umput (the grass root community), maka justru penyikapan dengan  bahasa yang jernih dan kebeningan nurani yang harus  ditunjukkan, bukan berbahasa sama-sama amarah yang digunakan.
Penyikapan atas letupan sosial atau aksi-aksi yang terduga didesain oleh sekelompok orang atau kekuatan politik dengan ”meminjam” kekuatan elemen sosial, khususnya kalangan akar rumput,  haruslah dengan pendekatan psikologis kerakyatan, kemanusiaan (keumatan), keadilan, dan kearifan.
Sejalan dengan bacaan itu, Girand dalam Violence and Sacred (1989) mengemukakan, bahwa keberingasan (kemarahan) atau kegalauan sosial itu terjadi karena perasaan tertekan yang berlangsung secara intens yang meluas dalam masyarakat. Keberingasan atau kejahatan kekerasan akan begitu saja bisa terjadi akibat frustasi akut yang diderita seseorang dan masyarakat.