Membaca Pilgub Jatim di Era Millenial

 
Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur antara Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno dan Khofifah Indar Parawansah-Emil Dardak resmi mendaftar sebagai pasangan calon yang akan bertarung di kanca perpolitikan tepatnya pada Pilgub (Pemilian Gubernur) Jatim 2018. Kedua pasangan tersebut cukup memberikan dinamika tersendiri dalam kontestasi Pilgub di Jawa Timur. Sebelumnya antara Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansah sudah pernah bertemu di ajang yang sama bahkan sejak 10 tahun silam, hanya saja memang sebelumnya posisinya berbeda. 
Jika kita melihat rekam jejak (track record) pertemuan antara Gus Ipul dan Khofifah dari Pilgub Jatim yang sebelum-sebelumnya memang Gus Ipul masih sedikit unggul ketimbang Khofifah. Pasalnya dalam dua periode kebelakang pada Pilgub jatim tahun 2008 dan tahun 2013 memang terbukti Gus Ipul meraih kemenangan beruntun atas Khofifah meskipun posisi keduanya berbeda, yakni Gus Ipul sebagai wakil dari Soekarwo (Pakde Karwo) dan Khofifah sebagai Calon Gubernur rival dari Pakde Karwo. Meski dua kali menelan pil hahit setelah kalah dari pasangan yang sama, Khofifah tetap berambisi untuk kembali bertarung di Pilgub Jatim pada tahun 2018 ini. 
Menjadi partner dari Soekarwo (Pakde Karwo) selama kurang lebih 10 Tahun lantas tidak membuat partai Demokrat yakni partai yang menjadi kendaraan politik Gubernur Jawa Timur tersebut memberikan dukungan atau berkoalisi dengan Partai PDIP yang menjadi kendaraan politik dari Gus Ipul. Meskipun demikian, Pakde Karwo secara pribadi tetap mendukung Gus Ipul untuk maju pada Pilgub Jatim 2018. Hal tersebut disampaikan Pakde Karwo disela-sela acara Majelis Dzikir Al Khidmah, di Komplek Tugu Pahlawan Surabaya "Saya pesan khusus kepada Gus Ipul, untuk memajukan Jawa Timur," Surabaya (5/11/2017). Artinya Pakde Karwo ingin tetap menjaga baik hubungan dengan masing-masing calon baik Gus Ipul maupun Khofifah. 
Hal yang menarik dan perlu kita garis bawahi disini antara Gus Ipul dan Khofifah keduanya merupakan kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU). Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Khofifah merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU sedangkan Gus Ipul merupakan Wakil Ketua Pengurus Besar NU. Kedua Kader NU yang bertarung di Pilgub Jatim 2018 ini  membuat dinamika Pilgub di Jawa Timur semakin berwarna, berbeda halnya dengan Pilgub yang berlangsung di daerah lain semisal di DKI Jakarta, Jawa Barat maupun Jawa tengah. Karena memang basis terbesar Nahdlatul Ulama di tanah air ini  salahsatunya adalah Jawa Timur.
Berdasarkan hasil estimasi dari Alvara Research Center yang melakukan survei nasional bertajuk “Potret Keberagamaan Muslim Indonesia” terhadap 1626 penduduk muslim Indonesia yang berusia 17 tahun keatas di 34 Provinsi di Indonesia pada bulan Desember 2016. Yang menarik dari hasil estimasi tersebut bahwasanya Nahdlatul Ulama sangat “java-centric”, dari 79,04 juta jiwa yang mengaku berafiliasi dengan NU tersebut 79,8% nya adalah penduduk yang tinggal di Pulau Jawa, dan dari 57,33 juta jiwa yang mengaku menjadi aggota NU, 86,4% nya adalah penduduk yang tinggal di Pulau Jawa. Sisanya tersebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. 
Meskipun Pilgub Jatim 2018 ini merupakan pertarungan antara sesama kader NU, namun bukan berarti anggota dan simpatisan NU di Jawa Timur tersudut pada satu calon pilihan. Akan ada perpecahan suara pada warga NU di Jawa Timur dan tentunya akan berdampak pula pada tataran masyarakat akar rumput (grass root). Hal yang sama juga diungkapan oleh Muchtar W Oetomo seorang pengamat politik dari Universitas Trunojoyo (UTM) sebagaimana yang dilansir oleh Fakta.news (18/11/17) beliau mengatakan ” Pertarungan dua kubu diametral (berhadap-hadapan) antara Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa dikhawatirkan akan memecah Nahdlatul Ulama, Inilah yang dikhawatirkan”.
Melahirkan perpecahan di tubuh NU.” Muchtar menambahkan petarungan antara Saifullah Yusuf dengan Khofifah layaknya Perang Paregreg di zaman Kerajaan Majapahit. Dimana, perang antar anak Hayam Wuruk ini menjadi awal keruntuhan Majapahit. “Poros tengah atau poros emas yang pada pilgub Jatim 2018 mendatang, akan menjadi penyelamat Perang Paregreg di Pilgub Jatim 2018,” Ujar Mochtar.
Memasuki Era Milenial tentu memiliki pengaruh yang besar terhadap kontestasi politik, terkhusus pada para pemilih milenial. Secara maknawi, peneliti Neil Howe dan William Strauss dalam buku Millennials Rising: The Next Great Generation (Vintage Books, 2000) mengartikan generasi milenial yakni generasi yang terlahir antara 1982 hingga kisaran 20 tahun setelahnya. Artinya pada 2018 ini, mereka berusia antara 15 hingga 35 tahun. Media sosial dan platform digital adalah ciri paling khas menggambarkan generasi ini.
Itu artinya, cara yang paling sederhana untuk mengukur pemilih milenial atau pendukung dari masing-masing calon adalah dengan melihat sejauh mana kedua pasangan calon tersebut dikenal di media sosial, dan sejauh mana konten-konten politiknya mampu diserap anak muda via digital. Maka masing-masing calon harus mampu menangkap fenomena ini, siapa yang lebih gagah dalam mengembangkan sayap kampanyenya melalui media sosial maka bisa jadi calon tersebutlah yang mempunyai masa dan dukungan paling banyak. 
Jika kita melihat data terakhir followers dari kedua pasangan calon, maka hasilnya adalah, @Relawan Gus Ipul-Mba Puti 16,9k followers dan @Khofifah-Emil 8095 followers. Melihat jumlah followers akun Instagram dari kedua calon, tentu kita juga harus melihat followers akun Instagram dari masing-masing personal. Akun Instagram resmi milik Khofifah Indar Parawansa yakni @khofifah.ip 60,8k followers. Sekilas tampak dangkal melihat akun-akun Instagram itu, karena memang masing-masing calon memiliki jumlah followers yang berbeda-beda. Melihat Gus Ipul merupakan wakil gubernur Jawa timur tentu berbeda dengan Khofifah yang sebelumnya sebagai mantan Mensos jelas memiliki followers yang lebih banyak. Mengingat masa Kampanye resmi dibuka oleh KPU pada tanggal 15 Februari, sebelum tanggal itu diprediksi masing-masing followers dari akun-akun tersebut akan semakin bertambah.

Oleh  M. Ibnu Rizal, Mahasiswa Tarbiyah FAI UMM,ktivis IMM Tamaddun Malang Raya

Berita Lainnya :