Membaca Teror Pada Ulama

 
Saat terjadi ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Sengkotek, Loa Jalan Ilir, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur pada tahun 2016, Presiden Joko Widodo meminta Polri mengusut tuntas. Media saat itu menginformasikan realitas terjadinya ledakan dengan daya ledak ringan di depan Gereja Oikumene  pada Minggu pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Diberitakan, bahwa akibat kejadian tersebut setidaknya empat orang anak terluka dan sejumlah sepeda motor rusak.
Berita mengenai peledakan itu benar (bukan hoak). Artinya awak media memang menyampaikan informasi yang benar tentang terjadinya teror di masyarakat dan bukan memproduksi berita sebagai instrumen untuk meneror masyarakat.
Beberapa waktu lalu di masyarakat muncul pemberitaan yang bertemakan teror pada ulama, yang ternyata setelah diusut berita ini hoak. Dalam pemberitaan ini disebutkan tentang sejumlah kiai (ulama) yang menjadi korban penganiayaan dan berbagai jenis ancaman serius.
Meski pemberitaan itu hoak, tetapi sebagian elemen sosial meminta para tokoh agama atau aparat keamanan berlaku lebih waspada, pasalnya  belajar dari realitas historis, para kiai di Indonesia pernah menghadapi berbagai jenis kekerasan seperti pembunuhan misterius.
Terlepas berita teror pada ulama itu hoak, tetapi produsen berita hoak merupakan “teroris” spesial yang tidak kalah dengan teroris lainnya. Pemberitaan hoak yang dilakukannya merupakan “bom” yang bisa menciptakan banyak disharmonisasi sosial, menganggu relasi keberagamaan, dan psikologis.
Kasus itu juga menggambarkan kebenaran tesis Thomas Hobbes yang menyebut, bahwa sosok manusia itu bisa menjadi “serigala” (homo homini lupus) yang sangat kejam, yang tidak peduli hak hidup orang lain.
Pola penyebaran berita dusta mengenai teror ulama, meski tidak berkekuatan dahsyat secara fisik yang bisa dilihat, tetaplah menciptakan ketakutan publik  yang serius. Bagi publik,  teror apapaun, apalagi terhadap tokoh agama merupakan instrumen “membunuh” yang mengerikan.  
Ketika seseorang mendengar pemberitaan akan ada ledakan bom atau pembunuhan secara misterius misalnya, tentu pikirannya tertuju pada terbentuknya  atmosfir ketidakadaban dalam bentuk bangunan rusak berat, mayat berserakan, atau anatomi tubuh manusia sulit dikenali,.
Kondisi itu juga dideskripsikan dengan terbentuknya  kondisi massa berlarian dan bisa saling menginjak begitu mendengar seruan atau kata-kata “ada bom’. Akhirnya kondisi menjadi kacau (chaos). Masing-masing elemen sosial  berusaha menyelamatkan diri, apapun caranya.
Itulah yang pernah diingatkan  Napoleon Banoparte, bahwa di tengah suasana masyarakat yang kacau, hanya kaum “bajinganlah” yang beruntung. Para bajingan bisa memproduksi politik teror  atau meneror kehidupan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Logikanya, mereka yang berniat melakukan kriminalitas atau mencari keuntungan, bisa menjalankan modus operandinya dengan lebih mudah ketika teror sedang atau telah terjadi. Para produsen teror bisa melakukan rekayasa dalam mengolah sedikit atau beberapa kelemahan elemen masyarakat, yang kemudian kelemahan ini dikelola dan dikembangkan menjadi “amunisi” dalam menciptakan dan mengembangkan teror supaya lebih cepat diterimanya (masyarakat).
Dalam kasus ancaman teror lewat berita hoak itu, ada indikasi kuat bahwa pelaku atau kekuatan “tangan-tangan gaib” (invisible hands) dibelakangnya tidak  sebatas berkeinginan mendestruksi kedamaian antar umat beragama, tetapi punya misi besar dalam menciptakan konflik serius supaya tidak terwujud bangunan bernegara yang berkebinekaan kuat.
Bisa jadi pula dalam skenario produsen berita berita hoak  antara pemeluk Islam dengan pemeluk agama lain dihadapkan pada kondisi vis a vis  supaya diantara mereka menjadi kekuatan sosial yang saling bermusuhan dan menghancurkan dengan cara saling “mengamini” atmosfir teror.
Pernyataan Luqman Hakim (2017) membenarkan, bahwa kelompok eksklusif dan radikalis beragama  tidak menyukai  kalau antar pemeluk agama yang berbeda itu bisa menjalani kehidupan dalam ranah kedamaian. Mereka menginginkan supaya elemen lintas agama tidak hidup saling berdampingan dalam kedamaian dan persaudaraan.
Tesis yang ditulis Luqman itu menunjukkan pada kita, bahwa produsen berita hoak teror  itu “teroris” sejati dalam menciptakan disharmonisasi antar pemeluk atau tokoh agama. Mereka tidak menginginkan suatu pemeluk agama menerima dan mengakui eksistensi pemeluk agama lainnya.
Selain itu, produsen berita hoak itu terbaca kalau dirinya berhasrat mendapatkan pengakuan dari publik, bahwa negara telah gagal melindungi warganya, khususnya elemen dan komunitas lintas agama. 
Melalui teror yang dilakukan, para pelaku bermaksud menunjukkan pada publik bahwa negara ini tidak benar-benar serius atau hanya “setengah hati” dalam memproteksi keselamatan warganya. 
Mereka (penyebar  berita hoak) itu juga berobsesi supaya negara di mata rakyatnya bukanlah organisasi  yang kuat dan layak dicintainya, tetapi sebagai organisasi yang lemah dan mementingkan dirinya sendiri. 
Kalau negara sampai dibenci oleh rakyatnya, maka negara ini tak ubahnya suatu bangunan, meski secara ragawi masih berdiri kokoh, namun sebenarnya kropos “jiwanya”. Negara ini ditunjukkan oleh para pelaku teror terbatas sebagai organisasi yang eksklusif dan mementingkan dirinya sendiri.
Pelaku teror tidak akan terus bermunculan atau mengembangkan “kreatifitasnya” dalam memproduksi dan melanggengkan berbagai terornya, bilamana para pemeluk agama mengembangkan pemahaman tentang kebermaknaan kesetiakawanan (nilai-nilai kooperatif) dalam keragaman dan keragaman dalam kesetiakawanan. 
Selain itu, negara juga berkewajiban terus aktif mendampingi dan melindungi aktifitas sosial dan ritualitas yang dijalankan dan dikembangkan oleh masing-masing pemeluk agama.  Kalau negara terus melakukan aktifitas demikian, para pelaku teror yang berusaha mengganggunya, niscaya tidak akan berani meneruskannya.
Negara dan rakyat itu harus paham pesan Cicero yang menyebutkan, bahwa  kebaikan bagi orang banyak adalah hukum tertinggi.  Siapa saja elemen negara atau pemeluk agama yang berlomba berbuat baik, adalah identik  dengan melaksanakan hukum tertinggi di dunia.
Kebaikan bagi orang banyak sudah demikian sering disigkirkan oleh sebagian kecil orang yang mengklaim diri dan kelompoknya sajalah yang paling benar dan berhak memegang kunci surga. Truth claims  tidak selayaknya dijadikan parameter untuk mengabsahkan teror demi teror.
Supaya kita termasuk sekumpulan orang yang melaksanakan dan mengembangkan hukum tertinggi (kebaikan), maka sekelompok orang yang memproduksi teror, haruslah kita lawan bersama-sama.  (*)
Oleh Abdul Wahid, Wakil Direktur I program pascasarjana Unisma, serta Penulis dan Pengurus Pusat APHTN-HAN.

Berita Lainnya :