"Memusnahkan" Negara

 
Ketika beberapa waktu lalu ada ramalan Indonesia akan bubar di tahun 2030, banyak orang meragukan atau mempertanyakan, diantaranya dengan pertanyaaan mana mungkin Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini akan bubar? 
Ramalan bubarnya itu tidak perlu menunggu tahun 2030 dan sebaliknya bisa saja lebih cepat. Cara membaca atau “meramalkanya” saja yang berbeda. Perbedaan ini logis, pasalnya selain alat baca yang digunakan beragam, kepentingan atau “tujuan” membacanya juga bermacam-macam. 
Negeri ini bisa punah atau bubar lebih cepat sesuai akar masalahnya. Salah satu masalah yang bisa memunahkan atau membubarkannya adalah sepak terjang manusia. Edwin Markham pernah mengingatkan, apa yang kita berikan kepada orang lain, akan kembali kepada kehidupan kita. Artinya saat kita memberikan yang jelek, potensi menghancurkan, atau “virus” yang memusnahkan, maka kita akan menuai akibatnya.
Yang dikatakan  Markham itu  identik dengan menempatkan sepak terjang  manusia sebagai akar penyebab yang punya andil terbesar dalam membangun keadaban bangsa dan terwujudnya orde keemasan (golden  era), atau sebaliknya menjadi akar terwujudnya kehancuran atau kepunahan bangsa.
Sebagai suatu sampel, ketika beberapa kali bencana besar menguji negeri ini, kita mesti kembali diingatkan dalam suatu pertanyaan, apakah “negeri ini akan tamat”? atau  apakah “Indonesiaku akan gulung tikar”? atau “apakah bangsa ini akan tenggelam”  atau akankah negeri kaya raya ini akan menjadi “tuyang-tuyang”?
Ada suatu dialog menarik antara Umul Mu’minin Zainab RA dengan Nabi Muhammad SAW. Zainab bertanya kepada Nabi, “apakah kita akan binasa di tengah-tengah orang-orang jahat atau mun­culnya Ya’juj Ma’juj, sedangkan diantara kita masih ada orang-orang saleh”? “Ya”, jawab Nabi, bilamana terdapat banyak kejahatan.
Dialog Nabi dengan isterinya itu mengajarkan mengenai rumus relasi signifikan antara kebinasaan dan kehancuran yang menimpa umat, rakyat dan bangsa dengan perilaku kriminal dari sosok pendusta agama yang berjuluk Ya’juj Ma’juj. 
Yakjuj Ma’juj memang bisa muncul di tengah masyarakat, di dalam diri, di negara, di birokrasi, di anak-anak, di isteri-isteri, di suami-suami, di pemimpin-pemimpin, dan di dalam perbuatan-perbuatan kita. Ia bisa menjadi diri kita, mengendalikan dan menguasai kaum berdasi, serta menjadi pemegang kartu truf yang memainkan nasib rakyat.
Maraknya pelanggaran moral atau beragam kejahatan di negeri ini bisa mendorong Tuhan mengirimkan eksaminasi yang setimpal (adil). Tuhan sejatinya tidak serta merta menjatuhkan azab di luar batas kemampuan dan keberdayaan manusia, kalau saja perilaku manusia tidak sedang atau telah berada dalam ranah animalistik, dehumanistik dan “membubarkan” atau “munahkan” nilai-nilai religiusitas. 
Sabda Nabi Muhammad SAW tegas menyebutkan, “dimanapun manusia berada, azab akan selalu mengikutinya ketika manusia telah memutuskan hubungan dengan Allah (hablum­minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum­minannas)”, yang menunjukkan,  bahwa potensi pemusnahan atau penghancuran akan selalu mengancam dan bersama Negara atau bangsa manapun, manakala elemennya terjerumus sebagai sosok yang rajin “memusnahkan” ayat-ayatNya. 

Berita Lainnya :