Menanti Regulasi Pariwisata Halal


Industri Halal telah menjadi tren global sejak beberapa tahun ini. Tercatat sejak adanya rilis survey potensi industri halal oleh Thomson Reuters dan Dinar Standard. Dinyatakan bahwa pada tahun 2013 pertumbuhan aset industri halal mencapai US$ 1,6 dollar. Dengan pertumbuhan yang pesat, akibat tingginya permintaan kebutuhan akan halal, total konsumsi konsumen muslim pada tahun 2019 akan mencapai USD 3,7 triliun dolar. Terjadi pertumbuhan signifikan sebesar 10,8 persen di banding tahun lalu.
Terkait dengan tren halal yang mengglobal, setidaknya terdapat empat faktor penting yang melatarbelakangi; pertama, mengingkatnya taraf ekonomi masyarakat, khususnya kelas menengah. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya kelas menengah di Indonesia. Dengan semakin banyanyaknya jumlah kelas menengah, berakibat kepada daya beli terhadap produk atau jasa halal juga semakin meningkat.
Kedua, budaya pop kaum Millenial. Dengan semakin meningkatnya ‘populasi’ kaum milenial yang juga telah menguasai ruang publik, budaya ini juga turut mewarnai diskursus ruang publik. Contoh yang paling kongkrit adalah budaya foto dan traveling. Dengan adanya budaya berfoto dan traveling menjadikan destinasi wisata kian berkembang, termasuk destinasi wisata halal.
Ketiga, kesadaran akan halal. Selina Jan Mohammad dalam karyanya Generation M menyatakan, bahwa generasi muda Muslim semakin sadar akan halal dan syariah dalam setiap pemenuhan kebutuhan mereka. Sehingga hal ini meningkatkan permintaan akan produk dan jasa halal.
Keempat, revolusi industri 4.0. gelombang RI 4.0 menjadikan segala transaksi menjadi lebih mudah dengan keberadaan internet of things. Kemudahan tersebut menjadikan pertumbuhan bisnis tour and travel semakin berkembang. Lebih-lebih lagi dengan keberadaan startup yang menyediakan pelayanan jasa untuk ticketing, reservasi dan akomodasi. Dengan empat faktor penting tersebut menjadikan industri halal berkembang, baik di dunia maupun di Indonesia.

Respon Indonesia
Tren global terkait dengan industri halal, khususnya pariwisata halal, direspon oleh Pemerintah Indonesia dengan berusaha untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia (global halal hub). Negara ini telah memiliki beberapa modal berharga sebagai pusat halal dunia, dan modal paling penting adalah besarnya populasi ummat muslim dengan prosentase 75%; sehingga menjadikan permintaan akan produk halal menjadi besar. Dalam teori ekonomi seringkali dinyatakan bahwa permintaan selalu menciptakan penawarannya sendiri (demand creat it’s own supply).

Berita Lainnya :