Mencegah Anak Perempuan Indonesia jadi Teroris

Membaca soal anak, Pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat populer menyebutkan” Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada, tetapi mereka bukanlah milik kita. Mereka memang tidak kita miliki, tetapi bagaimana jika mereka gagal “memiliki” dirinya sendiri? Masihkah orang tua, keluarga, masyarakat, sekolahm atau negara layak dipersalahkan jika mereka gagal “memiliki” dirinya sendiri?
Ketika kita dihadapkan dengan “bacaan” kasus terorisme di Surabaya yang menggemparkan Indonesia dan dunia,  maka salah satu aspek yang mengisi atau mengusik benak kita adalah mengapa ada sosok manusia setega ini sampai melakukan pengeboman, yang diantaranya dilakukan dengan meledakkan dirinya?
Faktanya  memang ada sosok manusia yang tega melakukan kekejian yang luar biasa, yang sosok ini ternyata salah satunya perempuan. Dari beberapa sumber, sosok  perempuan dalam kondisi sambil membawa atau menggendong anaknya melakukan tindakan “sangat berani” dengan cara ikut meledakkan dirinya sendiri.
Sudah sekian lama dan sering kita “diajari” oleh teroris. Mereka terus saja menjalankan aksinya. Mereka tidak pernah kenal kata mati dalam menjalankan misi-misinya. Mereka terus saja menghadirkan beragam model bencana kemanusiaan dimana-mana.
Surabaya hanya menjadi salah satu contoh, bahwa tidak ada wilayah di Negara ini atau belahan dunia manapun yang benar-benar aman dari teroris. Mereka ini bisa memetaka dan menjadikan wilayah atau daerah tertentu sebagai lokasi mewujudkan aksi-aksi kekerasannya.
Tragedi di Suabaya itu, juga setidaknya membuka mata masyarakat di muka bumi, bahwa akselerasi sayap terorisme tidak gampang terlacak dengan pasti. Ada saja cara atau pola yang digunakannya yang membuat masyarakat tercengang
Terorisme bisa muncul dari tempat-tempat apapun dan manapun yang  tidak terduga oleh aparat.  Surabaya yang selama ini dikenal aman dan stabil, tiba-tiba mereka mengusiknya dengan cara yang benar-benar mengerikan.
Itu menunjukkan, bahwa di suatu tempat yang dinilai sebagai wilayah teraman dan jadi barometer keamanan di level nasional dan bahkan internasional, ternyata bisa dirambah dan dicabik-cabik oleh kekuatan terorisme.
Akeselerasi terorisme tersebut mengajarkan, bahwa suatu kesalahan besar jika kita berkesimpulan kalau terorisme berhasil kita kalahkan dan tuntaskan. Terorisme bisa saja unjuk kekuatan untuk memberi pelajaran yang lebih mengerikan pada kita. Boleh jadi sekarang masih tiarap untuk menyusun rencana. Namun nanti, saat kita lengah atau disibukkan dalam konflik, mereka beraksi.
Kesuksesan membongkar jaringan teroris yang dilakukan oleh aparat Densus 88  (Satuan anti Terorisme) di satu tempat tidak mengindikasikan kalau kekuatan teroris melemah, apalagi mengecil. Keberhasilan menjaring tidak otomatis sebagai keberhasilan melemahkan terorisme, apalagi mematikan sel-sel terorisme. Sel-sel ini bisa tumbuh subur dan menyatu menjadi kekuatan terorganisir.
Sudah beberapa kali Densus 88 memang sukses membongkar jaringan terorisme di beberapa tempat atau daerah di Indonesia, namun keberhasilan ini tidak merupakan pembenaran utama kalau terorisme sedang lemah atau sudah kalah, pasalnya dengan berhasil ditemukannya  sejumlah sarang teroris dan beragam aksi yang dilakukannya seperti di Surabaya kali ini, setidaknya mengindikasikan, bahwa  masih ada sejumlah wilayah lain yang besar kemungkinan digunakan sebagai  zona-zona membangun dan mengembangkan gerakannya.
Upaya pengembangan dan pemapanan organisasi terorisme itu diantaranya dengan menjadikan perempuan dewasa dan anak-anak peremuan sebagai instrumennya. Upaya seperti ini yang membuat terorisme tetap mampu menjalankan dan menyebarkan kekerasannya.
Itu menjadi pertanda. Bahwa terorisme bisa diestimasi tidak akan pernah menghentikan gerakannya di belahan bumi manapun, termasuk Indonesia, sepanjang siapapun, khususnya anak-anak perempuan berhasil direkrut menjadi bagian dari mesin gerakannya.
Seperti yang terjadi di Surabaya, terlepas motif apa yang ada dibenak perempuan itu, tetapi yang jelas organisasi terarang terorisme telah berhasil menjalankan pola rekrtumennya dengan cara menjadikan perempuan sebagai “subyek” yang dimobilitaskan untuk dijadikan mesin menjalankan misi atau menyukses targetnya.
Dalam kondisi demikian itu, maka panggilan utama untuk seluruh masyarakat Indonesia, adalah melindungi anak perempuan supaya kedepan tidak sampai terseret menjadi menjadi mesin-mesin terorisme.
Setiap elemen masyarakat harus merasa terpanggul atas kewajibannya sendiri dalam melindungi kemana akan perempuan itu dengan mengetahui atau harus benar-benat paham, ada dimana anak perempuannya, berteman dengan siapa, didik dengan cara apa di sekolah, ikut organisasi macam apa, dan lain sebagainya.
Memang seperti kata Ghibran di atas, mereka (anak-anak) adalah terlahir dari kita, tetapi mereka bukan anak kita, mereka adalah anak kehidupan atau anak-anak zamannya, namun apa yang dikatakannya ini sebenarnya mengingatkan, bahwa mereka  bisa benar-benar menjadi  anak kehidupan yang mengikuti atau “mengkiblati” arus kehidupan dimana dirinya bergaul, dimana dirinya terlibat dalam organisasi, atau dimana mereka menjalankan aktifitas kesehariannya.
Keterpengaruhan sebagian keluarga dengan cara membiarkan anak-anak perempuan  menjadi bagian dari terorisme haruslah “dilawan” secara terus menerus dengan menggalakkan pendidikan  deradikalisasi ke seluruh anak-anak, baik di sekolah maupun khususnya di lingkungan keluarga.
Keluarga harus dibangun oleh setiap orang tua untuk dijadikan “masjid” atau sekolah yang secara kontinuitas menyampaikan nilai-nilai atau doktrin pendidikan yang memanusiakan manusia secara universal kepada anak-anak perempuan, bahwa setiap gerakan pengeboman atau pembantaian merupaka praktik kekejian atas nama agama, dan bukan ajaran yang dibenarkan oleh agama.
Keluarga merupakan benteng sangat ampuh untuk membentengi anak-anak perempuan dari kemungkinan diseret atau ditaklukkan oleh kekuatan terorisme manapun di muka bumi, karena dari keluarga ini, banyak “senjata” diantaranya doktrin kebenaran, kemanusiaan, dan kebangsaan yang bisa ditransformasikan. (*)

Berita Lainnya :