Menimbang Visi Keberagamaan Mahasiswa

Oleh Dr. Ahmad Tholabi Kharlie
Wakil Dekan dan Staf Pengajar Pascasarjana UINJakarta
Dewan Hakim MTQ Mahasiswa Nasional 2017
 
Dalam sepekan ini, suasana kampus Universitas Brawijayadan Universitas Negeri Malang akan lebih ramai dari biasanya. Ribuan mahasiswa dari pelbagai Perguruan Tinggi se Indonesia, baik swasta maupun negeri, datang memenuhsesaki kedua kampus di kota Malang ini. Para calon intelektual ini datang sebagai duta dari almamaternya masing-masing untuk mengikuti momentum keagamaan terakbar mahasiswa yang dikemas dalam format kompetisi, yakni Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa tingkat Nasional untuk kali yang kelima belas. 
Dalam konteks pembinaan dan pengembangan potensi kemahasiswaan, Program Kementerian Ristek-Dikti ini harus diakui memiliki daya tarik dan nilai strategis, terlebih dalam suasana pencitraan dunia akademis, terutama mahasiswa, yang cenderung bernada minor. Meski bersifat kasuistis, namun sepakterjang mahasiswa dalam pelbagai polanya telah melahirkan beberapa pandangan pejoratif dalam amatan publik yang kian kritis. Pada titik inilah penyelenggaraan MTQ bagi Mahasiswa menjadi kian penting diperhitungkan eksistensinya.  
Mengubah pencitraan
Pada tataran ideal, mahasiswa selalu dianggap sebagai agent of social change atau kelompok yang diharapkan mampu membawa perubahan atau pencerahan bagi masa depan bangsa dan tatanan masyarakat secara makro. Namun patut disayangkan, tugas mahaberat ini masih belum sepenuhnya disadari, atau paling tidak belum mampu merasuki alam fikiran mereka. Maka tak heran jika pada beberapa komponen mahasiswa tampak lebih cenderung menunjukkan sikap pragmatis dan acuh terhadap persoalan-persoalan krusial yang terjadi pada tataran akar rumput (grassroot).
Kecenderungan sebagian mahasiswa semacam ini acapkali ditunjukkan dalam pelbagai sikap yang bersifat hedonistik, egosentrik, dan sejenisnya, yang sesungguhnya jauh dari nilai-nilai tradisi intelektual dan kecendekiawanan. Contoh gampang dapat kita sebut tawuran mahasiswa. Fenomena ini kerap muncul tidak hanya di wilayah-wilayah metropolitan tapi juga merambah pada komunitas rural. 
Fakta tersebut paling tidak menyadarkan kita tentang sesuatu yang kontraproduktif. Apa yang kita saksikan terkait sepak terjang mahasiswa menunjukkan indikasi kuat bahwa orientasi, visi, dan misi mahasiswa sebagai calon elit-elit intelektual—yang kelak diharapkan melahirkan pencerahan dalam pelbagai ranah kehidupan masyarakat—kini sudah mulai tercerabut dari akar filosofis pendidikan tinggi kita. Dari sinilah kemudian muncul pencitraan yang tidak membanggakan yang dialamatkan pada dunia kampus, khususnya mahasiswa.
Stigmatisasi publik terhadap sivitas akademika jika dibiarkan terus berlarut-larut dikhawatirkan akan melahirkan sikap skeptis atau bahkan ketidakpercayaan publik terhadap dunia akademis. Pada era reformasi, misalnya, yang diklaim sebagai era kemenangan mahasiswa dan demokrasi, telah banyak mempertontonkan realitas yang sangat menohok bahkan ironi. Coba kita hitung sudah berapa orang tokoh yang menjadi simbol intelektualisme kampus silih berganti duduk di kursi pesakitan karena dijerat dengan kasus-kasus kriminal? Dan sudahkah kita hitung pula seberapa banyak tokoh intelektual yang kemudian harus menghuni jeruji besi? Inilah sekelumit kenyataan yang dihadapi dunia akademik saat ini.
Tampaknya, harapan untuk menjadikan dunia kampus sebagai pusat keunggulan (center of exellence)dan kawah candradimuka yang menghasilkan “punggawa-punggawa” atau “kesatria-kesatria” yang cerdas, santun, dan perkasa, akan menemukan banyak batu sandungan. Oleh karena itu, paling tidak, tugas mendesak para pelaku pendidikan tinggi saat ini adalah melakukan autokritik dan segera melancarkan perubahan-perubahan mendasar, baik dalam ranah kelembagaan (institusi), orientasi pendidikan, metodologi, epistemologi, dan sebagainya. Dengan melakukan hal-hal tersebut, tentu kita semua berharap dapat membelokkan stigma atau pencitraan publik yang negatif terhadap dunia kampus.

Berita Lainnya :