Menjadi “Ulama’’ Yang Mencerahkan

Oleh Baiturrahman
Pegiat literasi dan peneliti PeaceLink Malang


Dunia intelektual Islam pernah mengantarkan manusia kepada zaman pencerahan. Zaman ini sering disebut sebagai The golden age of Islam (peradaban emas Islam). Konon katanya Renaissance Barat juga merupakan kelanjutan dari buah pemikiran Islam Abad Pertengahan, setelah Islam mengalami fase kemunduran.
Ada banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan Islam menemukan titik peradabannya. Salah satunya adalah Inklusifisme berfikir/ keterbukaan berfikir dan tradisi menghargai ilmu. Inklusifisme berpikir menjadi salah satu faktor utama mengapa Islam mampu mengekspansikan baik wilayah, doktrin keagamaan, serta khazanah keilmuan di berbagai belahan dunia.

Kala itu, semangat menggairahkan gerakan keilmuan sangat masif di belahan dunia Islam bahkan sampai seantero Eropa. Gairah inilah yang melahirkan para Ulama, Fuqoha, Filusif di tengah-tengah masyarakat Muslim. Sebut saja diantara Ulama terkenal, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Al-Farabi dll.
Seiring berjalannya waktu, gairah keilmuan Islam mulai merosot dengan ditandai tertutupnya pintu Ijtihad serta tensi politik Ulama yang tinggi (dekat dengan kepentingan kelompok). Namun, tak berarti Islam absen dari dunia intelektual. Meminjam Istilah Buya Syafe’I Ma’arif (2018) “saat tali pencekik barat sudah dipasangkan pada leher peradaban Islam, lahirlah tokoh-tokoh pembaharu seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho dll.” Hingga saat ini Islam masih mencari jati diri peradabannya di tengah-tengah modernisme yang mendominasi tubuh umat manusia.
Jika melihat penjelasan di atas, sebenarnya estafet sejarah peradaban Islam tak lekang dari peranan ulama yang  menyumbangkan ide, gagasan, pemikiran. Gagasan zaman pertengahan sangat terbuka, walupun sudah ada tradisi mazhab dalam Islam. Namun, pemikiran saat itu masih terbuka lebar untuk dikonstruksi ulang/ ditafsirkan. Bahkan salah satu madzhab yang sangat menghargai akal budi yaitu Mu’tazilah pernah menjadi mazhab utama pada zaman Dinasti Abasyiah.
Sayangnya, Islam hadir ditengah-tengah masyarakat Indonesia, saat Islam dalam fase kemunduran. Namun, bukan berarti tradisi Intelektual Islam tak tersiar di Bumi Nusantara. Banyak Ulama yang lahir di Nusantara, di antaranya Imam Nawawi Al-Bantany asal Banten, KH. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) yang mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Al-Azhar Cairo dan Universitas Nasional Malaysia.