Meretas (re)Kontruksi Identitas Indonesia

Oleh : Meinarni Susilowati
Dosen Bahasa dan Sastra Inggris
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Ada banyak hal yang menarik jika kita mengamati perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Bukan saja ada 1001 jenis perayaan, tetapi juga tingginya tingkat partisipasi berbagai lapisan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Pesta rakyat ini tidak saja digelar di tanah air, para diaspora dan pekerja imigran Indonesia tak kalah semangat dalam merayakan ‘Agustusan’ ini. Keriuhan perayaan dilakukan dalam kegiatan baik yang berdimensi heroik, historis, akademik atau pun festival.

 Secara esensial, perayaan yang digelar oleh masyarakat kita bermuara pada satu hal: menandai kemerdekaan, tentu saja dengan berbagai variasi atas interpretasi makna “kemerdekaan” itu sendiri. Rentang 72 tahun kemerdekaan Indonesia bukanlah waktu yang pendek, terlebih jika dilihat sebagai perjalanan hidup, tetapi untuk usia suatu bangsa, 72 tahun masihlah relatif muda untuk menandai kematangan  sebuah kemerdekaan. Kematangan kemerdekaan yang telah dinikmati suatu bangsa ditentukan oleh berbagai faktor dan indikator yang cenderung bersifat kualitatif, yang tentunya tidak mudah untuk dijadikan tolok ukur yang berterima.
Sejauh yang penulis ketahui, belum ada rumusan komprehensif yang konklusif  yang bisa dijadikan landasan dalam menentukan kematangan berbangsa. Salah satu penanda kematangan sebuah bangsa sesungguhnya bisa ditelisik melalui runtutan konstruksi identitas bangsa tersebut dalam mengisi makna dan nilai kemerdekaan yang telah dicapai dalam makna yang luas.
Banyak diantara kita yang gagap menjawab pertanyaan: bagaimana Anda menunjukkan identitas Anda sebagai bangsa Indonesia? Beberapa rekan menjawab dengan menyodorkan kartu identitas sebagai jawaban pragmatis. Pertanyaan sederhana tersebut sejatinya membutuhkan jawaban filosofis yang sangat substansial. Sejarah telah mencatat bahwa makna dan nilai filosofis Bhineka Tunggal Ika menjadi rujukan dalam mengkonstruksi identitas Indonesia yang  merepresentasikan sifat alamiah Indonesia yang multikultural, multibahasa dan multiagama; kemajemukan telah lama menjadi ciri khas bangsa, bahkan jauh sebelum Indonesia lahir.

Kemajemukan yang alamiah (nature) ini pun telah menjadi sandingan atas fitur sosiolinguistik yang bersifat bentukan (nurture) perjalanan bangsa Indonesia yang melahirkan ciri khas kultural masyarakat Indonesia yang toleran, ramah dan sopan. Kemajemukan tidak hanya sebuah keniscayaan manakala kita meretas konstruksi identitas bangsa Indonesia tetapi kemajemukanlah yang sesungguhnya mendasari konstruksi dan rekonstruksi  identitas bangsa Indonesia.  
Kemajemukan dan (re)konstruksi identitas bangsa Indonesia memiliki hubungan resiprokal. Kemajemukan akan membentuk runtutan (re)kostruksi identitas (trajectories of identity construction) dan, sebaliknya, (re)konstruksi identitas menandai kemajemukan. Dalam konsep postmodernism, hubungan  timbal balik ini memungkinkan terjadi karena sifat identitas yang beragam (multiple) dan cair (fluid). Artinya, secara substansial, seseorang tidak pernah memiliki identitas tunggal dan permanen.
Stuart Hall dalam tulisannya yang berjudul Representation : Cultural Representation and Signifying Practices yang diterbitkan pada tahun 1997 menjelaskan secara gamblang bahwa proses (re)konstruksi identitas terbentuk dalam konsteks sosial dan kultural yang kemudian direproduksi dan direpresentasikan dalam makna subtantif yang dikonsumsi oleh pemiliknya sebagai rujukan atas identitasnya. Siklus berkelanjutan yang bersifat resiprokal inilah yang menentukan sejarah perjalanan kematangan identitas sebuah bangsa. Identitas bangsa Indonesia tidak pernah berhenti pada sebuah rumusan karakteristik yang bersifat baku (being), tetapi terus menerus berkembang (becoming) yang sesungguhnya menandai adanya proses pematangan identitas bangsa.
Dalam konteks ini, informasi yang tercantum di kartu identitas tidak lagi cukup mewakili identitas kita sebagai bangsa Indonesia; merepresentasikan identitas bangsa Indonesia memerlukan lebih dari sekadar karakteristik diri yang bersifat permanen, tunggal dan kaku. Karena itu, identitas bangsa Indonesia akan meretas melalui tahapan rekonstruktif yang berkelanjutan sesuai dengan kondisi mikro dan makro yang melingkupi kehidupan berbangsa kita.  
Proses (re)konstruksi identitas bangsa Indonesia mengharuskan kita untuk mengkaji ulang makna kemajemukan dalam kehidupan berbangsa kita. Kemajemukan yang kita miliki saat ini bersumber pada nilai lokal yang tidak lagi bisa dimaknai secara geografis. Kemajemukan dalam beragama dimaknai tidak hanya sekedar berbeda keyakinan berketuhanan, tetapi juga cara yang bervariasi dalam merepresentasikan kehidupan ideologis teologisnya. Kemajemukan dalam berbahasa tidak lagi terbatas pada keragaman linguistik dari beratus-ratus bahasa daerah di Indonesia, tetapi juga mencakup ranah sosiolinguistik dari bahasa yang digunakan di negara lain.
Demikian pula, kemajemukan kultural kita sangat kental diwarnai oleh perkembangan kultur populer (populer culture) yang telah merasuk dalam  kehidupan kita sehari-hari. Secara kasat mata, kita menyaksikan bagaimana informasi, budaya dan nilai dari berbagai penjuru memasuki ranah pribadi dalam kehidupan kita; perangkat teknologi informasi telah mengakses secara terbuka pusat data personal yang dulu dianggap tabu bagi orang lain untuk mengetahuinya. Pertanyaan “What’s on your mind?” atau “Want to share an update, Meinarni?” memstimulasi pengguna media sosial maya untuk membuka peluang tabir personal pada ranah publik yang bisa diakses tanpa batasan waktu. Konsumsi secara masif atas nilai yang berasal dari ‘luar’ pada tataran individual ini lambat laun akan membentuk nilai lokal (localizing values) baru yang bisa saja berjarak dengan nilai lama atau malah diterima tanpa syarat sebagai sesuatu yang alamiah. Bagaimanapun tingkat keberterimaannya, hasil proses lokalitas ini sebagai dimensi baru dari identitas bangsa menunjukkan esensi kemajemukan yang terus berkembang.
Proses (re)konstruksi identitas kita dengan berbagai dimensi kemajemukannya secara dinamis akan terus membentuk runtutan sejarah identitas bangsa yang menandai proses kematangannya sebagai suatu bangsa yang telah merdeka. Kematangan identitas bangsa inilah yang akan berfungsi sebagai penyaring (filter bubbles) atas terseleksinya berbagai nilai baru yang akan diproses dalam tahapan lokalitasnya; proses yang dinamis dan menantang atas eksistensi nilai-nilai keindonesiaan kita. Dirgahayu Indonesiaku, jadilah Indonesia untuk bangsamu dan seluruh sekalian alam.

Berita Terkait