Please disable your adblock and script blockers to view this page


Meruncingkan Potensi Bonus Demografi

Oleh : Sintong Arfiyansyah
Pegawai Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan


Di Era melimpahnya jumlah kaum muda atau bonus demografi ini, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki menjadi kunci utama meningkatkan kemakmuran negeri. Bonus Demografi laksana pedang tajam yang harus digunakan dengan cukup presisi. Ketangguhan Kualitas SDM dapat mengarahkan bonus demografi menjawab tantangan globalisasi. Tetapi sebaliknya apabila tak mampu dimanfaatkan, Bonus Demografi dapat berbalik menyerang dan mengganjal perputaran roda ekonomi serta membatalkan mimpi Indonesia menjadi negara maju dan memiliki ketangguhan ekonomi.

Kegagalan memanfaatkan Bonus Demografi dapat menyebabkan banyaknya pengangguran, moral hazard dan berujung kepada kemiskinan. Jangan sampai Indonesia mengikuti Afrika Selatan dan Brazil sebagai contoh negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi. Itulah mengapa, memaksimalkan SDM dalam era bonus demografi, menjadi titik paling krusial dalam masa-masa keberlanjutan Negara besar seperti Indonesia saat ini hingga dan masa yang akan datang.
 Ketangguhan SDM dalam era bonus demografi juga menjadi harapan utama dalam meredam gelombang besar di masa mendatang yang diproyeksi penuh dengan gejolak ekonomi global akibat ekskalasi perang dagang dan proteksisme internasional. SDM juga merupakan faktor kunci untuk lepas dari jeratan Negara dengan pendapatan menengah (middle income trap) dan bertransformasi menjadi Negara maju. Tengok bagaimana hanya bermodal sumber daya manusia berkualitas tinggi, Negara maju seperti Korea Selatan, Hongkong ataupun Singapura mampu menjadi negara dengan ekonomi tangguh walaupun tanpa disokong oleh Sumber Daya Alam (SDA) yang baik. Terlebih apabila negara tersebut mempunyai SDM tinggi disertai oleh sumber daya alam yang melimpah, maka Negara itu berpotensi menjadi penguasa ekonomi laiknya Amerika Serikat ataupun China.
Kualitas SDM itu sendiri secara umum tercermin dalam Human Capital Index (HCI) atau Indeks Modal Manusia. HCI adalah indikator terbaru yang diluncurkan oleh Bank Dunia di Nusa Dua Bali Oktober tahun lalu. Indikator tersebut menjadi logika baru dalam mengukur kualitas SDM secara global setelah sebelumnya Bank Dunia menggunakan HDI (Human Development Index) untuk mengukur kualitas pembangunan SDM setiap tahun.
HCI diharapkan mampu memberikan tolak ukur yang komprehensif dalam mengakomodasi penilaian kualitas SDM karena HCI melihat SDM dari sisi pendidikan dan kesehatan dengan sudut pandang yang berbeda dibanding dengan HDI.
Menurut Bank Dunia, nilai HCI Indonesia adalah sebesar 0.53 dan berada diperingkat 87 dari 157 negara di dunia. Peringkat Indonesia kalah dibanding lima Negara ASEAN lain seperti Singapura (1), Vietnam (48), Malaysia (57), Thailand (68) dan Filipina (82). Hal ini cukup ironis mengingat Indonesia adalah salah satu anggota G-20 yang memiliki skala ekonomi besar di dunia. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas SDM Indonesia masih belum baik bahkan apabila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga.

Berita Lainnya :