Milenial, Tentukan Posisimu!


    Tak terasa, satu hari lagi pemilihan umum legislatif dan presiden beserta wakilnya akan menggema di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hiruk-pikuknya sudah tak terbendung lagi sejak berbulan-bulan yang lalu. Kedua pasangan calon (paslon) baik nomor urut 01 ataupun 02, masing-masing saling berebut suara agar memperoleh suara simpatisan yang banyak. Suara yang paling banyak diincar adalah suara para milenial. Tampak dari kedua paslon ini saling menggandeng generasi milenial di setiap kesempatan kampanye-kampanye mereka. Misalnya, menempatkan milenial sebagai kader-kader partai yang mendukung mereka, tim sukses, bahkan juru bicara dari masing-masing paslon juga berasal dari generasi milenial.
     Lantas, bagaimana respon generasi milenial terhadap pemilu kali ini? Bagaimana pula peran generasi milenial dalam menentukan posisinya dalam pemilu kali ini? Kepedulian apa yang seharusnya dimiliki oleh generasi milenial?
    Sejauh ini, banyak generasi milenial yang masih belum tahu perannya dalam pemilu kali ini, walaupun ada sebagian yang masih sangat peduli terhadap pemilu yang akan berlangsung pada bulan April ini. Pada akhirnya, bagi generasi milenial yang tidak memiliki kepedulian terhadap fakta hari ini, mereka juga tidak akan mampu merespon dengan baik apa yang sedang terjadi. Bahkan untuk mendengarkan debat pilpres di setiap sesinya, juga tak begitu diminati.
Padahal, di setiap sesi debat pilpres pasti ada informasi yang dapat digunakan dalam menentukan perannya dalam pemilu kali ini. Alasan demi alasan selalu diungkapkan generasi milenial yang “tidak memiliki kepedulian” agar tak perlu berkecimpung dalam proses politik. Mulai dari pemikiran bahwa politik itu kotor, menjijikkan, sarangnya koruptor, dan “embel-embel” yang sejenisnya. Bahkan ada pula yang sudah putus asa dengan sistem pemilu yang telah diterapkan di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun ini. Mereka yang berputus asa dengan kondisi Indonesia yang sekarang ini menganggap bahwa walaupun sudah berganti-ganti pemimpin, tetap saja masalah yang begitu banyaknya yang terjadi di Indonesia tidak akan pernah usai.
    Generasi milenial seharusnya memiliki kepedulian yang tinggi di setiap kesempatan, bukan hanya menjelang pemilu saja. Alasan pertama yang perlu diketahui adalah karena sejatinya setiap individu pasti memerlukan kehidupan bermasyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa kehidupan bermasyarakat pasti memiliki seperangkat aturan dan aturan tersebut tak bisa lepas dari politik.
Sekuat apapun seorang individu berusaha untuk menghindarkan dirinya dari urusan politik maka dapat dipastikan bahwa ia tak mampu melakukannya. Bahkan, kata Bertolt Brecht, seorang penyair dan dramawan Jerman, “buta paling buruk adalah buta politik”. Di setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pasti juga akan berdampak kepada rakyatnya. Sehingga, tidak akan mungkin seseorang hidup tanpa ada imbas dari kebijakan politik yang diambil. Jadi, sikap yang seharusnya diambil adalah “melek” politik.
Alasan kedua adalah generasi milenial adalah generasi terbanyak yang menguasai perkembangan teknologi yang sangat pesat. Bahkan, generasi milenial digadang-gadang oleh masyarakat akan membawa kontribusi positif terhadap berbagai masalah di negeri ini. Generasi milenial juga seharusnya memiliki kontrol sosial yang positif terhadap perubahan yang akan dilakukan. Dan seharusnya, generasi milenial juga mampu memberi solusi yang solutif terhadap masalah yang sedang dihadapi negeri ini.

Berita Lainnya :