Negeri ini Masih Krisis Pejuang

Oleh Bambang Satriya
Guru besar Universitas Kanjuruhan Malang  dan penulis sejumlah buku


Tokoh pembaru Cina, Mao Tze Tung,  pernah bilang “perang adalah politik yang berdarah, sedang politik adalah perang tanpa darah”. Ungkapan Mao Tze Tung ini mengingatkan manusia, bahwa  perang tidak selalu berdarah atau angkat senjata, pasalnya ada aspek lain di tengah masyarakat yang tidak harus  diselesaikan dengan  bahasa senjata dan darah. Ada banyak problem krusial yang tidak bisa diurai dengan senjata, tetapi cukup dengan pendekatan dialogis dan humanitas.
Dalam ungkapan Tze Tung itu juga diisyaratkan, bahwa dari perang atau senjata yang digunakan, ada ambisi yang bisa  diwujudkan, ada perubahan yang dijadikan sasaran, atau kepentingan besar yang dapat diraih. Masalahnya, bagaimana kepentingan besar manusia tidak harus diselesaikan dengan mengangkat senjata?

“Senjata” sekarang bukan seperti kata Tze Tung itu, atau untuk melakukan perubahan besar di negeri ini bukanlah senjata yang bisa mengeluarkan mesiu atau produk teknologi modern berkuatan mematikan secara langsung, tetapi bisa jabatan atau kekuasaan, yang karena posisi dan perannya, kepentingan fundamental bangsa bisa dipenuhi.
Di era reformasi ini, kepentingan besar yang diusung oleh setiap elemen bangsa ini tidaklah tepat jika ditegakkan dan disejarahkan dengan angkat senjata.  Agenda reformasi yang menumpuk atau belum banyak diselesaikan oleh manusia Indonesia ini, masih menunggu kehadiran pahlawan yang tidak perlu angkat senjata dengan instrumen pedang, tombak, parang, kelewang, celurit, bedil, dan nuklir, tetapi  senjata berbentuk politik (kekuasaan) sebagai perwujudan “perang tanpa darah”
Politik seperti itu pernah diajarkan oleh budayawan Kuntowijoyo sebagai “politik hati nurani”, suatu paradigma dan strategi perjuangan yang digelorakan setiap elemen bangsa, tanpa melihat dan mengagungkan strata sosial, yang pemolaan dan akselerasinya dijalankan secara berkeadaban, bukan dengan cara-cara tidak beradab dan bekebinatangan.
.Dalam tataran itu, pejuang bisa lahir dari akselerasi kegiatan setiap elemen bangsa, khususnya kalangan elitis  yang berhasil menabur dan menyuburkan keharuman untuk diri, masyarakat, dan bangsanya. Aktifitas di setiap bidang merupakan penentu, yang  membuat seseorang layak menyandang identitas pejuang.
Misalnya, perempuan yang sedang menunaikan tugas suci seperti melahirkan, yang kemudian meninggal saat melahirkan ini, oleh Tuhan diberi prediket sebagai pejuang yang “mati syahid”. Penghargaan kepejuangan dari Tuhan ini menjadi tafsir privilitas atas peran suci perempuan
Kepejuangan perempuan yang menunaikan tugas  suci tersebut bahkan dikenang oleh PBB, yang selalu menanamkan sekuntum bunga di halaman kantor PBB, yang dipersembahkan kepada perempuan-perempuan yang tidak gentar menunaikan tugas kepahlawananya di sektor domestik ini.  

Problem yang sedang menghimpit masyarakat Indonesia merupakan “wilayah” fundamental yang bisa melahirkan banyak pejuang.  Masyarakat yang dibuai dan sedang terbuai oleh janji-janji pemerintah, yang dikondisikan hidup di sebuah negeri dongeng,  masih terperosok menghayalkan dan menikmatinya, tanpa ada hasrat besar untuk merubahnya, khususnya dari komunitas elitnya.  
Tidak sedikit elite pemimpin negeri ini yang lebih pintar “mendongeng” pada masyarakat tentang makna kepejuangan, makna pembelaan terhadap tanah air,  dan pentingnya pengabdian dan keiikhlasan berkorban, tetapi mereka tidak cerdas dalam memberikan keteladanan jadi pemimpin dan penegak hukum bernafaskan keadilan.
Mereka itu hanya bisa membius dan membuai rakyat dengan kata-kata manis  norma yuridis dan bukan pembumian perbuatan yang bercorak perubahan, pembaruan, dan pencerahan kehidupan rakyat yang sedang hidup dalam pekatnya penderitaan, atau “pekatnya” jagad peradilan.
Komunitas elite pemimpin suka sekali membikin rakyat menikmati kebingungan wacana, pertarungan di level pucuk kekuatan politik, atau dongeng dari kahyangan kaum borjuis yang bisa melancong kesana-kemari, tanpa mempertimbangkan kondisi riil rakyat yang sedang dalam kondisi darurat kemiskinan atau ketidakberdayaannya.
Hasrat untuk berubah atau menggelar aksi-aksi pembaruan tampak temaram. Bagi elit politik, yang paling mengedepan barulah emosi dan egoisme kelompok, yang menuntut dimanjakan, diberi identitas, atau diperlakukan layaknya raja-raja kecil yang maniak kekuasaan dan menyalahgunakan amanat kerakyatan. Sementara bagi masyarakat, sikap dan mental yang dipertahankan hanya pasrah menerima nasib sebagai takdir sejarah, yang patut diterima, , yang merasa cukup dengan menerima atau mengenainya.
 Mereka sebenarnya bisa menjadi pejuang di bidangnya masing-masing, jika sikap, mental, dan aksi-aksi yang dilakukan benar-benar ditujukan demi kepentingan tanah air, suatu kepentingan yang berembrio dari realitas sejati problem ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, dan lainnya yang sedang menghimpit dan “menjajah” masyarakat.
“Tujuan dari kehidupan  pejuang”, kata  Albert Schwelaar (2006) adalah untuk melayani dan menunjukkan belas kasihan, serta menghasilkan komitmen menolong orang lain. Apa yang sedang diderita dan menjadi problem berat orang lain tidak dibiarkan menjadi penderitaan yang mengakut, berlapis, dan terus berlanjut, tetapi secepatnya dibaca secara cerdas sebagai segmentasi utama dari tanggungjawabnya
Pejuang itu melayani dan bahkan harus memuaskan kepentingan masyarakat. Selagi di masyarakat masih bertebaran problem akut semisal penyakit sosial  seperti kemiskinan, pengangguran, anak jalanan, putus sekolah, pelacuran, pengemisan, dan  kekerasan atas nama penderitaan, serta booming bencana, maka ini jelas  mengindikasikan kalau di masyarakat masih krisis kepejuangan yang bermakna pengabdian, etos pelayanan publik yang adil dan memanusiakan.
Kita perlu berkaca pada pemenang Nobel Perdamaian Muhammad Yunus, yang berkat peran-perannya terhadap kepentingan makro masyarakat, khususnya keberhasilannya dalam  mengurai problem ekonomi dan korupsi secara konkrit yang menghimpit masyarakat Banglades, supaya apa yang sedang, telah, dan barangkali akan kita perbuat, benar-benar riil tertuju pada apresiasi, dan ekspektasi,  dan advokasi kepentingan masyarakat.
Itu mengajarkan pada setiap orang, khususnya elitis untuk menjadi pejuang, yang berani melawan berbagai bentuk onak di hadapannya demi kemerdekaan, kesucian kemandirian, kesejahteraan, dan keadaban hidup berbangsa. Ada pengorbanan dan pengabdian sejati yang ditunjukkan, sehingga hasilnya benar-benar bisa dinikmati oleh  masyarakat secara keseluruhan.

Berita Lainnya :