Ospek, Membina atau Menjajah

 
Namanya Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) bagi para calon mahasiswa-mahasiswi baru (Maba). Lonceng Ospek  sudah dibunyikan dan sudah dijalankan oleh masing-masing kampus dengan membentuk  kepanitiaan yang bekerja ekstrakeras untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kepanitiaan biasanya akan bekerja sesuai petunjuk dan teknis (Juknis) yang dikeluarkan oleh pihak kampus lewat rektor atau pejabat tertentu. Lazimnya, Juknis yang dikeluarkan oleh otoritas kampus melalui seorang pejabat kampus, biasanya memberitahukan (mengarahkan) kepada kepanitiaan untuk dapat melaksanakan Ospek  dengan sebaik mungkin. 
Dalam artian, Ospek itu bertujuan untuk membina, membimbing atau mendampingi para calon Maba mengenai kehidupan kampus dan lain sebagainya. Bukan untuk menjadikan Ospek sebagai kesempatan untuk menjajah para Maba. Dan biasanya, kesempatan untuk menjajah para Maba, seringkali dimanfaatkan oleh senior-seniornya (baca: kakak-kakak semesternya) untuk menyiksa para Maba dengan berbagai macam cara.
Selama menjalankan Ospek tentunya kepanitiaan akan dituntut untuk dapat bekerja semaksimal mungkin sesuai Juknis tersebut. Termasuk perilaku dan tutur kata dari kepanitiaan. Apabila kepanitiaan gagal atau belum sepenuhnya menjalankan Ospek sesuai Juknis, maka biasanya akan dievaluasi di akhir kegiatan. Dan kalau setiap tahun melaksanakan, kepanitiaan selalu gagal dan atau tidak mematuhi Juknis, untuk apa kegiatan itu  dilaksanakan? 
Kenapa pihak kampus mengeluarkan Juknis pada setiap tahun ketika akan diadakannya Ospek? Karena pertama, pihak kampus menginginkan Ospek itu adalah bagian dari memanusiakan manusia sesuai motto dan visi- misi dari masing-masing kampus. Kedua, pihak kampus menginginkan adanya suasana kekeluargaan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terlahirlah manusia-manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, dan mempunyai moralitas yang baik.
Ketiga, pihak mampus tidak menginginkan adanya aksi balas dendam antara kepanitiaan (senior-seniornya) terhadap para Maba. Dan keempat, pihak kampus menginginkan agar para Maba dapat merasa nyaman dan aman ketika mengikuti proses perkuliahan dengan baik di kampus yang telah menerimanya. 
 
Ada yang Mengikat dan Mengatur 
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016, ditekankan bahwa pentingnya proses pengenalan lingkungan kampus untuk mendukung proses belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yakni menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terlahirlah manusia-manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, dan mempunyai moralitas yang baik.
Dengan hadirnya Permendikbud ini, sesungguhnya telah mengikat dan mengatur pihak kampus, agar tidak lalai dan tidak ceroboh lagi selama dan sesudah pelaksanaan Ospek. Sehingga apa yang ditargetkan dalam amanah UUD 1945 dan Pancasila, dapat tercapai sesuai harapan yang diharapkan. Ini merupakan salah satu bukti keterlibatan dan hadirnya pemerintah secara langsung lewat Permendikbud dalam mengontrol, mengikat dan mengatur jalannya Ospek di masing-masing kampus.
Artinya, menurut hemat saya, dengan dikeluarkannya Permendikbud Nomor 18 tahun 2016, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia bersama jajarannya telah bersepakat untuk mengontrol sekaligus menekan pihak kampus agar selama pelaksanaan OSPEK, hendaknya tidak memakai atau menggunakan kekerasan dalam bentuk apa pun. Karena pada hakikatnya, kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dibenarkan dalam mendidik, membina dan membesarkan manusia Indonesia.